Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Beberapa orang menyapa penonton dengan sopan namun meneror telinga. Ketika penonton baru masuk hingga penonton sudah duduk diberi salam yang sama dan berulang-ulang. Seolah, ruangan dipenuhi basa-basi pendek, “Kanggiang, nggih”. Salam yang diulang-ulang itu seperti hanya penyesuaian dengan judul pementasan “Kebelet (wiwaha)”. Namun, saya terlalu buru-buru, barang kali kebelet menafsirkan. Ada hal yang rupanya ingin dibangun pada diri penonton.
Halaman di Canasta Creative Space yang cukup luas, pada pementasan “Kebelet (Wiwaha)” tanggal 25 Nopember 2019 yang disutradarai oleh Heri Windi Anggara itu dipersempit dengan kain hitam yang mengelilingi sekaligus membentuk panggung. Sementara suasana yang dibangun seperti halnya pada resepsi pernikahan. Lampu kelap-kelip yang digantung tepat di atas panggung, bambu-bambu, botol yang dibuat seolah melayang di beberapa sudut, dan kentungan. Namun, yang berbeda adalah sebuah kurungan digantung tepat di tengah-tengah panggung. Tak ada panggung khusus, pun tempat khusus penonton.
Pementasan kebelet kedua ini rupanya tidak sepenuhnya sama dengan pentas kebelet yang dimainkan sebelumnya. Bila pada pementasan sebelumnya penonton disuruh untuk menutup mata sehingga fokus pada indra pendengaran dan membangun pementasannya sendiri secara imajinatif, kali ini tidak. Meskipun, pementasan tetap ada pada ranah privat penonton sebebagai pelaku.
Setelah penonton masuk dan diteror dengan basa-basi, penonton diajak bermain. Mula-mula seorang pemain yaitu Jacko Wahyu Rizki masuk kemudian menari. Seketika pemain lainnya masuk ke panggung yang tanpa batas penonton itu untuk bermain memukul properti di panggung yang sudah disiapkan untuk menjadi instrument musik. Lalu satu per satu pemain menarik penonton. Semua terlibat bermain musik sesuka hati. Memukul bambu, kursi besi, ketungan, dan botol yang dibuat seolah melayang itu.

Awalnya memang diberi instruksi ketukan oleh beberapa pemain untuk penonton yang terlibat, tetapi kemudian seseorang memberi aba-aba untuk memainkan lebih keras, lebih meletup lagi. Ketika itu tiba-tiba seseorang seperti mekidung yaitu IGA Darma Putra dan Jong Santiasa Putra. Di tempat yang berbeda, seseorang bermain gitar nois. Ruangan menjadi riuh. Penonton kemudian diajak menari bebas melingkari sebuah batu yang ditumpuk di tengah. Suasana seperti mecaru. Saya pikir inilah “kebelet”.
Kebelet yang saya maksud barangkali tidak hanya berkonotasi toilet, kebelet saya artikan ingin mengeluarkan sesuatu yang tertahan untuk segera. Dalam hal ini, emosilah yang kebelet itu. Di awal, salam yang memenuhi ruangan itu adalah usaha untuk membuat penonton merasa kesal atau enek. Tetapi bermain musik secara bebas itu adalah media pelepasnya.
Saya seketika ingat dengan seorang pencuriga akut, Sigmund Freud yang mencurigai bahwa masyarakat itu libidinal. Semua hal beralaskan seks. Hasrat seksual itu memerlukan penyaluran. Namun dalam hal ini, kaitannya pada emosi. Rupanya emosi sama seperti seks yang dikatakan Freud, perlu pelepasan. Kesal yang dibangun di awal pentas seolah untuk menyadari perlunya pelepasan itu.
Seperti halnya dengan pemahaman umum tentang mecaru yang sering saya dengar dari mulut ke mulut. Mecaru adalah mengusir bhutakala, atau yang lebih sopan menetralisir bhutakala. Saya pun curiga, jangan-jangan bhutakala yang dimaksud dan diusir itu tidak perlu dicari ke mana-mana, tetapi ada di dalam diri. Sementara mecaru yang umunya dilakukan dengan berteriak, memukul kentungan atau alat musik lainnya adalah sebuah penyaluran akan bhutakala yang ada di dalam diri sendiri. Pelepasan hasrat, peluapan emosi, menetralisir buthakala.
Pada konteks wiwaha atau pernikahan, saya memahami keriuhan sebagai sebuah stasiun. Maka dari itu, ucapan klise ketika seseorang menikah adalah menempuh hidup baru. Bila keriuhan dan keterlibatan di dalamnya adalah usaha membangun dan melepas kebelet, maka saya yakin dengan ungkapan katarsis atau penyucian diri pada sebuah ritual. Sedikit tidak, melepas emosi menyebabkan kelahiran baru, sebuah perjalanan dari satu stasiun ke stasuin lainnya.
Setelah semua keriuhan itu berubah menjadi sunyi, rupa-rupanya seseorang telah merekam bunyi-bunyi tadi. Bunyi itu diputar dan lampu dipadamkan. Yang terlihat hanya sebuah kepala yang terbuat dari kertas ditarik ke tengah sembari gitar yang menciptakan musik seolah mengantar untuk memutar ke waktu yang telah berlalu. Pada bagian ini, penonton diajak merefleksi keriuhan yang rupa-rupanya menjadi media katarsis.
Pertunjukkan berjalan lancar. Musik riuh juga adengan sepi. Namun, diskusi tidak berjalan sampai akhir sebab seorang warga datang untuk memotong diskusi. keriuhan itu rupa-rupanya membuat tetangga merasa terganggu. [T]
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...