Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
Kata shastra janganlah berkata “tidak ada” saat ada orang yang meminta sedekah. Konon perkataan itu berpahala tidak baik. Berikanlah sedekah kepada yang membutuhkan. Puncak sedekah yang diajarkan shastra adalah memberikan seekor Lembu Kapila. Kapila berarti coklat, kuning kecoklatan, kemerahan. Lembu itu dilengkapi dengan pakaian dan dihias ujung tanduknya dengan emas. Juga dilengkapi dengan Bejana Kangsa, yaitu bejana kuningan. Jika telah demikian, akan didapat pahala berupa Kamadugadenu. Kamadugadenu konon adalah sebutan untuk lembu yang dapat mengabulkan semua keinginan.
Tidak mudah untuk mensedekahkan Lembu Kapila bersyarat semacam itu. Isi kantong haruslah setebal wajah pemimpin yang mengingkari janji-janji kampanye. Jangan setengah-setengah, seperti orang yang belajar spiritual tapi etiknya tidak bagus. Spiritual haruslah didasari dengan etika. Upacara atau Tattwa tanpa Etika, sama setengah-setengahnya. Jangan mengandalkan kantong setipis jaring laba-laba. Karena tentu saja mudah sobek. Jika jaring sobek, sulitlah memerangkap binatang. Jaring sedekah haruslah tebal, agar makin banyak yang bisa terperangkap dan ditangkap, hap hap hap.
Ada banyak yang bisa disedekahkan. Bahkan shastra menjanjikan pahala-pahala yang bisa didapat oleh penyedekah. Bagi orang yang menyedekahkan pakaian, dupa, atau wewangian, maka kelak ia akan memiliki wajah yang rupawan. Menyedekahkan minyak, umbi-umbian, pahalanya adalah hidup bahagia bersama keluarga. Bahkan jika ada orang yang menyedekahkan pelita, konon kelak matanya akan berbinar terang benderang. Bagi mereka yang menyedekahkan payung, pahala yang diterima adalah dipuja dan dihormati oleh penghuni surga.
Barangkali ada banyak lagi yang bisa disedekahkan. Shastra bahkan menuliskan syarat sedekah yang sangat penting. Syarat sedekah itu yakni salwiraning wastu kinatresnan. Artinya segala hal yang disayangi atau dicintai, itulah yang patut disumbangkan. Sayang kepada emas, maka sumbangkanlah emas milikmu itu. Sayang pada pakaian, sumbangkan juga pakaian itu. Sayang pada makanan, sumbangkan makanan. Sayang pada pasangan? Bagaimanakah itu?
Jangan jawab pertanyaan tadi. Pertanyaan itu tidak ada dalam shastra. Segala sesuatu yang tidak ada dalam shastra, artinya tidak patut dipertanyakan. Begitu ucapan orang-orang yang pura-pura hafal isi shastra. Satu isi shastra dihafalnya, yang satu-satu lainnya tidak. Bukan tidak jarang, yang dinobatkan sebagai bamper agama penghafal sloka sudah gelap matanya karena ditutupi oleh sloka-sloka yang dibacanya. Sungguh mengenaskan, sloka yang konon adalah penerang itulah yang justru menggelapkan mata. Tapi alam memang begitu, justru segala sesuatu menjadi tidak terlihat di tempat yang terlalu terang.
Saya ini Cangak penghayat agama yang konon menerangi itu. Hasil penghayatan adalah kesimpulan. Kesimpulan ala Cangak, lebih sering berupa pertanyaan dibandingkan pernyataan. Contohnya pertanyaan ini. Jika benar segala yang disayangi itulah yang patut disumbangkan atau disedekahkan, atau dalam bahasa shastranya danakena, ijinkan saya bertanya kepada hadirin sekalian. Di dalam hidup yang penuh dengan cinta ini, apa yang paling kalian cintai? Setelah menjawabnya, pertanyaan selanjutnya adalah “relakah kalian menyumbangkannya?”.
Silahkan dijawab sendiri-sendiri di tempat paling rahasia, agar tidak ada yang mendengar. Biarkan jawaban tadi menjadi rahasia pribadi yang hanya diketahui oleh beberapa saksi. Jika jawaban tadi diungkapkan saat malam, maka malam adalah saksinya. Jika pagi, maka pagi adalah saksinya. Tentu saja ada beberapa saksi lain yang sudah mendengar jawaban tadi. Siapa saja saksi itu?
Menurut banyak penutur kejernihan yang konon sudah sampai di titik paling Sunya dalam hidupnya, saksi ada beberapa. Untuk mengidentifikasi saksi, didasari oleh pengetahuan tentang tubuh. Konon, tubuh ini dibentuk oleh unsur yang sama dengan semesta. Maka unsur-unsur itu pula yang sudah menjadi saksi jawaban kita. Mereka adalah unsur tanah yang padat seperti tulang. Unsur air yang cair seperti darah. Unsur api yang panas seperti suhu tubuh. Unsur udara yang bergerak seperti nafas. Unsur bunyi yang bergema seperti suara-suara dalam banyak rongga. Itulah beberapa saksi yang mengetahui jawaban tadi. Tentu saja masih ada saksi yang lain. Jika hidup masih panjang, kita akan bertemu lagi untuk membahasnya.
Jadi, apakah yang paling kita cintai dalam hidup ini? Bagi saya pribadi, tidak ada yang lebih saya cintai dari pada “hidup” dalam kehidupan ini. Karena dengan hidup, segala Dharma dapat saya lakukan. Segala harta dapat saya raih. Segala keinginan dapat saya tempuh. Tentu saja, kematian yang indah adalah hadiah dari mencintai kehidupan ini. Dan kematian yang indah itu, hanya bisa didapat oleh yang hidup. Mencintai kehidupan, sama artinya dengan menyayangi kematian.
Kalau sudah demikian, kehidupan inilah yang harus saya sedekahkan. Tapi kepada apa, kepada siapa, dan untuk apa?
Semoga saja, hadirin sekalian ada yang juga berpikir demikian. Saya ingin mengajak semuanya untuk menyadari, kita terlalu sering memberi untuk mendapatkan. Kita peminta-minta yang pura-pura menjadi pemberi dana. Tidak lebih. [T]
Kamus Cangak [Kacang]
yadnya : cara berhubungan
ikhlas : menerima dan memberi tanpa syarat
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...