Di Indonesia, grup lawak yang
biasa main di panggung, lalu main juga di film layar lebar, adalah hal biasa.
Dulu, sekitar tahun 1970-an, pelawak yang tergabung dalam Kwartet Jaya dengan
bintang Bing Slamet, Darto Helm, Soleh dan Bagio, sudah biasa main di panggung,
lalu beradegan di film dan juga masuk TV.
Tahun-tahun berikutnya ada
kelompo lawak dari kampus, yakni Warkop Prambors yang dibentuk oleh Nanu (Nanu Mulyono), Rudy
(Rudy Badil), Dono (Wahjoe Sardono), Kasino (Kasino Hadiwibowo) dan Indro
(Indrodjojo Kusumonegoro) juga meramaikan dunia layar lebar. Awalnya mereka ngelawak di radio dan
sesekali dalam acara kampus.
Tradisi
pelawak ke dunia film kemudian menjadi hal sangat lumrah. Para anggota
Srimulat, meski tak boyongan dalam satu grup, juga kerap wara-wiri dari
panggung ke film layar lebar, dan tentu saja ke televisi juga.
Nah,
di Bali, grup lawak melompat ke dunia film layar lebar mungkin tak banyak,
meski mereka juga kerap masuk TV, terutama TV lokal. Film, selain punya
karakter yang sangat berbeda dengan panggung nyata, juga memerlukan ongkos
produksi yang mahal.
Dengan begitu, kabar bahwa kelompok Celekontong Mas yang terdiri dari Sengap, Sokir dan Tompel, akan melompat ke panggung film layar lebar, bisa disebut sebagai hal baru dalam dunia perlawakan di Bali.
Dalam acara jumpa media di Warung
Celagi ,Kesiman, Senin (12/11), para bintang lawak Bali dan kru film telah menjelaskan berbagai hal yang
akan dilakukan dalam penggarapan film itu. Setleha pemaparan itu, kita kini
hanya bisa menunggu prosesnya, apakah alih wahana dari panggung lawak ke film
layar lebar itu akan berlangsung sukses. Jika di panggung Sengap, Sokir dan
Tompel, begitu lancar dan cair berimprovisasi dengan tingtang dan pingpong
dialog yang hidup dan bikin gerrrr, apakah dalam film hal itu bisa juga
dilakukan. Inilah yang kita tunggu.
Siara Pers
Dalam siaran pers di Warung
Celagi itu, disebutnya Kelompok Celekontong Mas terbentuk pada
tahun 2012. Mereka sukses mengeksplorasi
daya kreatif cerminan mereka yang mendayagunakan kekuatan intuisi dan imajinasi
serta dilandasi oleh proses berfikir kreatif dan holistik.
Mereka terjun membawa lawakan pada era
disrupsi ini dimana membutuhkan
pendalaman wawasan dan pengetahuan tinggi. Clekontongmas yang terdiri dari
Tompel, Sengap dan Sokir telah mampu menjawab tantangan tersebut. Kecerdasan
dalam mengolah lawakan menjadikan mereka memiliki nilai massa tinggi sebagai
komedian papan atas di Bali. Berkat ketenaranya di atas panggung tradisi itulah
kini mereka mencoba menjajal olah akting di dunia film layar lebar. Filmnya berjudul Nyi Rimbit.
Sanur Cinema Comunity (SRCO) bekerjasama
dengan DNJ Production sebagai komunitas filmmaker di Bali turut andil dalam
proyek yang meski diisi pelawak, namun proyek itu sesungguhnya amat serius.
Berbekal pengalaman dan latar belakang ilmu, komunitas ini berencana menjawab
tantangan dan keinginan penonton untuk menghadirkan Clekontongmas dalam layar
film.
“Sebuah
gagasan mengangkat cerita jenaka yang dikonsep oleh Dedi alias Tompel, yang
mengangkat seputar penyalonarangan," kata Ketut Hery Budiyana selaku
Produser Eksekutif , disela jumpa media, di Warung Celagi ,Kesiman, Senin
(12/11).
Dijelaskan, sebuah langkah awal, menggarap
film layar lebar didahului membuat teaser, dan telah rampung . "Target
film ini dimana proses produksi bisa selesai Bulan November ini sedangkan Maret
2020 mudah mudahn bisa selesai dan disaksikan oleh pecinta film di Bali, bahkan
mampu berbicara di tingkat nasional," ungkapnya.
Konsep cerita lebih pada komedia horor,
jadi 60 persen komedi sisanya memang megangkat sisi horor tentang
penyalonarangan. "Kita memang melibatkan para artis , seniman yang
memiliki segmentasi penggemar cukup banyak,
yang kiprahnya di dunia peran tidak diragukan lagi, meski demikian
secara penerapan dunia pera sangat berbeda,
antara peran di atas panggung dengan peran di layar lebar," bebernya.
Hal senada disampaikan Sutradara Ida Bagus
Hari Kayanan Putra , alasan mempopulerkan kembali kisah cerita rakyat Bali
karena saat ini tradisi lisan sudah mulai ditinggalkan. Untuk itu kisah mistis calonarang dipadu
kocaknya aksi dengan kocaknya aksi comedian Clekontongmas diangkat dalam layar
lebar film berjudul “Clekontongmas The Movie – Nyi Rimbit” dengan genre horror
komedi.
Produksi film berlokasi di Desa Bayung
Gede Kintamani Bangli yang nantinya melibatkan pemuda pemudi Bali sebanyak 40
orang. ”Kami ingin membuktikan bahwa truna-truni Bali juga bisa unjuk gigi
dalam persaingan film di kancah nasional, dan kami berbangga karena hasil
produksi saat ini teaser kami khususnya pasca produksi 100% dikerjakan di Bali
oleh teman-teman kami, ” tegas Gus Hari.
Sementara itu, Sengap, Sokir dan Tompel
mengaku kiprah di dunia film sejatinya menjadi impian mereka sejak lama. "Cita-cita
membuat film dari dulu sudah ada, namun banyak halangan dan kesibukan yang
mrmgganjal, yang akhirnya baru kali ini
ada tawaran membuat film, kita sambut baik, mudah mudahan proses pembuatan
berjalan dengan lancar," kata Tompel yang diamini Sengap, Sokir, Mbo Kembung dan Mbo Cablek yang memang
tergabung di wadah Celekontongmas.
Ketut Hery menambahkan film ini bertabur bintang karena dalam hal
ini Clekontong Mas beradu acting dengan Sri Sumahardani yang dikenal sebagai
The best motivator Bali, Yessy Diana penyanyi milenial yang dikenal dengan
single lagu Jomblo Bagia dan Ngenehang. Hadir pula Mr. Botax Bali, Gede Phai,
Bayu Kramas, Yudik Leyonk Sinatra, Unggit Desti, Anggin, Luh Kembung dan
beberapa artis yang memiliki fans masing-masing. Film ini juga mendapat
dukungan dari Tjok Abi seorang designer internasional yang turut andil dalam
menyajikan desain kostum para pemain.
Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif
(Bekraf) tercatat dari tahun 2015 hingga 2018 jumlah penonton ke bioskop
meningkat hampir 5 kali lipat pada tahun 2018. Hal tersebut juga didukung
dengan pertumbuhan industri perfilman dan minat penonton tanah air menunjukkan
trend positif. Kecendrungan segmentasi penonton lebih menggemari film buatan
anak negeri. [T] [*]