Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
____
Sir Isaac Newton, dari ungkapannya di atas, sungguh serius hendak melepaskan dirinya dari segala dogma, tradisi atau sekadar etik jika semua itu dapat mengganggu kejernihan pikirannya. Baginya, segala misteri alam semesta jauh lebih menarik hati dan keinginannya. Menjelajah dan menemukan nilai kebenaran setiap fenomena dapat membawanya pada kenikmatan hidup dan rasa kagum pada alam semesta. Spirit ini membuatnya sedemikian peka dan peduli pada hal-hal kecil yang mungkin bagi yang lain dapat terabaikan begitu saja.
Demikianlah, pada suatu saat, wabah pes melanda London yang memaksa kampus tempatnya kuliah, Cambridge University ditutup sementara. Pada masa liburan itulah, saat ia duduk-duduk santai di halaman rumahnya dalam suasana pedesaan yang asri, ia telah melihat sebuah apel jatuh ke tanah. Ada juga yang menyebut apel itu menjatuhi kepalanya. Kejadian kecil dan sederhana itulah, diluar dugaan setiap orang, telah menandai lahirnya sebuah teori masyur yang dikenal sebagai hukum gravitasi.
Hukum ini bahkan memberi dampak hingga perhitungan fisika pendaratan manusia di bulan. Asal mula sederhana yang menuntun manusia pada ketinggian sebuah maha karya. Walau sedemikian besar penghargaan atas kecemerlangan penemuannya, hatinya tak segan-segan untuk merunduk rendah seakan ikut pula tertarik hukum gravitasi temuannya. Ia sedari awal menekankan kepada pengikut teorinya, untuk memandang alam semesta hanya sebagai mesin, seperti jam besar. Dia mengatakan, gravitasi menerangkan gerakan planet-planet, namun tidak dapat menerangkan siapa yang menggerakkannya pertama kali.
Tuhan mengatur semua hal dan mengetahui apa saja yang ada atau dapat dilakukan. Dalam sisi humanisme ia pun berpendapat satire, “Kita terlalu banyak membangun dinding, dan tak cukup banyak membangun jembatan.” Mungkin ini terkait dengan berbagai gejala egoisme personal atau kelompok dalam bidang sosial maupun sains yang disadarinya telah menciptakan sekat-sekat diantara masyarakat saat itu. Banyak hal yang telah diajarkan oleh Newton yang dianugerahi gelar Sir oleh kerajaan Inggris yang wajah dan gaya rambutnya sangat mirip dengan vokalis band heavy metal terkenal Led Zeppelin, Robert Plant ini.
Anehnya, saat ini sebagian dari kita begitu terpesona dengan daya tarik langit dan seakan-akan menafikan sang bumi dengan gaya gravitasinya. Entah ia dalam makna harfiah maupun simbolik. Lihatlah AS yang berjibaku ingin menggapai Mars namun kebijakan luar negerinya kerap mendapat kecaman dari dunia internasional. Iran adalah negara yang saat ini terpuruk secara ekonomi akibat embargo AS. Ia boleh disebut sebagai korban kekejian perseteruan geopolotik yang bahkan diperuncing oleh sesama bangsa Arab sendiri, seperti Saudi dan sekutunya. Demikian pula fenomena Korea Utara yang begitu ambisius, telah mengorbankan kesejahteraan rakyatnya demi kedigjayaan nuklir. Maka tak berlebihan jika Newton dalam gagasan visionernya melihat manusia terlalu banyak membangun tembok ketimbang jembatan.
Lalu tengoklah ISIS, mereka seakan-akan sudah tak hidup di bumi lagi. Pikiran, hati, kata-kata dan sikap mereka segala-galanya adalah tentang surga. Sedemikian absolut doktrin mereka hingga merasa benar memberangus yang lain atas perintah Tuhan demi surganya tak terbagi oleh yang lain. Dan Newton pastilah keheranan dalam istirahat tenangnya di Westminster Abbey, kaum radikalis bukan cuma orang-orang konservatif yang mabuk agama saja, melainkan juga orang-orang modern terpelajar. Sepertinya mereka butuh belajar hukum gravitasi lebih banyak agar cara beragamanya lebih membumi dan humanis. Saat agama sudah menjadi jembatan antar sesama manusia, sepertinya tak lagi menjadi penting apakah ada surga atau tidak, apakah ada Tuhan atau tidak. Karena apa gunanya agama dan Tuhan jika kita menciptakan neraka peperangan dan iblis pemenggal sendiri?
Ibu pertiwi, keelokan nama itulah yang disematkan pada bumi kita dengan daya tariknya yaitu gaya gravitasi ini. Kita bebas mengungkap segala misteri yang tersembunyi dalam setiap elemen alam semesta. Entah dengan penemuan-penemuan di bidang sains atau dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan analisa metafisika. Itu sah-sah saja.
Bukankah penciptaan alam semesta pun hingga kini menjadi sebuah misteri? Tidakkah kita sadar, pernah setinggi apapun kita, raja-raja, artis paling terkenal, guru besar terhebat atau penjahat paling licik, suatu saat semua terbenam dalam pelukan ibu pertiwi. Ia pun memancarkan gaya gravitasi untuk semua dengan adil. Baik kepada dedaunan kering, pun untuk meteor yang akan menuju kematian.
Harusnya bumi yang kita pijak inilah menjadi penununtun hidup agar tercipta harmoni dengan alam dan sesama mahluk hidup. Kita punya kesempatan menciptakan surga di bumi yang sedemikian indah ini agar langit tak lagi menjadi rebutan. Agar ia tenang memancarkan keindahan cahaya rembulan dan kehangatan sinar mentari untuk menyempurnakan surga yang telah tercipta di bumi, ibu pertiwi. [T]
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Or...
TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sej...
KALAU seseorang dinilai bicara panjang lebar tetapi tak ada isinya, lazimnya orang itu disebut mengumbar omong kosong. Orang macam begini dianggap lebih buruk tinimbang seorang pen...
KAMPUS adalah tempat kaderisasi bagi para pemimpin bangsa dan negara. Di suatu negara kita mengenal adanya pemerintahan, pada umumnya pemerintahan diselenggarakan dan dijalankan ol...
“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu h...
UNTUK yang ketiga kalinya, saya menginjakkan kaki di Desa Mausamang Kiralela di Kecamatan Alor Timur, NTT. Bersahabat lebih dekat dengan desa ini membuat saya kecanduan untuk pergi...
ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terben...
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku ……. TIAP kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau mencermati teksnya, saya selalu te...
MUNGKIN banyak yang belum tahu bahwa salah satu putra Buleleng ikut berperan dalam terbentuknya Republik Indonesia. Namanya, Mr. I Gusti Ketut Pudja. Dia menjadi satu-satunya waki...