TANAH liat yang dibentuk serupa manusia itu saling
bertumpuk. Sengkarut meniti tangga. Manusia-manusia liat itu berebut,
bertempuk, menuju sebuah mangkuk tanah liat yang di dalamnya terdapat air.
Di dalam mangkuk itu, sejumlah manusia-manusia liat lainnya
tenggelam. Beberapa lainnya masih mampu timbul, setelah menginjak manusia liat
lainnya.
Mangkuk dan manusia tanah liat itu, merupakan bagian dari
karya seni rupa yang dibuat Luh Suartini, dosen seni rupa Universitas
Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja. Karya itu diberi judul Berebut Tempat
Basah (2019, stoneware, variable dimension).
Lewat karya itu, Suartini berusaha menunjukkan kondisi
kekinian, tatkala para pekerja negeri maupun swasta, berusaha berebut tempat
yang dianggap “basah”. Padahal “tempat basah” itu bisa saja jadi sumber petaka.
Pekerja bisa tenggelam dalam pekerjaan yang tak pernah berakhir, atau tenggelam
dalam masalah korupsi.
Luh Suartini adalah salah satu dari 10 dosen jurusan
pendidikan seni rupa Undiksha yang menyelenggarakan pameran, di Ruang Galeri
Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha. Pameran itu dibuka Wakil Rektor III
Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Suastra, pada Rabu (27/11/2019).
Pameran Seni Rupa karya dosen Undiksha Singaraja
Adapun sembilan dosen lain yang terlibat dalam pameran yakni
Hardiman, Mursla, I Nyoman Sila Agus Sudarmawan, Gede Eka Harsana Koriawan, I
Ketut ‘Kumis’ Sudita, I Gusti Nengah Sura Ardana, I Wayan Sudiarta, I Nyoman
‘Polenk’ Rediasa, dan I Made Susanta Dwitanaya. Mereka akan menggelar pameran
bersama, hingga 11 Desember mendatang.
Karya-karya yang dihadirkan tak melulu karya seni lukis.
Memang karya lukis sangat mendominasi. Tercatat ada 20 karya lukis yang
dipamerkan. Namun ada pula sejumlah karya lain. Seperti kriya keramik yang
dibuat Luh Suartini, instalasi yang dibuat Agus Sudarmawan, kriya kayu yang
dibuat oleh I Nyoman sila dan I Ketut Sudita, dan fotografi yang dibuat oleh
Mursal.
Dalam hal karya lukis, berbagai gaya ditampilkan. Ada yang
menampilkan gaya realis seperti yang dihadirkan I Gusti Nengah Sura Ardana,
gaya surealis, maupun abstrak.
Sura Ardana, sengaja menghadirkan karya-karya yang bersifat
realis. Sejumlah wajah sepuh, dihadirkan pada karya-karyanya. Tengok saja karya
berjudul Lapuk Itu Indah (2019, cat minyak pada kanvas, 150x250 cm). Pada karya
itu, ia menghadirkan sesosok pria tua bertopi biru yang duduk di balik jendela.
Pria itu menghadirkan ekspresi yang misterius, entah tersenyum, atau sama
sekali tanpa ekspresi.
Sura mengaku sebelum berkarya, ia selalu mencari objek untuk
dipotret. Objek itu kemudian ia terjemahkan dalam bentuk karya, yang bahkan
sangat mendetail. Dalam hal wajah para sepuh, ia menghadirkan seluruh bentuk
kerutan di wajah hingga leher. Bahkan kondisi lapuk di kusen jendela, dihadirkan
secara presisi.
“Bagi saya, wajah itu misteri dari seluruh bagian tubuh
kita. Kalau marah, maka akan terlihat gesture seperti marah,” katanya.
Lukisan abstrak karya Hardiman juga tak kalah menarik
dicermati. Melalui karyanya yang berjudul Mereka Bilang (2019, cat akrilik dan
bolpoin pada kanvas, 100x130 cm), Hardiman menghadirkan abstraktif, stilatif,
dan naratif dalam satu bingkai lukisan. Ketiga unsur itu sebenarnya unsur-unsur
yang disharmonis. Namun bisa saja menjadi sebuah karya yang harmonis saat
disatukan.
Saking disharmonisnya, ada dua kanvas yang dijadikan dalam
satu bingkai lukisan. Kanvas utama, terdapat unsur abstraktif dan stilatif.
Sementara unsur naratif, dihadirkan pada kanvas berukuran 30x40 cm yang
terletak di tengah-tengah lukisan utama. Kanvas berukuran kecil ini, digambar
menggunakan bolpoin yang menghadirkan narasi tentang kekacauan kondisi kini.
“Saya coba gabungkan unsur-unsur yang tidak harmonis ini
sebagai harmonis. Secara keseluruhan, apakah lukisan ini bisa dinikmati? Bisa ya,
bisa tidak. Tergantung subjektifitas apresiator. Bisa dibilang lukisan saya ini
seperti rujak. Menghadirkan aneka macam rasa buah, ada rasa pedasnya juga, tapi
bisa dinikmati,” jelasnya.
Karyanya yang lain, yang berjudul Seri Sepuluh Abstraksi
Unggas (2019, cat akrilik pada kanvas, 30x40 cm) juga sempat memunculkan
perdebatan. Setidaknya bagi pengunjung yang menyaksikan pameran itu.
Pada lukisan itu, Hardiman menghadirkan sembilan panel
lukisan yang terdiri dari abstraksi terhadap burung jalak. Pada awalnya, ia
berusaha menghadirkan lukisan yang sangat mirip dengan burung jalak. Namun
dalam proses, Hardiman melakukan improvisasi.
“Ketika berproses saya nggak
ingat lagi sedang buat jalak. Jalak hanya titik berangkat saja. Selanjutnya
yang berkembang adalah persoalan visual. Persoalan bentuk garis, bidang, dan
warna,” ungkap pria yang juga dikenal sebagai kurator pameran itu.
Perdebatan yang muncul pada karya Seri Sepuluh Abstraksi
Unggas ini, bermula dari jumlah lukisan yang dihadirkan. Hanya ada sembilan
panel lukisan yang dihadirkan. Sementara judul lukisan, adalah Seri Sepuluh
Abstraksi Unggas.
Kemana lukisan kesepuluh? Saya dan beberapa pengunjung
sempat berusaha memaknai dan mencari lukisan kesepuluh itu. Caranya dengan
melihat lukisan itu dari jauh, dan “membingkai” kesembilan lukisan itu menjadi
lukisan kesepuluh.
Apakah memang itu lukisan kesepuluh? “Nggak sih. Sebenarnya ada lukisan kesepuluh. Tapi karena saat display, jadinya kelihatan jelek, akhirnya saya bawa pulang. Lukisan yang kesepuluh ada di rumah,” jawab Hardiman. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...