“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
KOPLAK terdiam sebentar sambil memandang hamparan rumput di depan rumahnya. Bagi Koplak beristirahat di rumah layaknya merasakan sorga yang sesungguhnya. Bisa leyeh-leyeh, bisa tidak mandi. Bahkan untuk sarapan pagi, Koplak bisa berjalan santai menuju warung nasi be guling. Atau jika ingin agak bergerak lebih jauh bisa juga duduk lesehan di warung sate kambing di pintu masuk desa Sawut, milik haji Kodir, satenya empuk, gulainya dahsyat pokoknya, sate haji Kodir adalah sate terbaik yang ada di lingkungan desa Koplak.
Haji Kodir juga orangnya sangat pengertian, jika ada upacara di desa, tidak segan-segan menyumpang gulai khusus untuk setiap ada upacara di pura Desa, Koplak dan warga biasanya agak segan juga. Akhirnya keputusan desa memutuskan desa membeli satu ekor kambing, haji Kodir yang memasak, tadinya haji Kodir menolak, merasa apa yang dia berikan untuk desanya adalah bagian dari tugasnya sebagai warga. Sebagai kepala desa Koplaklah yang menjelaskan pada haji Kodir bahwa gotong-royong itu berarti yang satu dengan yang lain memiliki kesimbangan, tidak ada yang lebih banyak, tidak ada yang lebih sedikit.
Akhirnya Haji Kodir pun menerima hasil keputusan bersama warga desa Sawut. Makanya setiap ada odalan di pura Desa menunya selalu beragam ada gulai kambing, ada juga lawar babi. Begitulah kehidupan dibina di desa Sawut. Semua merasa bersaudara, semua merasa memiliki desa. Jika merasa memiliki otomatis seluruh warga juga memiliki kewajiban untuk merawat kebersamaan, toleransi, dan saling menghargai. Makanya Koplak heran dengan kehidupan Kemitir di kota.
“Hari raya kamu tidak mengantar makanan ke tetangga?” tanya Koplak ketika berada di rumah Kemitir.
“Di kota besar seperti ini tidak ada acara seperti itu.” Jawab Kemitir santai.
“Kok bisa?”
“Ya, bisa, Bape. Ini kan bukan di desa?”
“Aneh hidup orang di kota, ya?”
“Aneh bagaimana? Nanti kalau kita mengantar makanan ke tetangga dikira kita sok kaya. Atau kalau makanan yang kita hantarkan menimbulkan penyakit bagaimana?”
“Penyakit? Kok bisa?” tanya Koplak tak habis pikir.
“Kalau tetangga itu mati habis makan makanan kita, bagaimana?” tanya Kemitir serius. Koplak terdiam.
“Belum lagi ada orang yang berbeda agama? Bisa salah kita.” Jawab Kemitir lagi, Koplak terdiam. Bingung dengan jawaban yang diberikan anak semata wayangnya. Koplak heran dan linglung dengan segala kehidupan Kemitir. Bagi Koplak cara-cara Kemitir hidup seperti bumi dan langit bagi Koplak.
Aneh, aneh orang kota itu! Koplak bergumam dalam hati. Kenapa mereka bisa berpikiran jotan, hantaran beragam hidangan atau makanan bisa membuat orang yang menerima mati? Apa Kemitir tidak berlebihan? Bukankah jot-jotan yang diberikan tetangga biasanya yang dimakan juga oleh sebuah keluarga. Kenapa bisa mati?
Kata Kemitir juga jika berbeda agama urusan jot-jotan juga bisa menimbulkan masalah. Kata Kemitir ada beberapa golongan di kota tidak mau makan yang dimasak oleh orang yang berbeda agama? Sejak kapan makanan memiliki agama? Koplak mengernyitkan alisnya. Mau bertanya lebih jauh lagi tidak enak hati. Sesungguhnya Koplak ingin bertanya pada Kemitir, bisakah Kemitr menunjukkan orang yang mau makan jika yang memasak makanan juga memiliki agama yang sama.
Terbayang raut wajah Haji Kodir, lelaki yang konon berasal dari Madura itu, lelaki yang memiliki gaya berpakaian bagi Koplak lucu dengan celana hitam di atas mata kaki. Lelaki yang begitu sopan dan ringan tangan. Lelaki yang memiliki agama berbeda dengan agama sebagian warga di desa Sawut itu tidak memiliki tingkah aneh-aneh, padahal ketika tinggal di desa dia dia juga tidak memiliki aturan-aturan seperti yang Kemitir ceritakan.
Haji Kodir memang menikah dengan perempuan Bali, perempuan Bali itu juga tidak terlihat paling mengerti Tuhan, tidak juga merasa agamanya paling benar. Bahkan istri Haji Kodir sering ikut acara perempuan-perempuan menyiapkan sesaji di balai banjar, bahkan mengenakan kebaya lengkap, dengan kerudung. Istri haji Kodir terlihat cantik dan bersahaya bergaul melebur menjadi satu dengan warga di desa Sawut.
Haji Kodir juga dengan ringan tangan ikut menyembelih kambing, untuk upacara di pura Desa. Warga juga mengerti bahwa Haji Kodir tentu tidak makan babi, warga pun menghormati lelaki setengah baya itu. Lelaki yang bersahaja. Walau pun tidak memiliki anak, kadang-kadang haji Kodir sering memberi sedekah kepada anak-anak desa berupa satu lusin buku dan alat tulis jika bulan Ramafhan tiba. Tidak ada yang aneh-aneh, haji Kodir juga menerima jot-jotan dari warga berupa buah-buahan sehabis upacara di pura. Hidup terasa guyup dan menyenangkan di desa Sawut, tak ada yang merasa lebih jemawa dari yang lain. Semua sama.
Koplak terdiam lama termangu sambil menatap hamparan rumput. Kemana arah mata angin jadwal makan hari ini? Babi Guling? Atau Sate Kambing aduhai haji Kodir? Mumpung Kemitir tidak ada di rumah, kalau Kemitir ada. Perempuan cantik itu akan berteriak.
“Awas kolesterol, Bape! Tidak baik bagi janjung Bape!” Koplak tersenyum, mencuci muka tanpa sikat gigi, mengambil sarung dan kemeja. Siap-siap membuka pintu depan. Kemitir sudah berada di pintu pagar. Koplak terdiam. Patah hatinya, lapar perutnya. Kemitir. Kemitir. Datanglah besok saja kenapa harus hari ini. Koplak berkata dalam hati. Duduk dengan lemas di beranda. Sambil menarik nafas membayangkan menyantap sate dan gulai kambing. [T]
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...