Parade Teater Canasta
2019 hari ke-6 tanggal 28 November 2019 terasa sangat istimewa, karena
pementasnya adalah dua kelompok teater dari sekolah yang berbeda tingkatan.
Pertama dari Teater Enter SMA Muhammadiyah 1 Denpasar, dan kedua Sanggar Seni
Kelakar dari SMP Darmawiweka Denpasar.
Kedua kelompok ini
menjadi menarik pada hari itu. Karena dari sana dapat dilihat juga bagaimana
perkembangan seni pertunjukan khususnya teater pada hari ini. Pemusatanya pada
kelompok-kelompok teater di sekolah. Yang barangkali sering luput hadir untuk
dibicarakan pada pegiat teater sekolah, namun sangat tegang pada kelompok umum
di luar sekolah.
Saya tidak akan lagi
membeda-bedakan masalah kelompok teater yang produktif berproses saat
perlombaan teater atau kelompok yang terpinggirkan. Kali ini saya akan focus
dalam pembahasan terhadap proses kreatif Teater Enter, karena saya merasa ada
sebuah temuan yang coba dikembangkan oleh kelompok tersebut. Yang artinya ada
pembacaan lain soal pentas yang telah kelompok tersebut lalui, saya membaca itu
dari konsep dalam pementasan mereka.
Mereka mementaskan
sebuah drama berjudul Ba’da Maghrib, yang mereka adaptasi dari lakon drama
berjudul “Wewe Gombel” karya M.S Nugroho. Kebetulan saya sendiri sudah sempat
membaca naskahnya beberapa hari lalu saat meniatkan diri untuk menulis kelompok
ini. Yang menjadi menarik adalah terjadi suatu tawar menawar saat membawakan
naskah karya orang lain.
Baik ada penambahan
adegan ataupun pengurangan adegan. Mereka mencoba melakukan pembacaan ulang
terhadap penyesuaian konteks naskah dengan ruang tempat mereka pentas. Ada
beberapa memang yang sangat mereka rubah, semisal pada naskah aslinya ada
sebuah adegan yang menunjukan sebuah anak yang diperintah oleh ibu tirinya
untuk mengambil air di dapur dan kemudian membawakanya ke kamar.
Kamar ibu tersebut
berada di lantai dua, kemudian karena ruang canasta yang ada tidak mendukung.
Karena kebetulan tidak bertingkat dan tidak mempunyai struktur yang benar-benar
menyerupai panggung seperti panggung teater pada umumnya. Contoh semisal
panggung Ksirarnawa, Art Centre. Kemudian mereka mencoba membawakanya dengan
cara menggunakan segala ruang yang tersedia di Canasta.
Semisal ruang yang
biasanya dijadikan kamar oleh orang yang biasanya menempati canasta mereka
alihwahanakan menjadi kamar ibu tiri. Dapur canasta menjadi dapur sebagai mana
mestinya. Kemudian yang lebih menarik lagi adalah, penonton mencoba diberikan
hal pandangan baru soal menonton teater.
Teater Enter
Penonton dibagi dua
sisi, satu sisi menonton di antara kamar dan dapur. Kemudian satu sisi lagi
berada pada sekitaran halaman belakang canasta. Saya kebetulan menonton
berposisi saat itu yang dekat dengan kamar dan dapur, ada beberapa efek adegan
saya rasa sangat sampai dan efek yang ditimbulkan sangat kuat. Karena dari
padangan yang berbeda akhirnya ada cerita berbeda dari tiap penonton
menyaksikan tiap adegan.
Pun dengan demikian
ketika adegan tersebut berada di halaman belakang canasta, saya yang berposisi
di ruangan dekat kamar seperti melihat benar-benar kejadian diluar rumah. Saya
rasa ini adalah salah satu semacam cara untuk menyesuaikan keadaan naskah yang
padat menjadi lebih cair untuk
dimainkan. Dalam umur dan cara proses kreatif mereka, ini sangatlah menarik
ketika diberikan ruang bebas yang memang mereka butuhkan untuk mengembangkan
suatu ide. Karena sebelumnya saya sempat juga menonton pementasan Teater Enter
yang mirip dengan apa yang baru saja mereka pentaskan, entah apa judul
pementasan tersebut.
Tapi saya rasa mungkin
karena dia sedang senangnya dengan temuan mereka soal penggunaan ruang yang
lebih cair, akhirnya tindakan mereka pada pentas sebelumnya ditindak lanjuti
pada pementasan kemarin. Dan apalagi ketika ditambahkan dengan adanya sesi
diskusi antara pementas dan penonton yang menyaksikan.
Akhirnya saat diskusi
saya rasa akan leih intim rasanya, karena saya sadari betul bagaimana
teman-teman penonton memaklumi bahwa mereka adalah siswa yang masih sangat
mudah. Akhirnya lebih fokus pada teknis dan semacam membimbing kembali
bagaimana caranya agar menyemangati mereka kembali.
Setidaknya untuk
menyadarkan mereka kembali, bahwa pada ruang-ruang disinilah mereka akan dapat
mengembangkan ide mereka secara bebas dan mempersentasikan kembali apa yang
mereka buat. Dan melatih keberanian mereka untuk berbicara di depan publik.
Karena pada hari ini jarang sekali saya melihat khususnya dalam seni
pertunjukan teater di kalangan SMA. Tidak ada ruang berbagi atau setidaknya
memberikan timbal balik antara pementas dan penonton.
Ini saya rasa sangat
penting untuk mereka kembali melakukan proses, dan selalu melakukan proses yang
lebih detail. Atau semakin lebih banyak berkumpul dan membicarakan kembali
tentang apa yang mereka akan perbuat.
Saya ucapkan selamat
kepada teman-teman Teater Enter, selamat karena pementasanya sudah berhasil
membuat saya tersenyum. Dan saya berhasil mereka membawakan pementasan mereka,
dalam rentan umur mereka yang masih muda. Jika masih ada rasa intensitas
berproses teater yang mereka rawat saya yakin bahwa mereka akan menemukan
bagaimana caranya berproses yang baik. Terimakasih kawan-kawan Enter, teruslah
membumi dan berproses.
Dan saya rasa tidak
terlalu panjang lebar untuk membahas pementasan mereka, karena tidak ada yang
terlalu serius untuk dibahas. Lagi pula pada saat diskusi juga banyak canda
tawa yang terbangun karena banyak kebanyolan yang diciptakan dari kedua
kelompok yang akhirnya kami bahas saat diskusi. Dan terasa hangat dan sangat
santai suasanya.
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...