17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
"Rambut tanda-tanda bakal gondrong,cukur nggak ya?"
Sebuah caption dalam whatsapp story kubagikan di lingkaran relasi dan dosen saat itu aku masih KKN yang menyita jatah liburan semester dan bermain dengan teman-teman yang terpisah jauh diluar Singaraja.
"Juari gati ngae story kene, tepukine jak dosen payu siapange bergas (alat cukur elektrik, senjata utama tukang cukur) di kelas perdana nyanan cai (Kamu nggak tahu malu sekali buat story ini, nanti dilihat dosen jadi disiapkan bergas di kelas perdana kamu)," komentar temanku.
"Tong sante deen, nyanan kayange maan teguran malu mare ngidih pis jak mamak ke Barbershop (Santai saja, nanti kalau sudah ditegur baru aku minta uang sama mama ke Barbershop)," jawabku dengan santainya sambil berguyon.
Aku berpikir nanti saja jika ditegur aku cukur rambut ini, toh biar dikata mirip sama bapak yang seniman biarpun anaknya ini malah jadi penekun IT.
Beberapa saat kemudian aku berubah pikiranku, bukan karena ditegur secara online oleh dosen, ini teguran oleh orang lain yang sangat powerfull walaupun hanya menggunakan kalimat seperlunya.
"Cukur!" begitu katanya.
"Kenapa harus dicukur?" tanyaku sambil menyiapkan bahan bernegosiasi, kali aja dia tidak jadi menyarankan untuk dipotong.
"Iya biar rapi, coba cukur undercut pan!"
Aku yang bodo amat dengan jenis jenis gaya rambut tergerak untuk mencari contoh gaya itu di internet, walaupun krisis sinyal karena desa tempat kami ber-KKN-ria tidak banyak tersedia tower pemancar sinyal.
"Iya nanti sekalian ke Singaraja aku ke Barbershop," jawabku, walau dalam hati aku ingin berkata "Siap sayang" tapi aku ingat posisiku yang hanya pantas menjadi sosok temannya saja bagi dia.
Kemudian salah satu teman dekat juga mengomentari story ku
"Depin den pang ngenah care anak Teknik sejati (Diamkan saja, biar terlihat sebagai anak Teknik sejati)."
Sebenarnya aku setuju dengan saran teman dekatku.
"I'm sorry brother, ada pengaruh yang lebih besar dan alasan yang lebih kuat untuk aku cukur ini rambut Hahaha!"
"Bucin cai (budak cinta kamu)," jawabnya sambil mengirimkan emoji terkekeh.
Percakapan kami berakhir, telepon genggamku menjadi sepi lagi seperti biasanya. Aku terdiam sejenak lalu kembali membuka whatsapp.
"Ma, kirimin bekel. Mau ke Barbershop!".
Itu cerita saat KKN, setelah hampir 3 bulan sejak kami kembali diserahkan kepada pihak Kampus oleh Kepala Desa. Rambutku kembali memanjang, dan aku sudah menuai puluhan pertanyaan dan pernyataan dari keluarga, teman-teman, dan dia.
"Mantap nji, aku suka rambut gondrong kamu!"
"Potong nji, tampil rapi biar dapet pacar!"
"Iihhhh Panji mau Gondrong dia!"
"Kenapa gak potong aja itu rambut?"
"Cukur nji, biar rapi!"
"Geli aku liat kau njik (tentu saja dengan nada bercanda)!"
Begitulah rangkuman respons teman-teman tercinta, semenjak KKN berakhir dengan kegagalan mendapatkan hatinya, aku dijejali dengan organisasi, tugas perkuliahan dan persiapan berlomba di ajang yang cukup bergengsi di kalangan Universitas penyelenggara program studi di bidang teknologi. Aku menjadi mahasiswa sok sibuk walaupun aku benar-benar sibuk, tak ingin menghabiskan waktu luang selain untuk rebahan. Dasar mahasiswa menjelang semester tua.
Aku membiarkan rambutku tumbuh sebagaimana mestinya, aku juga lelah menambah batas pada kehidupan ini yang sudah cukup membatasiku, rambut gondrong bagiku adalah simbol kebebasan, di dalam ketidakbebasan hidup ini dimana setiap perbuatan ada aturannya. Setidaknya aku ingin membebaskan diri untuk hal-hal kecil.
Apa yang salah dengan rambut gondrong? Katanya di rezim pendahulu pria dengan rambut Gondrong identik sebagai pria yang urakan dan ekstrimis, ya aku memang urakan tapi aku bukan ekstrimis namanya juga mahasiswa TI yang jomblo, tidak ada orang kesayangan yang mengingatkan untuk makan, istirahat apalagi mencukur rambut.
Katanya juga diskriminasi tentang rambut gondrong ternyata sudah dibawa oleh belanda sejak 3 setengah abad lalu dan kata mereka diskriminasi rambut gondrong lebih menyeramkan daripada zaman now, bersyukurlah bapak ibu melahirkanku di zaman pra-milenial bukan zaman kolonial.
Setiap mama pulang dari Kupang, selalu mengingatkanku dengan kalimat seperti ini
"Dik, cukur na rambutmu panjang gitu!"
Hehehe maaf anakmu ini masih bengal Ma, jangan ditutup ya surga di telapak kaki Mama. Orang gondrong juga berhak masuk surga kan?
Bapak sih tidak mempermasalahkan, sahabat-sahabatku juga sama, "dia"? Kurasa tidak mempermasalahkan hanya sekedar menyarankan untuk menjadi lebih rapi. Aku tetap pada pilihanku, membiarkan rambut tetap panjang sampai benar-benar harus dipotong.
Kembali pada kisah KKN saat itu, setelah permak gaya rambut, aku menemui gadis pujaanku sekali lagi. Yah hasilnya sama saja, memang susah jika sudah terjebak di lingkaran pertemanan. Gondrong atau tidak gondrong memang tidak ada bedanya, tidak akan merubah apa-apa, Mengapa harus dipotong? [T]
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...