Ada yang memandang dengan heran. Cuek
saja sambil berlalu juga banyak. Beberapa ada yang terusik dan mulai mendekat.
Sembari mengabadikan beberapa foto, baik foto lokasi setempat yang sengaja
ingin dikunjunginya, maupun aktivitas membaca yang tumben dilihatnya.
Ada juga yang bertanya ada kegiatan
apa? Setitik harapan tampak tersaji ketika beberapa pengunjung membuka beberapa
koleksi yang ada. Wadah kardus yang sudut-sudutnya mulai robek sebagai tempat menampung
beberapa koleksi yang tersisa, memang tampak tidak elegan, namun setidaknya
mampu menimbulkan kesan yang tidak biasa. (Dalih untuk membenarkan kondisi yang
ada, aha...hah..)
Begitulah yang
terjadi pada kegiatan literasi di tempat rekreasi, tepatnya di Lahangan Sweet,
sebuah tempat perkemahan di atas bukit di Banjar Gulinten, Bunutan, Abang,
Karangasem, Bali.
Kegiatan literasi boleh jadi menjadi
kegelisahan bagi para pegiatnya. Hal ini terjadi di tengah kepungan pesatnya
perkembangan media digital dengan sisi baik dan sisi kurang baiknya. Sisi
baiknya, bagaimana memberdayakan kemajuan media digital tersebut menjadi
pendukung kegiatan literasi. Dan sisi kurang baiknya, tentu saja kemajuan
tersebut justru menjerumuskan banyak pihak, terutama generasi yang tidak siap
menghadapinya, terjerembeb pada “lubang” negatifnya.
Sedangkan secara umum, kegiatan
literasi ditanggapi beragam di berbagai kalangan. Membaca dan buku, sebagai
salah satu simbol dari kegiatan literasi, bagi beberapa orang dianggap kegiatan
yang mewah. Membeli dan mengoleksi buku sepertinya enggan dilakukan oleh
masyarakat yang berada di daerah pedesaan dan pedalaman, kalaupun ada,
persentasenya sangat kecil. Ada rasa sungkan bagi banyak kalangan di pedesaan
untuk mengoleksi buku. Bukan hanya kendala ekonomi, terlihat mencolok dan takut
dianggap terlalu wah, menjadi salah satu alasannya.
Literasi di Lahangan Sweet, Bukit Gulinten, Karangasem, Bali
Di kalangan masyarakat perkotaan,
kebiasaan membacakoran dan buku, sedikit telah disita oleh gadget dengan
beragam info yang selalu berkembang sepersekian detik. Baik itu yang isinya
fakta ataupun hanya bohongan belaka. Sementara itu, buku dan membaca masih
menjadi momok yang tidak mengenakkan bagi sebagian besar pelajar.
Tidak kalah memprihatinkannya, di
kalangan pendidik, masih banyak pula yang menjadikan buku sebagai barang mewah;
sulit untuk mengoleksinya. Atau bahkan enggan? Kemampuan untuk memberikan
materi yang disediakan pada buku ajar yang harus diselesaikan setiap semester,
seolah sudah cukup menunjukkan profesionalisme dalam mengajar. Sedangkan
kegiatan yang terkait dengan membaca buku dan embel-embelnya, seolah bukan hal
yang penting. Tidak atau belum diwajibkan?
Kita bisa cek status media sosial
semua kalangan tersebut di atas, lebih banyak unggahan sepiring nasi dengan
ragam lauknya, dibandingkan dengan unggahan kegiatan membaca atau menulis
sebagai sebuah kegiatan literasi.
Ditengah kesibukan kerja dan semua kondisi
kegiatan literasi yang tampaknya masih memprihatinkan di semua kalangan, ada
suatu kegiatan yang rutin atau tidak, pasti dilakukan: rekreasi.
Membawa kegiatan literasi ke tempat
wisata, boleh jadi suatu hal yang memberi jalan bagi pengenalan kegiatan
tersebut. Hal ini terutama bagi para pengunjung lokal. Pengunjung tersebut,
terutama yang masih muda, tentu saja mulai harus diarahkan untuk tersadar bahwa
kegiatan literasi yang berawal dari kegiatan membaca, sangat penting bagi masa
depannya.
Tempat-tempat wisata yang menyajikan
sarana untuk selfie, tampaknya menjadi sasaran yang amat bagus bagi mereka yang
tergerak dan berani melakukannnya: Menyajikan kegiatan literasi di tempat
wisata. Tentu saja tempat-tempat yang disasar adalah tempat rekreasi yang
bersifat umum, sehingga tidak menjadi pengganggu bagi pengelola, bagi yang
swasta. Tempat-tempat rekreasi yang dikelola masyarakat dan berada di daerah
pedesaan dan pedalaman menjadi sasaran yang paling relevan. Selain bagi
pengunjung, keberadaan lapak dan kegiatan literasi, diharapkan menarik
perhatian masyarakat sekitarnya yang selama ini jarang dijamah hal tersebut.
Tentu pelaksanaannya tidak semudah yang
dibayangkan. Mengundang anak-anak sekolah untuk datang dan melakukan kegiatan
membaca di tempat yang ramai dikunjungi, (sebagai salah satu contoh) memberikan
rasa canggung bagi peserta. Membuat pula beragam reaksi bagi pengunjung.
Akan tetapi, kegiatan serupa ini
perlu diupayakan untuk semakin menggaungkan gema literasi yang sudah dimulai sejak
empat tahun terakhir ini. Pendidik dan pegiat, adakah kreasi untuk melakukan
hal tersebut? Mari mulai bersama! [T]
SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna serta Ketu...
DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari Kabupaten Buleleng tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bal...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan di kawasan Gedong Kirtya, Sin...
PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang murung, keduanya kembali bertemu ket...
“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya.
Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru saja pulang kerja mendapat pesan Instagram dari t...
PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita?
Sungguh menarik mengamati bagai...
TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penuli...
LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan seni karawitan Bali. Ajang ini tidak ha...
BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade) Busana Adat pada Pesta Kesenian Bal...
Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman
TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari tersebut sebagai In...