Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Kata shastra janganlah berkata “tidak ada” saat ada orang yang meminta sedekah. Konon perkataan itu berpahala tidak baik. Berikanlah sedekah kepada yang membutuhkan. Puncak sedekah yang diajarkan shastra adalah memberikan seekor Lembu Kapila. Kapila berarti coklat, kuning kecoklatan, kemerahan. Lembu itu dilengkapi dengan pakaian dan dihias ujung tanduknya dengan emas. Juga dilengkapi dengan Bejana Kangsa, yaitu bejana kuningan. Jika telah demikian, akan didapat pahala berupa Kamadugadenu. Kamadugadenu konon adalah sebutan untuk lembu yang dapat mengabulkan semua keinginan.
Tidak mudah untuk mensedekahkan Lembu Kapila bersyarat semacam itu. Isi kantong haruslah setebal wajah pemimpin yang mengingkari janji-janji kampanye. Jangan setengah-setengah, seperti orang yang belajar spiritual tapi etiknya tidak bagus. Spiritual haruslah didasari dengan etika. Upacara atau Tattwa tanpa Etika, sama setengah-setengahnya. Jangan mengandalkan kantong setipis jaring laba-laba. Karena tentu saja mudah sobek. Jika jaring sobek, sulitlah memerangkap binatang. Jaring sedekah haruslah tebal, agar makin banyak yang bisa terperangkap dan ditangkap, hap hap hap.
Ada banyak yang bisa disedekahkan. Bahkan shastra menjanjikan pahala-pahala yang bisa didapat oleh penyedekah. Bagi orang yang menyedekahkan pakaian, dupa, atau wewangian, maka kelak ia akan memiliki wajah yang rupawan. Menyedekahkan minyak, umbi-umbian, pahalanya adalah hidup bahagia bersama keluarga. Bahkan jika ada orang yang menyedekahkan pelita, konon kelak matanya akan berbinar terang benderang. Bagi mereka yang menyedekahkan payung, pahala yang diterima adalah dipuja dan dihormati oleh penghuni surga.
Barangkali ada banyak lagi yang bisa disedekahkan. Shastra bahkan menuliskan syarat sedekah yang sangat penting. Syarat sedekah itu yakni salwiraning wastu kinatresnan. Artinya segala hal yang disayangi atau dicintai, itulah yang patut disumbangkan. Sayang kepada emas, maka sumbangkanlah emas milikmu itu. Sayang pada pakaian, sumbangkan juga pakaian itu. Sayang pada makanan, sumbangkan makanan. Sayang pada pasangan? Bagaimanakah itu?
Jangan jawab pertanyaan tadi. Pertanyaan itu tidak ada dalam shastra. Segala sesuatu yang tidak ada dalam shastra, artinya tidak patut dipertanyakan. Begitu ucapan orang-orang yang pura-pura hafal isi shastra. Satu isi shastra dihafalnya, yang satu-satu lainnya tidak. Bukan tidak jarang, yang dinobatkan sebagai bamper agama penghafal sloka sudah gelap matanya karena ditutupi oleh sloka-sloka yang dibacanya. Sungguh mengenaskan, sloka yang konon adalah penerang itulah yang justru menggelapkan mata. Tapi alam memang begitu, justru segala sesuatu menjadi tidak terlihat di tempat yang terlalu terang.
Saya ini Cangak penghayat agama yang konon menerangi itu. Hasil penghayatan adalah kesimpulan. Kesimpulan ala Cangak, lebih sering berupa pertanyaan dibandingkan pernyataan. Contohnya pertanyaan ini. Jika benar segala yang disayangi itulah yang patut disumbangkan atau disedekahkan, atau dalam bahasa shastranya danakena, ijinkan saya bertanya kepada hadirin sekalian. Di dalam hidup yang penuh dengan cinta ini, apa yang paling kalian cintai? Setelah menjawabnya, pertanyaan selanjutnya adalah “relakah kalian menyumbangkannya?”.
Silahkan dijawab sendiri-sendiri di tempat paling rahasia, agar tidak ada yang mendengar. Biarkan jawaban tadi menjadi rahasia pribadi yang hanya diketahui oleh beberapa saksi. Jika jawaban tadi diungkapkan saat malam, maka malam adalah saksinya. Jika pagi, maka pagi adalah saksinya. Tentu saja ada beberapa saksi lain yang sudah mendengar jawaban tadi. Siapa saja saksi itu?
Menurut banyak penutur kejernihan yang konon sudah sampai di titik paling Sunya dalam hidupnya, saksi ada beberapa. Untuk mengidentifikasi saksi, didasari oleh pengetahuan tentang tubuh. Konon, tubuh ini dibentuk oleh unsur yang sama dengan semesta. Maka unsur-unsur itu pula yang sudah menjadi saksi jawaban kita. Mereka adalah unsur tanah yang padat seperti tulang. Unsur air yang cair seperti darah. Unsur api yang panas seperti suhu tubuh. Unsur udara yang bergerak seperti nafas. Unsur bunyi yang bergema seperti suara-suara dalam banyak rongga. Itulah beberapa saksi yang mengetahui jawaban tadi. Tentu saja masih ada saksi yang lain. Jika hidup masih panjang, kita akan bertemu lagi untuk membahasnya.
Jadi, apakah yang paling kita cintai dalam hidup ini? Bagi saya pribadi, tidak ada yang lebih saya cintai dari pada “hidup” dalam kehidupan ini. Karena dengan hidup, segala Dharma dapat saya lakukan. Segala harta dapat saya raih. Segala keinginan dapat saya tempuh. Tentu saja, kematian yang indah adalah hadiah dari mencintai kehidupan ini. Dan kematian yang indah itu, hanya bisa didapat oleh yang hidup. Mencintai kehidupan, sama artinya dengan menyayangi kematian.
Kalau sudah demikian, kehidupan inilah yang harus saya sedekahkan. Tapi kepada apa, kepada siapa, dan untuk apa?
Semoga saja, hadirin sekalian ada yang juga berpikir demikian. Saya ingin mengajak semuanya untuk menyadari, kita terlalu sering memberi untuk mendapatkan. Kita peminta-minta yang pura-pura menjadi pemberi dana. Tidak lebih. [T]
Kamus Cangak [Kacang]
yadnya : cara berhubungan
ikhlas : menerima dan memberi tanpa syarat
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...