Berangkat
dari rumah menuju Taman Budaya Provinsi
Bali saya datang dengan semangat 45 bahwa apa yang akan tonton di Gedung
Ksiranawa, Taman Budaya Denpasar, Bali, akan memuaskan dahaga saya di tengah
suhu panas meliputi Kota Denpasar.
Pertunjukkan
malam ini bertajuk ‘Detik-Detik Proklamasi’ yang dipentaskan Teater Bumi dengan
sutradara Abu Bakar. Seperti judulnya apa yang diceritakan dalam pentas kali
ini adalah seputaran hari-hari saat proklamasi kemerdekaan Indonesia
dikumandangkan. Digambarkan bagaimana pergulatan dan hiruk-pikuk menjelang
bangsa Indonesia memerdekakan dirinya.
Pertunjukan
malam itu (30 Oktober 2019) adalah rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ)
2019.
Koor
anak-anak yang berjalan dari kursi penonton menuju sisi kiri panggung membuka
jalannya pertunjukkan. Lalu kayon dihadirkan oleh seorang dalang, sebagai tanda
pertunjukan dimulai. Segera keriuhan pentas dilempar ke atas panggung melalui
derap serdadu-serdadu Jepang yang menggiring para romusha dengan kasar. Di
tengah keriuhan itu datang empat orang yang menghalau serdadu untuk
menyelamatkan para romusha. Rupanya keempat orang ini adalah orang penting,
bidan berdirinya Indonesia sebagai bangsa dan negara. Mereka adalah Soekarno,
Hatta, Sjahrir, dan Radjiman[i].
Keempat
tokoh lalu dikisahkan berkunjung menghadap Marsekal Hisaichi di Dalat, Vietnam.
Hisaichi adalah panglima angkatan perang Jepang untuk Asia Tenggara. Soekarno
diadegkan menagih janji kemerdekaan Indonesia. Adegan berlangsung panas,
Soekarno terus mengejar Si Marsekal untuk memenuhi janjinya. Sementara itu
Sjahrir sebagai pengiringnya lebih panas lagi. Dengan emosional bahkan sampai
melonjak-lonjak untuk saja ada Hatta yang menenangkannya.
Di
bagian inilah saya mulai merasa ada yang salah dengan pertunjukkan ini. Ada
fakta sejarah yang tidak benar. Untuk itu perkenankanlah saya mengulas apa yang
menggangu benak saya. Saya tidak akan membahas artistik, tata lampu, tata rias
ataupun kemampuan aktornya.
Ada
beberapa fakta-fakta sejarah yang menggelitik saya dari pementasan Pak Abu
malam ini. Yang paling menggelitik saya adalah kunjungan Soekarno dan
rekan-rekannya ke Dalat, Vietnam pada 12 Agustus 1945. Pada pementasan ini tokoh-tokoh
yang pergi ke sana adalah Soekarno, Sjahrir, Hatta dan Radjiman. Tujuan
kunjungan ini untuk menagih janji kemerdekaan yang dijanjikan oleh Jepang.
Mereka menemui panglima angkatan perang Jepang untuk Asia Tenggara, Marsekal
Hisaichi Terauchi. Fakta sejarah Sjahrir tidak ikut berangkat hari itu ke Dalat[ii].
Ini adalah sesuatu yang fatal menurut saya mengingat judul pementasan yang
tidak main-main: ‘Detik-Detik Proklamasi’, yang tendesinya sarat muatan
sejarah.
Kemudian
masih di adegan Dalat, Soekarno menagih janji kemerdekaan pada Si Marsekal
dengan gagah berani seperti adegan menagih hutang yang telah lama jatuh tempo.
Padahal fakta sejarah Si Marsekal sebagai pihak pengundang membeberkan bahwa Jepang
telah diujung tanduk dan telah siap memberikan kemerdekaan pada Indonesia[iii].
Kemerdekaan yang telah dijanjikan ini disarankan pada 24 Agustus 1945.
Masih
tetap di adegan Dalat, Sjahrir yang seharusnya tidak di sana yang paling
mengebu-gebu menagih janji kemerdekaan bahkan hampir mirip kelakuan jago yang
jauh dari watak aslinya. Sjahrir adalah intelektual yang lebih sering bermain
dibelakang layar dia tidak akan mengotori tangannya secara langsung.[iv]
Mari
tinggalkan Dalat kita menuju ke adegan di Indonesia. Setelah kekalahan Jepang
ada adegan dimana bendera Jepang diturunkan dan bendera Belanda dinaikkan
sebagai gantinya. Ini simbol kembali bercokolnya Belanda di bumi nusantara
melaui agresi militer. Agresi militer dibagi menjadi dua periode Yang pertama
tahun 1947 yang kedua pada 1948.
Sebagai
pengiring adegan ini dipakailah musik
yang riang gembira yaitu lagu Nasi Goreng untuk mengiringi noni-noni Belanda
berdansa-dansi. Judul lengkap lagu ini Geef Mij Maar Nasi Goreng yang
menggambarkan kerinduan seorang Belanda pada aneka penganan Indonesia antara
lain nasi goreng, tahu petis, bakpao dan sate babi. Di lagu ini dia
membandingkan ketika dia hijrah ke Belanda dia harus beradaptasi dengan makanan
setempat. Lidahnya masih saja rindu pada tempat dia dilahirkan[v].
Lagu ini digubah Wieteke van Dort pada tahun 1977 sebagai wujud rindunya pada
penganan Indonesia. Wieteke atau Tante Lien lahir di Surabaya pada tahun 1943
lalu hijrah ke Belanda pada 1957 karena masalah politik[vi].
Lagu ini dipakai untuk musik pengiring adegan agresi militer Belanda yang
terjadi pada 1947.
Menurut
saya hal itu sangat tidak tepat, ahistoris. Masih banyak lagu-lagu Belanda yang
bisa dipakai menggambarkan kerianggembiraan yang periode waktunya sinkron. Lagipula
lagu yang menceritakan kerinduan seorang Belanda akan masakan Indonesia dipakai
untuk menggambarkan kegembiraan orang Belanda yang bisa kembali bercokol di
Indonesia.
Satu
lagi adegan yang sangat menggangu saya adalah adegan pembuatan naskah
proklamasi. Pada adegan ini peran Soekarno sangat sentral. Kesan yang saya
tangkap Soekarnolah adalah penggagas acara ini. Padahal pada 16 Agustus 1945
Soekarno dan Hatta masih menunggu keputusan dari Jepang untuk memberi
kemerdekaan. Golongan mudalah yang sangat berperan hingga proklamasi terjadi
pada 17 Agustus 1945. Soekarno dan Hatta masih berharap proklamasi akan
didapatkan dengan cara baik-baik. Jepang yang akan menyerahkan kedaulatan atas
nusantara pada Bangsa Indonesia.
Untuk
itu golongan muda tidak mau hal ini terjadi. Mereka tidak mau kemerdekaan
adalah hadiah. Mereka ingin merebutnya! Tapi di babak ini Soekarno memimpin
rombongan datang ke kediaman Laksmana Maeda untuk menyusun naskah proklamasi. Golongan
muda hanya diwakili oleh Sayuti Melik yang digambarkan sebagai tukang ketik.
Suatu hal yang melenceng dari fakta sejarah. Peran golongan muda pada 16
Agustus 1945 ini sangat penting dan bisa dibilang sentral, mereka mengamankan golongan
tua dari pengaruh Jepang. Memberi informasi bahwa Jepang telah kalah perang
yang ditutupi oleh pihak jepang. Informasi ini tidak sampai ke telingga
Soekarno dan Hatta.
Dus,
apa yang saya bahas kurang lebih bisa membuka diskusi. Sebuah pertunjukan baik
itu teater, film, atau wayang yang mengangkat muatan sejarah haruslah ketat
dalam risetnya jangan asal. Jangan sampai demi keindahan dan kemegahan untuk
menghadirkan suasana mengesampingkan fakta-fakta sejarah. Seperti akronim terkenal
dari Soekarno, JAS MERAH; Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Oh ya lupa satu
lagi aktor yang memerankan Sjahrir harusnya lebih pendek dari Hatta. Sjahrir
tingginya hanya 160 sentimetir lebih sedikit karena itulah dia dijuluki Bung
Kecil! [T]
[i] Soekarno,
presiden pertama Indonesia; Hatta, wakil presiden pertama Indonesia; Sjahrir,
perdana mentri pertama Indonesia dan Radjiman adalah ketua Badan Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
[ii] https://tirto.id/sejarah-sukarno-hatta-menjemput-janji-kemerdekaan-ke-dalat-ef51
Anwar, Rosihan.2011. Sutan Sjahri. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
[iii]
idem
[iv]
Anwar, Rosihan.2011. Sutan Sjahri.
Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
[v] https://id.wikipedia.org/wiki/Geef_Mij_Maar_Nasi_Goreng
[vi] https://id.wikipedia.org/wiki/Wieteke_van_Dort