- Judul Buku : BELOG
- Penulis : Tudekamatra
- Penerbit : Pustaka Ekspresi
- ISBN : 978-602-7610-26-2
- Jumlah Halaman : iv + 80
____
I
Putu Gede Raka Prama Putra atau biasa dipanggil Tudekamantra, laki-laki yang lahir 18 Desember 1990 di Gianyar ini,
banyak melahirkan karya sastra yang juga banyak dimuat di berbagai media,
seperti Majalah Ekspresi, Majalah Satua, Bali Post, Denpost.
Selain itu, banyak bukunya yang telah terbit seperti Padang Tuh, Ombak
Rare Bali, dan Belog. Ia sekarang bekerja sebagai wartawan di Pos
Bali dan menjadi redaktur rubrik Gema Siswa di Pos Bali. Salah satu
karyanya, yaitu Belog: pupulan cerita cutet membawa
saya yang merupakan mahasiswa rantau dari Jawa dapat menyelami dan belajar tentang
kehidupan, kebudayaan, dan masalah-masalah dalam
masyarakat khususnya dalam keluarga di
Bali. Meskipun
terdapat beberapa kesulitan membaca buku ini karena bahasa yang cukup berbeda dengan
kebanyakan kawan yang berbicara bahasa Bali di Denpasar, hal itu tidak membuat
saya lantas menaruh dan meninggalkan Buku Belog. Bahkan, sebaliknya malah membuat
saya semakin tertarik, hitung-hitung
memperbanyak kosa kata bahasa Bali.
Buku
kumpulan cerita pendek Belog berisi
lima belas cerpen yang judul-judulnya sebenarnya cukup menarik karena
hanya terdiri atas satu atau dua kata, tetapi dapat menyimpulkan isi dari
cerita tersebut. Buku cerpen ini dimulai dari kisah Belog yang menceritakan seorang anak yang sangat
bodoh dan selalu membuat orang tuanya kesal. Sebenarnya
ketika saya mencari di Google dengan
keyword “Belog” banyak cerita
yang beredar dengan judul
sama, yaitu “I Belog” yang menceritakan seorang anak kecil bernama Belog yang
sangat bodoh. Setelah ditelusuri lebih
lanjut, rupanya cerita “I Belog”
merupakan dongeng yang sangat
terkenal di Bali.
Mungkin alasan penulis memiilih judul Belog untuk bukunya karena cerita
tersebut banyak diketahui masyarakat, khususnya Bali sehingga memiliki daya
jual dan daya tarik tersendiri.
Cerita “I Belog” yang terkenal diangkat menjadi Belog: pupulan cerita cutet oleh Tudekamatra. Kepekaan penulis dalam melihat masalah-masalah
sosial dan keluarga yang dialami masyarakat merupakan suatu kelebihan yang
tidak dimiliki banyak orang. buku ini terasa sangat intim, bahkan bagi saya
yang merupakan mahasiswa yang merantau di Bali. Cara Tudekamatra mangangkat
masalah-masalah yang dialami sebuah keluarga
banyak menggambarkan masalah keluarga yang hadir dalam masyarakat Bali, seperti
dalam cerpen “Belog” yang menceritakan
tentang seorang keluarga yang memiliki seorang anak laki-laki yang sangat
bodoh, seperti yang terlihat dalam
kutipan berikut.
“Meme Ketut mamedih
padidi. Kememegan Pedih lan sedihe suba kaliwat. Paningalane nrawang. Nyesel
ngelah pianak I Wayan Putra ane belog
magandong buka keto.” (“Belog” hlm.5)
Lalu
ada cerita lainnya,
seperti dalam cerpen berjudul “Suba Misi” yang menggambarkan seorang anak
perempuan yang hamil diluar pernikahan, hal itu dapat dilihat dalam kutipan
berikut
“Nah kudiang ngalih
lemaah dinane ibi! Putu tusing nyandang nyelesang ane sube liwat. Ene suba
madan karman putune. Nasine suba dadi bubuh. Sing lakar nyidaang ngwalikang
buin. Terima lan jalanang apa ane suba gae Putu ene...” (“Suba Misi” hlm.16)
Dari
kutipan-kutipan tersebut dapat dilihat masalah keluarga yang cukup intim
dihadirkan oleh Tudekamatra, yaitu
ketika seorang Ibu memiliki anak yang sangat bodoh hingga sang Ibu merasa
menyesal telah melahirkannya. Adapula kisah tentang
seorang Ibu yang tahu
anak perempuannya telah hamil, padahal masih sekolah kelas III SMA. Kepekaan
penulis di sini
dalam melihat masalah yang hadir dalam masyarakat Bali patut diberi apresiasi.
Dalam pemilihan judul, penulis
sengaja memberi judul singkat, tetapi
menggambarkan semua isi dari cerpen tersebut, seperti “Mulih” yang
menggambarkan orang yang memaksa untuk pulang dari rumah sakit, padahal ia
masih dirawat dan belum diizinkan untuk pulang.
Ada pula “Di Tengah Bui” yang
menggambarkan orang yang sedang berada di dalam penjara. Kendati
judul-judul tersebut menarik, hal itu juga
membuat cerita yang akan dibaca telah diketahui inti permasalahannya oleh
pembaca, di samping karena ceritanya
yang sederhana dan tidak adanya plot
twist sehingga
membuatnya mudah ditebak.
Cerita-cerita
yang sederhana membuat buku ini terasa membosankan
karena tidak adanya pembaharuan dalam setiap ceritanya, rumus atau formula yang
digunakan sama, yaitu perkenalan, permasalahan, lalu penutup. Perkenalan atau pembuka
dapat dilihat dalam contoh paragraf dalam cerpen “Suba Misi”.
“Sawetara jam sia suba
semenganeene. Kedis-kedise pada magending-gending girang salingsautin ngaksi
matan aine ane manyangsang negehang di langite. Keto masih munyin sawan ai ba
duur puyan nyuhe pada maliang-liang. Tumben buka jani semengane endang galang.
Tusing cara ibi puan semengane setata katakubin gulem ane tebel.” (“Suba Misi” hlm.12)
Hal yang sama juga terlihat pada
pembukaan cerpen “Di Tengah Bui” berikut ini.
“Sawetara jam desa peteng.
Nengah Basma ane suba kaliwat kiap nabdabang tongos masare ditengah kamare ane
maukuran 3x3 meter. Di tengah kamare ane tusing linggah ento, ia maduman tongos
ngebahang ajaka tatelu, ngajak Dewa Rupa lan Ketut Kopyak, ane mara kenal uli
di kutus dina ane suba liwat.” (“Di Tengah Bui” hlm.64)
Dapat
dilihat jika pembukaan dalam buku kumpulan cerpen “Belog” hampir semunnya sama,
yaitu menggunakan penggambaran suasana atau latar dalam membangun sebuah
cerita. Kemudian penutup
atau ending dari kumpulan cerpen ini sama, tidak terdapat pembaharuan. Hal
tersebut dapat dilihat dalam kutipan paragraf berikut.
“Putu Rini tusing nyidaang
ngomong apa-apa buin. Ia sanget merasa pelih tekening sekancan tingkah lan
parilaksanane. Marasa bas kaliwat mimpas uli ane madan sesana, uger-uger, lan
tutur rerama. Sanget ia nyeselin ento makejang. Yen paninggalan ne tusing
mereren nyrecek ulung melusin pipine.” (“Suba Misi” hlm.16)
Berikut
ini merupakan penutup cerpen dari “Suba Misi” yang sama dengan penutup cerpen “Trek-trekan”
“Ditu Kadek Arta nyelselin
raga tau teken dewek pelih. Uli ditu ia laut menahin papinehne. Sesukat ento ia
suud milu trek-trekan buka maluan. Sanget ia jejeh yening buin labuh, turin
matabrakan buka keto. Apabuin kanti kelangan urip sekadi timpale, Gung Oka.” (“Trek-trekan” hlm.58)
Penutup
dalam buku kumpulan cerpen ini juga hampir sama, yaitu menggunakan ending tertutup yang merupakan penyelesaian
yang ditentukan oleh penulis dan juga terkesan biasa saja, padahal penulis dapat menciptakan berbagi macam ending agar tulisannya tidak terkesan monoton sehingga pembaca tidak merasa
bosan dalam membaca cerita. Namun, kembali pada keresahan saya, yaitu ending cerita yang kurang
menarik sehingga beberapa kali saya berpikir “oh, hanya itu saja”. Lalu,
cerita-cerita yang hampir sama, hanya beda persoalan, tetapi penyelesaian
konflik terasa hambar. Ini memungkinkan setelah membaca buku ini pembaca hanya meletakkannya saja dan tidak
membaca ulang karena ceritanya telah selesai. Pada cerita “Mulih” penulis menuliskan lagi persoalan sakit yang sama, yaitu
kanker. Hal ini terasa sama dengan “Galah Siduri”. Mungkin maksud penulis
mengingatkan bahwa banyak penderita sakit kanker di Indonesia, khususnya
masyarakat Bali, tetapi sayangnya penulis tidak menjelaskan hal apa yang
menyebabkan tokoh dalam cerpennya dapat mengidap kanker sehingga terkesan asal.
Buku
kumpulan cerpen Belog menarik untuk dibahas apalagi jika dilihat dari
sisi kebudayaan yang digambarkan secara
apik oleh Tudekamatra, seperti dalam kutipan
cerpen
“Belog”
berikut.
“Lantas
Yan Putra buin matakon, “anak ada rerahinan apa jani Me, nguda Meme ngae
canang?”
“Jani anak rerahinan
Purnama, Yan...” (“Belog” hlm.3)
Ada
juga kutipan bermakna serupa yang terdapat dalam
cerpen “Sing Nyak”.
Petang dina suba Kadek
Santi tusing magae. Makejang karyawane matakon-takon unduke Kadek Santi ane
tusing megae. Ada ane ngaden ia gelem. Ade ame nebag jumahne ada upacara
yadnya. Made Budi ane dadi gelagate Kadek Santi mimbuh inguh bayune. Marasa
tusing percaya yening Kadek Santi tusing ngabarin dewekne kanti kapetang dina. (“Sing Nyak” hlm.45)
Meskipun dari segi alur, kekuatan konflik, dan ending masih terkesan lemah dan monoton, buku antologi cerpen Belog karya Tudekamatra tetap menarik dibaca, bahkan oleh pendatang seperti saya yang ingin mengetahui kebudayaan dan keluarga dalam masyarakat Bali. Hal ini karena konflik yang dihadirkan dalam buku ini sangat dekat dengan realita hidup masyarakat Bali. [T]