Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Selama dua hari dengan payah seperti berjalan di tengah gurun pikiran, saya menyelesaikan sebuah novel yang berjudul Kalamata. Novel yang ditulis oleh Ni Made Purnama Sari ini seperti memberi jalan untuk hanyut larut dalam hayalan. Sebagaimana seorang pelamun yang membiarkan pikirannya mengelana entah sampai di mana. Hal ini terbayang ketika saya perlahan tersesat di tengah semak-semak cerita yang dibangun.
Saya berusaha memahami cerita yang ingin disampaikan di dalamnya. Tapi lagi-lagi saya terjebak pada rimbunan cerita yang seolah terpisah dengan garis besar. Hanya seolah-olah sebab, bila dicari benang merahnya, tentu ketemu. Seperti halnya lamunan yang membangun visual, memerlukan kata kunci untuk menciptakan gambaran yang dibangun selanjutnya.
Hayalan hanyut begitu saja. Dari fokus pada satu cerita, tiba-tiba kisah lain digambarkan dengan detail. Seolah yang berlalu tak pernah terjadi, begitu mudah dilupakan. Bila sepenggal pengalaman adalah pasangan satu waktu—yang entah benar atau tidak itu terjadi, maka pengalaman pun adalah fana seperti juga waktu. Seperti mimpi, seperti masa lalu dan ketakutan untuk melupakannya.
Cerita dalam novel Kalamata, nampaknya bukan satu entitas terpenting. Ia hanya sebuah garis putih yang mengantar pertanyaan mengenai realitas waktu, sebagai instrumen penunjuk eksistensi jejaring pikiran. Bisa diperhatikan di bagian awal misalnya, tokoh aku yang berada di Barat tiba-tiba menceritakan kampung halaman dan segala kenangannya bersama perempuan dalang.
Pengalaman tokoh aku bersama dalang diceritakan dengan porsi yang lebih banyak dari narasi lain, sehingga teks pengantar di awal menjadi lalu begitu saja namun, di tengah-tengah cerita tentang dalang, selalu diselipi cerita yang seolah memutus batas. Sama halnya dengan waktu. Sama halnya dengan hayalan. Di tengah-tengah cerita novel, kita digiring untuk lupa dengan garis besar, sehingga kisah mengenai dalang seolah hanya pengantar untuk menunjukkan maksud Purnama dalam menulis novel tersebut. Hal itulah yang membuat saya semakin yakin bahwa cerita bukan satu entitas terpenting.
Sampai saat tulisan ini selesai, saya mengambil kesimpulan bahwa Purnama ingin memanjakan hayalan pembaca. Hayalan yang terdiri dari kompilasi pengalaman. Seperti mimpi yang menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kadar gila masing-masing. Seperti tokoh dalang perempuan yang dianggap gila karena dimensia.
Pada tanggal 8 November 2019, dalam rangka Apresiasi Satra serangkaian Festival Seni Bali Jani, kelompok kolaborasi yang dipayungi Capung Hantu Project dan terdiri dari Wayan Agus Wiratama, Jacko Wahyu Rizki, Trina Acacia, Prasetyo Tio, dan Heri Windi Anggara akan merespon novel dengan sebuah pertunjukkan.
Berdasar pada diskusi yang telah dilakukan, kelompok kolaborasi ini akan berbicara perihal waktu dan kejadian yang berlalu. Konsep yang abstrak ini menjadi hal yang cukup membuat kami tergelitik hingga mengernyitkan dahi. Bukan perihal yang gampang bila membuat bentuk dari kata kunci itu. Tetapi menjadi menarik menggarap bersama kawan yang memiliki perbedaan latar. Selain sudut pandang, kemungkinan yang kadang terasa asing di telinga bisa muncul tiba-tiba.
Seperti pada saat diskusi usai, Trina tiba-tiba memberi respon bentuk yang belum pernah menyentuh tubuh saya. Koreo yang barang kali terlihat sederhana, namun bagi saya yang masih pada tahap awal, merupakan hal yang cukup rumit. Lain masalahnya dengan Jacko. Lelaki dengan power besar dan tubuh yang kaya akan kosa gerak panggung. Tidak sulit baginya menerima bentuk-bentuk seperti yang ditawarkan Trina, namun tentu saja dengan hasil yang berbeda.
Di tempat ini, pada akhirnya kami berusaha memahami satu sama lain. Memperkaya sudut untuk memandang novel dan memilih berbagai kemungkinan yang bisa menjadi bentuk di panggung. Akan lain lagi ceritanya dengan Heri memandang novel dan kemungkinan music yang meresponnya. Pun Tio dengan kaca mata seorang filmmaker akan berbeda memandang novel dan visual sebagai respon.
Merespon novel Kalamata Karya Ni Made Purnama Sari ini dengan bentuk pertunjukan tentu tidak bisa serta merta mengikuti cerita. Ada beberapa hal penting yang bisa diambil untuk direspon. Semisal tafsiran mengenai waktu dan realitas yang terpecah tegas, yang terkadang absurd. Realitas yang terkadang mengantar pada ingatan yang menyedihkan sekaligus mengantar kita pada potongan pengalaman dengan cita rasa yang berbeda. [T]
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...