Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup
DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen), seorang kawan tiba-tiba berkat...

___
Peraih Nobel Perdamaian ini, dengan sangat baik melukiskan betapa kebencian itu begitu buruk. Tak butuh kalimat-kalimat yang terlalu panjang, ia merumuskan makna kebencian dengan sedemikian efektif dan menjejalkannya ke dalam akal sehat kita. Cukup mudah bagi kita untuk memahaminya, bagaimana Mandela begitu tersentuh dan peka dengan kebencian.
Ia selama puluhan tahun menjalani kehidupan yang dibangun di atas pondasi kebencian yang bernama apartheid di tanah ainya sendiri, Afrika Selatan. Mungkin kita sulit percaya, bagaimana ras putih yang terkenal realistis dan imliah itu dapat hidup lama dalam kebencian. Era kolonialisme ke sejumlah negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin, masa kelam holocaust yang merenggutkan tak kurang enam juta etnis Yahudi, pembantaian muslim Bosnia dalam sebuah kampanye pembersihan etnis yang keji dan masih banyak lagi.
Apakah kebencian punya mereka saja? Beberapa hari yang lalu, pengadilan Myanmar menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Ashin Wirathu, yang merupakan seorang biksu radikal atas tuduhan penghasutan. Dia merupakan salah satu pemuka agama Buddha yang menolak keberadaan etnis Rohingya, dan pernyataannya menyulut aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas itu. Ini pun tak mudah kita pahami, bagaimana seorang biksu yang identik dengan welas asih kemudian dapat menjadi sedemikian berbeda menjadi radikal.
Lalu di negeri tercinta ini, masih jelas dalam bayangan kita, sepasang pria dan wanita dengan penampilan tak meyakinkan telah menghunus pisau dan menusukkannya pada tubuh seorang menteri. Maka potensi kebencian sebetulnya dimiliki setiap insan, bersemayam pada ruang-ruang gelap hati manusia.
Ruang-ruang gelap itulah yang kemudian menjadi tempat fusi energi kebencian dan dendam seorang Joker. Film besutan Warner Bros Picture bertabur bintang ini, mendapat apresiasi yang luar biasa di Amerika Serikat bahkan di seluruh dunia. Aktor gaek Joaquin Phoenix pemeran Joker, yang kelak akan menjadi musuh abadinya Batman, memerankannya dengan sedemikian suram dan tajam. Sangat berhasil menampilkan karakter jiwa yang telah kehilangan harapan, terpinggirkan lalu bangkit dari kegelapan menjadi sebuah entitas perlawanan yang tumbuh dari puing-puing dendam dan kebencian. Lingkungan telah mendidiknya menjadi musuh kebaikan.
Maka demikianlah, lingkungan memberi pengaruh sedemikian besar terhadap pembentukan karakter seseorang. Semakin kuat dan masif satu doktrin kebencian dijejalkan pada otak seseorang, maka seorang pembenci pun akan terbentuk. Pun orang-orang cerdas, tak semuanya bisa lepas dari “operasi” intelektual ini. Itulah kenapa Hitler berujar, “Tidak masalah seberapa banyak kebohongan yang kamu buat, tetapi yang penting adalah bagaimana kamu membuat kebohongan itu menjadi kenyataan.”
Nelson Mandela, satu contoh baik seseorang yang lepas dari perangkap kebencian. Saat keadaan telah berbalik dan terpilih menjadi presiden Afrika Selatan, ia memilih jalan rekonsiliasi dengan tokoh-tokoh politik kulit putih yang pernah menindasnya. Maka ganjaran Nobel Perdamaian menjadi relevan dalam kisah menggetarkan ini.
Dan lebih relevan lagi untuk dijadikan sebuah role model bagi bangsa kita yang tengah berlumur kebencian saat ini. Mengutip pemikiran lain seorang Mandela, ia mengemukakan gagasan yang begitu indah namun realistis, yaitu membenci itu tak semudah mencintai. Karena untuk membenci, seseorang perlu belajar dan berlatih, sementara sifat mencintai telah terbawa sejak lahir, karena manusia diciptakan atas dasar cinta. Maka seharusnya manusia tak sulit mencintai yang lain, bukannya membenci dan memusnahkan.
Dari layar lebar yang sangat menarik perhatian dunia, Joker seakan sedang melontarkan pesan untuk kita semua, “Tetaplah hidup dalam kebencian jika kau ingin negerimu muram dan menjijikkan seperti Gotham!” [T]
DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen), seorang kawan tiba-tiba berkat...
DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring, plus diwarnai stabilo warna merah) – sa...
MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa diabaikan begitu saja. Banyak...
DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan malaikat-malaikat kecil nan polos. Mereka men...
KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa beban. Nyanyian, tarian dan jiwanya be...
Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di beberapa bagian. Permukaannya kusam seperti benda ya...
DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan bahkan sebelum layar sempat dinya...
BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah yang sama, barangkali bukan perkara sed...
FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. BMB #111 menghadirkan dua komposer muda, Budi Se...
PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026, telah memasuki hari ketiga...