Aku
baru saja selesai melaksanakan sidang skripsiku bulan lalu. Bahagia rasanya.
Apa yang kunanti selama hampir 7 bulan, kini sudah berhasil aku raih.
Perjalananku tentunya tak mudah dan setiap orang punya kualitas perjalanan dan
standarnya masing-masing.
Pasca
sidang skripsi tempo waktu, aku mengilhami satu hal. Skripsi mampu melahirkan
sebuah jenis emosi pada mahasiswa; cinta atau dendam. Dalam kisah perjalananku,
aku bersyukur dengan segala kerumitan yang aku temui, aku masih bisa terlahir
sebagai orang dengan perspektif cinta di dalamnya.
Amanat
positif dari dosen pembimbing yang kerap menghujaniku membuatku subur akan
pandangan-pandangan baru. Puluhan kata-kata bijak terangkai begitu rapi dalam
benak. Siap rasanya bagiku untuk membagikannya kepada teman-teman agar
setidaknya mereka bisa memiliki emosi yang sama sepertiku.
Namun
tak semua bisa diangankan senaif itu. Nyatanya, apa yang kupikirkan hanya mampu
menyentuh mereka yang sefrekuensi dengan emosiku. Orang-orang yang terlahir
dengan emosi cinta di dalamnya. Iya, hanya merekalah yang bisa kugapai dengan
kata-kata bijakku. Selebihnya, ialah mereka yang terlahir dengan perspektif
dendam dalam dirinya.
Memang,
sejauh perjalanan skripsiku hingga ke titik ini, telah banyak cerita yang aku
dengarkan. Cerita-cerita dengan banyak varian perjuangan di dalamnya. Ketika
aku mendengar beberapa di antara semua itu aku merefleksi diriku “ternyata ada
juga ya yang seperti ini”.
Seketika
aku ingin berdalih mendengar cerita lain dan mengabaikannya. Namun telinga ini
sudah terlanjur mendengar apa yang aku rasa itu memang layak didengar tak hanya
olehku, namun oleh mereka yang kini juga sedang dalam fase berjuang. Pahit, getir, murka rasanya mendengar
cerita-cerita itu. Aku tahu, sebuah cerita memang harus didengarkan dari 2
sudut pandang agar teruji kebenarannya. Akan tetapi, melihat bagaimana raut
wajah mereka ketika bercerita, nada bicara yang berapi-api diikuti tawa kecut
yang terselip diantara tutur mereka, aku percaya bahwa yang mereka lisankan
adalah apa yang kata hati mereka ingin sampaikan.
Sebut
saja Ucup, salah 1 teman yang terlahir dengan emosi dendam di dalamnya
dikarenakan skripsi. Skripsi yang ditelantarkan oleh dosen, janjian yang kerap
dibatalkan dan atau diundur yang tetap saja berujung pada dibatalkan, pesan
yang tak kunjung diberi kepastian kapan sekiranya ia bisa melakukan bimbingan
dan metode bimbingan yang justru semakin membuat dirinya merasa disulitkan.
Tentu
ini sangatlah subjektif, namun Ucup tidaklah sendirian. Ucup bersama beberapa
temannya pun merasakan hal yang sama. Beberapa kali Ucup sempat berpikir untuk
meninggalkan tanggung jawabnya dan lebih memilih untuk bekerja saja. “Kebih
baik mengerjakan hal yang pasti daripada yang tak pasti,” katanya.
Kemudian
aku berpikir, apakah kata “semangat” dariku mampu mengubah pilihannya? Tentu
saja sulit bahkan tidak mungkin. Seperti yang tlah kukatakan diawal bahwasannya
setiap orang punya kualitas perjalanan dan standar nya masing-masing. Terlalu
mudah rasanya jika semua bisa diselesaikan dengan kata “semangat” dari
orang-orang yang mungkin bagi mereka, kita tak memiliki peran penting dalam
penulisan skripsi mereka.
Sekuat-kuatnya
kita sebagai “supporting system”
seseorang, nyatanya kita tetaplah “supporter”.
Sedangkan mereka, orang-orang yang sedang memelihara bibit-bibit dendam itu,
mereka butuh bantuan dari “main system” mereka yakni diri mereka dan tentu
dosen pembimbing mereka. Ketika “main
system” malah membuat mereka down,
lantas kepada siapa lagi mereka harus mengadu?.
Ucok,
teman lain yang ceritanya sudah kudengarkan. Setiap hari Ucok bolak balik dari
rumahnya menuju kampus yang jarak tempuhnya sekitar 2 jam. Iya, hanya untuk
menyelesaikan urusan skripsi pasca ia sidang. Maklum, masa kostnya sudah habis
dan ia sungkan untuk menginap di kost temannya yang lain.
Alhasil,
bolak-balik tiap hari tanpa kepastian adalah pilihan terbaik yang bisa ia
jalani saat ini. Lantas, apakah kata “jalanin aja” dariku mampu menopang optimisnya?
Kurasa tidak.
Lelah
fisik dan mentalnya tak sanggup aku pahami. Aku yang berlimpah dengan rasa
cinta tak akan bisa menyentuk teman-temanku yang lahir bersama dendam dalam
dada mereka. Mungkin benar apa yang dikatakan Arthur dalam film Joker,
“penjahat adalah orang baik yang disakiti”.
Aku
dan teman-temanku datang ibarat kertas putih yang siap untuk diisi dengan
jutaan pengetahuan serta perasaan dari dosen kami tentang bagaimana cara mereka
mendidik, membimbing kami dalam menuntaskan skripsi ini. Namun kami tak bisa
terlahir sebagai kertas yang sama, kertas yang dipenuhi cinta. Beberapa harus
rela dirinya memiliki dendam yang berkecamuk tentang skripsi dan dosen mereka
sendiri.
Jikalau
sudah begini, entah kita terlahir dengan cinta ataupun dendam, tetap menjadi
manusia adalah apa yang bisa kita lakukan. Iya, manusia. Menangis dikala sedih,
marah dikala kecewa, tertawa dikala bahagia. Manusia yang tetap bangkit dikala
sulit, menolong dikala melihat ada yang kesulitan, berterimakasih kepada yang
menolong dan memaafkan mereka yang salah.
Terlepas
dari perlakuan orang lain kepada kita, tentang betapa berpengaruh nya mereka
dalam jalan hidup kita, hidup yang kita jalani tetaplah tanggung jawab pribadi
kita. Kita lah yang menentukan kemana kaki ini akan melangkah, baik atau buruk
kedepannya. Teruntuk teman-teman yang sudah terlanjur bergelut dengan dendam di
hati kalian, tak apa.
Lepaskanlah
dendam itu kini. Marah dan menangislah kalian sekarang. Tak usah dipendam lagi,
agar tak bahaya bagi tubuhmu. Diantara isak tangis kalian, selipkanlah
kata-kata ini “Aku adalah manusia biasa yang sering berbuat salah. Aku adalah
manusia biasa yang sudah sewajarnya belajar dari kesalahan”. Tetaplah jadi
manusia, tetaplah berperasaan. Kalian layak bahagia! [T]