“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
Ada yang memandang dengan heran. Cuek saja sambil berlalu juga banyak. Beberapa ada yang terusik dan mulai mendekat. Sembari mengabadikan beberapa foto, baik foto lokasi setempat yang sengaja ingin dikunjunginya, maupun aktivitas membaca yang tumben dilihatnya.
Ada juga yang bertanya ada kegiatan apa? Setitik harapan tampak tersaji ketika beberapa pengunjung membuka beberapa koleksi yang ada. Wadah kardus yang sudut-sudutnya mulai robek sebagai tempat menampung beberapa koleksi yang tersisa, memang tampak tidak elegan, namun setidaknya mampu menimbulkan kesan yang tidak biasa. (Dalih untuk membenarkan kondisi yang ada, aha...hah..)
Begitulah yang terjadi pada kegiatan literasi di tempat rekreasi, tepatnya di Lahangan Sweet, sebuah tempat perkemahan di atas bukit di Banjar Gulinten, Bunutan, Abang, Karangasem, Bali.
Tentang Lahangan Sweet, Bisa Baca:
Kegiatan literasi boleh jadi menjadi kegelisahan bagi para pegiatnya. Hal ini terjadi di tengah kepungan pesatnya perkembangan media digital dengan sisi baik dan sisi kurang baiknya. Sisi baiknya, bagaimana memberdayakan kemajuan media digital tersebut menjadi pendukung kegiatan literasi. Dan sisi kurang baiknya, tentu saja kemajuan tersebut justru menjerumuskan banyak pihak, terutama generasi yang tidak siap menghadapinya, terjerembeb pada “lubang” negatifnya.
Sedangkan secara umum, kegiatan literasi ditanggapi beragam di berbagai kalangan. Membaca dan buku, sebagai salah satu simbol dari kegiatan literasi, bagi beberapa orang dianggap kegiatan yang mewah. Membeli dan mengoleksi buku sepertinya enggan dilakukan oleh masyarakat yang berada di daerah pedesaan dan pedalaman, kalaupun ada, persentasenya sangat kecil. Ada rasa sungkan bagi banyak kalangan di pedesaan untuk mengoleksi buku. Bukan hanya kendala ekonomi, terlihat mencolok dan takut dianggap terlalu wah, menjadi salah satu alasannya.

Di kalangan masyarakat perkotaan, kebiasaan membacakoran dan buku, sedikit telah disita oleh gadget dengan beragam info yang selalu berkembang sepersekian detik. Baik itu yang isinya fakta ataupun hanya bohongan belaka. Sementara itu, buku dan membaca masih menjadi momok yang tidak mengenakkan bagi sebagian besar pelajar.
Tidak kalah memprihatinkannya, di kalangan pendidik, masih banyak pula yang menjadikan buku sebagai barang mewah; sulit untuk mengoleksinya. Atau bahkan enggan? Kemampuan untuk memberikan materi yang disediakan pada buku ajar yang harus diselesaikan setiap semester, seolah sudah cukup menunjukkan profesionalisme dalam mengajar. Sedangkan kegiatan yang terkait dengan membaca buku dan embel-embelnya, seolah bukan hal yang penting. Tidak atau belum diwajibkan?
Kita bisa cek status media sosial semua kalangan tersebut di atas, lebih banyak unggahan sepiring nasi dengan ragam lauknya, dibandingkan dengan unggahan kegiatan membaca atau menulis sebagai sebuah kegiatan literasi.
Ditengah kesibukan kerja dan semua kondisi kegiatan literasi yang tampaknya masih memprihatinkan di semua kalangan, ada suatu kegiatan yang rutin atau tidak, pasti dilakukan: rekreasi.
Membawa kegiatan literasi ke tempat wisata, boleh jadi suatu hal yang memberi jalan bagi pengenalan kegiatan tersebut. Hal ini terutama bagi para pengunjung lokal. Pengunjung tersebut, terutama yang masih muda, tentu saja mulai harus diarahkan untuk tersadar bahwa kegiatan literasi yang berawal dari kegiatan membaca, sangat penting bagi masa depannya.
Tempat-tempat wisata yang menyajikan sarana untuk selfie, tampaknya menjadi sasaran yang amat bagus bagi mereka yang tergerak dan berani melakukannnya: Menyajikan kegiatan literasi di tempat wisata. Tentu saja tempat-tempat yang disasar adalah tempat rekreasi yang bersifat umum, sehingga tidak menjadi pengganggu bagi pengelola, bagi yang swasta. Tempat-tempat rekreasi yang dikelola masyarakat dan berada di daerah pedesaan dan pedalaman menjadi sasaran yang paling relevan. Selain bagi pengunjung, keberadaan lapak dan kegiatan literasi, diharapkan menarik perhatian masyarakat sekitarnya yang selama ini jarang dijamah hal tersebut.
Tentu pelaksanaannya tidak semudah yang dibayangkan. Mengundang anak-anak sekolah untuk datang dan melakukan kegiatan membaca di tempat yang ramai dikunjungi, (sebagai salah satu contoh) memberikan rasa canggung bagi peserta. Membuat pula beragam reaksi bagi pengunjung.
Akan tetapi, kegiatan serupa ini perlu diupayakan untuk semakin menggaungkan gema literasi yang sudah dimulai sejak empat tahun terakhir ini. Pendidik dan pegiat, adakah kreasi untuk melakukan hal tersebut? Mari mulai bersama! [T]
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...