Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Selama dua hari dengan payah seperti berjalan di tengah gurun pikiran, saya menyelesaikan sebuah novel yang berjudul Kalamata. Novel yang ditulis oleh Ni Made Purnama Sari ini seperti memberi jalan untuk hanyut larut dalam hayalan. Sebagaimana seorang pelamun yang membiarkan pikirannya mengelana entah sampai di mana. Hal ini terbayang ketika saya perlahan tersesat di tengah semak-semak cerita yang dibangun.
Saya berusaha memahami cerita yang ingin disampaikan di dalamnya. Tapi lagi-lagi saya terjebak pada rimbunan cerita yang seolah terpisah dengan garis besar. Hanya seolah-olah sebab, bila dicari benang merahnya, tentu ketemu. Seperti halnya lamunan yang membangun visual, memerlukan kata kunci untuk menciptakan gambaran yang dibangun selanjutnya.
Hayalan hanyut begitu saja. Dari fokus pada satu cerita, tiba-tiba kisah lain digambarkan dengan detail. Seolah yang berlalu tak pernah terjadi, begitu mudah dilupakan. Bila sepenggal pengalaman adalah pasangan satu waktu—yang entah benar atau tidak itu terjadi, maka pengalaman pun adalah fana seperti juga waktu. Seperti mimpi, seperti masa lalu dan ketakutan untuk melupakannya.
Cerita dalam novel Kalamata, nampaknya bukan satu entitas terpenting. Ia hanya sebuah garis putih yang mengantar pertanyaan mengenai realitas waktu, sebagai instrumen penunjuk eksistensi jejaring pikiran. Bisa diperhatikan di bagian awal misalnya, tokoh aku yang berada di Barat tiba-tiba menceritakan kampung halaman dan segala kenangannya bersama perempuan dalang.
Pengalaman tokoh aku bersama dalang diceritakan dengan porsi yang lebih banyak dari narasi lain, sehingga teks pengantar di awal menjadi lalu begitu saja namun, di tengah-tengah cerita tentang dalang, selalu diselipi cerita yang seolah memutus batas. Sama halnya dengan waktu. Sama halnya dengan hayalan. Di tengah-tengah cerita novel, kita digiring untuk lupa dengan garis besar, sehingga kisah mengenai dalang seolah hanya pengantar untuk menunjukkan maksud Purnama dalam menulis novel tersebut. Hal itulah yang membuat saya semakin yakin bahwa cerita bukan satu entitas terpenting.
Sampai saat tulisan ini selesai, saya mengambil kesimpulan bahwa Purnama ingin memanjakan hayalan pembaca. Hayalan yang terdiri dari kompilasi pengalaman. Seperti mimpi yang menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kadar gila masing-masing. Seperti tokoh dalang perempuan yang dianggap gila karena dimensia.
Pada tanggal 8 November 2019, dalam rangka Apresiasi Satra serangkaian Festival Seni Bali Jani, kelompok kolaborasi yang dipayungi Capung Hantu Project dan terdiri dari Wayan Agus Wiratama, Jacko Wahyu Rizki, Trina Acacia, Prasetyo Tio, dan Heri Windi Anggara akan merespon novel dengan sebuah pertunjukkan.
Berdasar pada diskusi yang telah dilakukan, kelompok kolaborasi ini akan berbicara perihal waktu dan kejadian yang berlalu. Konsep yang abstrak ini menjadi hal yang cukup membuat kami tergelitik hingga mengernyitkan dahi. Bukan perihal yang gampang bila membuat bentuk dari kata kunci itu. Tetapi menjadi menarik menggarap bersama kawan yang memiliki perbedaan latar. Selain sudut pandang, kemungkinan yang kadang terasa asing di telinga bisa muncul tiba-tiba.
Seperti pada saat diskusi usai, Trina tiba-tiba memberi respon bentuk yang belum pernah menyentuh tubuh saya. Koreo yang barang kali terlihat sederhana, namun bagi saya yang masih pada tahap awal, merupakan hal yang cukup rumit. Lain masalahnya dengan Jacko. Lelaki dengan power besar dan tubuh yang kaya akan kosa gerak panggung. Tidak sulit baginya menerima bentuk-bentuk seperti yang ditawarkan Trina, namun tentu saja dengan hasil yang berbeda.
Di tempat ini, pada akhirnya kami berusaha memahami satu sama lain. Memperkaya sudut untuk memandang novel dan memilih berbagai kemungkinan yang bisa menjadi bentuk di panggung. Akan lain lagi ceritanya dengan Heri memandang novel dan kemungkinan music yang meresponnya. Pun Tio dengan kaca mata seorang filmmaker akan berbeda memandang novel dan visual sebagai respon.
Merespon novel Kalamata Karya Ni Made Purnama Sari ini dengan bentuk pertunjukan tentu tidak bisa serta merta mengikuti cerita. Ada beberapa hal penting yang bisa diambil untuk direspon. Semisal tafsiran mengenai waktu dan realitas yang terpecah tegas, yang terkadang absurd. Realitas yang terkadang mengantar pada ingatan yang menyedihkan sekaligus mengantar kita pada potongan pengalaman dengan cita rasa yang berbeda. [T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...