Kata shastra janganlah berkata “tidak ada” saat ada
orang yang meminta sedekah. Konon perkataan itu berpahala tidak baik.
Berikanlah sedekah kepada yang membutuhkan. Puncak sedekah yang diajarkan
shastra adalah memberikan seekor Lembu Kapila. Kapila berarti coklat, kuning
kecoklatan, kemerahan. Lembu itu dilengkapi dengan pakaian dan dihias ujung
tanduknya dengan emas. Juga dilengkapi dengan Bejana Kangsa, yaitu bejana
kuningan. Jika telah demikian, akan didapat pahala berupa Kamadugadenu.
Kamadugadenu konon adalah sebutan untuk lembu yang dapat mengabulkan semua
keinginan.
Tidak mudah untuk mensedekahkan Lembu Kapila bersyarat
semacam itu. Isi kantong haruslah setebal wajah pemimpin yang mengingkari
janji-janji kampanye. Jangan setengah-setengah, seperti orang yang belajar
spiritual tapi etiknya tidak bagus. Spiritual haruslah didasari dengan etika.
Upacara atau Tattwa tanpa Etika, sama setengah-setengahnya. Jangan mengandalkan
kantong setipis jaring laba-laba. Karena tentu saja mudah sobek. Jika jaring
sobek, sulitlah memerangkap binatang. Jaring sedekah haruslah tebal, agar makin
banyak yang bisa terperangkap dan ditangkap, hap hap hap.
Ada banyak yang bisa disedekahkan. Bahkan shastra
menjanjikan pahala-pahala yang bisa didapat oleh penyedekah. Bagi orang yang
menyedekahkan pakaian, dupa, atau wewangian, maka kelak ia akan memiliki wajah
yang rupawan. Menyedekahkan minyak, umbi-umbian, pahalanya adalah hidup bahagia
bersama keluarga. Bahkan jika ada orang yang menyedekahkan pelita, konon kelak
matanya akan berbinar terang benderang. Bagi mereka yang menyedekahkan payung,
pahala yang diterima adalah dipuja dan dihormati oleh penghuni surga.
Barangkali ada banyak lagi yang bisa disedekahkan. Shastra
bahkan menuliskan syarat sedekah yang sangat penting. Syarat sedekah itu yakni salwiraning wastu kinatresnan. Artinya
segala hal yang disayangi atau dicintai, itulah yang patut disumbangkan. Sayang
kepada emas, maka sumbangkanlah emas milikmu itu. Sayang pada pakaian, sumbangkan
juga pakaian itu. Sayang pada makanan, sumbangkan makanan. Sayang pada
pasangan? Bagaimanakah itu?
Jangan jawab pertanyaan tadi. Pertanyaan itu tidak ada
dalam shastra. Segala sesuatu yang tidak ada dalam shastra, artinya tidak patut
dipertanyakan. Begitu ucapan orang-orang yang pura-pura hafal isi shastra. Satu
isi shastra dihafalnya, yang satu-satu lainnya tidak. Bukan tidak jarang, yang
dinobatkan sebagai bamper agama penghafal sloka sudah gelap matanya karena
ditutupi oleh sloka-sloka yang dibacanya. Sungguh mengenaskan, sloka yang konon
adalah penerang itulah yang justru menggelapkan mata. Tapi alam memang begitu,
justru segala sesuatu menjadi tidak terlihat di tempat yang terlalu terang.
Saya ini Cangak penghayat agama yang konon menerangi
itu. Hasil penghayatan adalah kesimpulan. Kesimpulan ala Cangak, lebih sering
berupa pertanyaan dibandingkan pernyataan. Contohnya pertanyaan ini. Jika benar
segala yang disayangi itulah yang patut disumbangkan atau disedekahkan, atau
dalam bahasa shastranya danakena,
ijinkan saya bertanya kepada hadirin sekalian. Di dalam hidup yang penuh dengan
cinta ini, apa yang paling kalian cintai? Setelah menjawabnya, pertanyaan
selanjutnya adalah “relakah kalian menyumbangkannya?”.
Silahkan dijawab sendiri-sendiri di tempat paling
rahasia, agar tidak ada yang mendengar. Biarkan jawaban tadi menjadi rahasia
pribadi yang hanya diketahui oleh beberapa saksi. Jika jawaban tadi diungkapkan
saat malam, maka malam adalah saksinya. Jika pagi, maka pagi adalah saksinya.
Tentu saja ada beberapa saksi lain yang sudah mendengar jawaban tadi. Siapa
saja saksi itu?
Menurut banyak penutur kejernihan yang konon sudah
sampai di titik paling Sunya dalam hidupnya, saksi ada beberapa. Untuk
mengidentifikasi saksi, didasari oleh pengetahuan tentang tubuh. Konon, tubuh
ini dibentuk oleh unsur yang sama dengan semesta. Maka unsur-unsur itu pula
yang sudah menjadi saksi jawaban kita. Mereka adalah unsur tanah yang padat
seperti tulang. Unsur air yang cair seperti darah. Unsur api yang panas seperti
suhu tubuh. Unsur udara yang bergerak seperti nafas. Unsur bunyi yang bergema
seperti suara-suara dalam banyak rongga. Itulah beberapa saksi yang mengetahui
jawaban tadi. Tentu saja masih ada saksi yang lain. Jika hidup masih panjang,
kita akan bertemu lagi untuk membahasnya.
Jadi, apakah yang paling kita cintai dalam hidup ini?
Bagi saya pribadi, tidak ada yang lebih saya cintai dari pada “hidup” dalam
kehidupan ini. Karena dengan hidup, segala Dharma dapat saya lakukan. Segala
harta dapat saya raih. Segala keinginan dapat saya tempuh. Tentu saja, kematian
yang indah adalah hadiah dari mencintai kehidupan ini. Dan kematian yang indah
itu, hanya bisa didapat oleh yang hidup. Mencintai kehidupan, sama artinya
dengan menyayangi kematian.
Kalau sudah demikian, kehidupan inilah yang harus saya
sedekahkan. Tapi kepada apa, kepada siapa, dan untuk apa?
Semoga saja, hadirin sekalian ada yang juga berpikir demikian. Saya ingin mengajak semuanya untuk menyadari, kita terlalu sering memberi untuk mendapatkan. Kita peminta-minta yang pura-pura menjadi pemberi dana. Tidak lebih. [T]
Kamus Cangak [Kacang]
yadnya : cara berhubungan
ikhlas : menerima dan memberi tanpa syarat