Cerpen I Wayan Kerti
Bau
harum menyeruak seisi kamar. Aroma wewangian serasa menusuk hidung. Suasana
mistis terasa kental, menyemburatkan suasana batin yang tenang dan damai. Kamar
sempit berukuran 2x3 m² diyakini sebagai
kamar suci, tempat Jero Dasaran biasa
melakukan semadi ketika masyarakat mapinunasan.
Asap
menyan dan dupa menyembul memenuhi ruangan. Sesaji pun mulai dihaturkan. Jero Dasaran duduk bersimpuh di depan
altar pemujaan kamar suci itu. Tangannya mulai memercikkan air suci. Mulutnya
komat-kamit, dibarengi gerakan tangan menyembah-nyembah. Pertanda ritual telah
dimulai.
Jero
datang ke sini memohon doa ya? Memohon doa tentang belum punya keturunan,
tiba-tiba Jero Dasaran memulai
pembicaraan.
Ya,
Jero. Benar sekali! seorang perempuan
muda menyahut pelan, dibarengi anggukan lelaki muda yang duduk di sampingnya.
“Sekarang,
silahkan berdoa dan memohon kepada-Nya”, ujar Jero Dasaran.
Pasangan
suami-istri itu pun khusuk berdoa. Lalu, mereka diperciki air suci berisi kembang
beraneka warna. Proses ritual terus berjalan. Cukup lama terjadi dialog di kamar suci itu. Akhirnya,
bibir Jero Dasaran tiba-tiba melontarkan
ucapan, “Sudah ke sana-ke mari kamu berobat, belum juga mempunyai keturunan.
Penyebabnya karena ada yang menguna-gunai”.
Pasangan
suami-istri muda itu pun nampak kaget, bingung bercampur aduk, menebak-nebak,
mencari sumber tentang siapa kiranya yang berniat jahat pada mereka.
Dengan
langkah gontai, mereka berpamitan. Sungguh tidak diduga jika ada yang berniat
jahat pada mereka. Padahal, selama ini mereka merasa tidak memiliki musuh. Sudah
tujuh tahun mereka menikah, buah hati yang mereka idam-idamkan belum juga
hadir. Sudah beberapa dokter ahli kandungan ternama mereka kunjungi, berulang
kali. Paranormal juga sudah belasan yang dimintai bantuannya. Sampai pada
langkah di kamar suci Jero Dasaran.
Apa
yang baru saja dialami di tempat mapinunasan
dikabarkannya kepada mertuanya. Kedua orangtua itu nampak gelisah dan bingung. Namun,
lelaki tua itu nampak berusaha tegar dan berpikir bijak.
“Janganlah
sedih, Nak. Kalian harus tetap berdoa dan berusaha. Kabarkan juga berita ini pada
besanku. Mungkin Beliau bisa membantu mencarikan jalan keluar,” kilahnya dengan
suara pelan, tak bertenaga.
Keesokan
harinya, pasangan ini memutuskan untuk menemui orangtua I Luh di kampung halamannya. Sepanjang
perjalanan, mereka berdua hanya diam. Tidak ada canda-tawa, atau cerita-cerita
yang membumbui kisah perjalanan mereka.
Embun
masih nampak berkilauan di rerumputan terkena terpaan sinar matahari. Mereka
menapakkan kaki di halaman rumah orangtuanya dengan langkah gontai.
Seorang
wanita paruh baya seketika menghampiri I luh, “Ada apa, tumben pagi-pagi sudah
pulang?” Matanya penuh selidik, pandangan matanya tertuju pada perut I Luh. Naluri
keibuannya telah berbisik, berharap anaknya telah hamil. Lalu, dia sah
menyandang predikat seorang nenek.
“Sebenarnya, ada apa pagi-pagi sekali kalian
sudah sampai di sini? Biasanya,
jika hendak pulang, kalian berkabar dulu,”
sela ayah I Luh yang tiba-tiba hadir di ruang tamu.
“Kami
hanya ingin jalan-jalan, Ayah,” jawab sang menantu, seperti hendak
menyembunyikan sesuatu.
Sang
ibu tergopoh-gopoh membawa pisang rebus dan beberapa cangkir kopi. “Silakan
dinikmati! Ini menu pengganjal perut favorit I Luh sejak kecil,” imbuhnya
sambil menyodorkan cangkir-cangkir itu.
Sambil
menikmati sarapan pisang rebus dan ngopi pagi, obrolan pun terus berlanjut.
Sesekali tampak canda-tawa, tetapi akhirnya semua tampak diam dengan raut muka
cemas, ketika I Luh dan suaminya menceritakan semua yang mereka alami ketika mapinunasan.
Suasana
sempat hening beberapa saat. Akhirnya, sang ayah memberi saran. “I Luh, begitu
juga Gede, coba kita periksakan ke dokter ahli kandungan di kota ini. Beliau
sahabat ayah sejak SD yang kembali dan mengabdikan dirinya ke desa ini sejak
pensiun. Siapa tahu, justru jodoh bertemu di desa ini, seperti dirimu dengan
Gede.”
Ruang
praktik dokter tampak lenggang, maklum karena praktiknya di desa. Jadi, tidak
perlu antre.
“Om
Swastiyastu!” ayah I Luh menyapa lelaki paruh baya berpakaian putih-putih yang keluar
dari dalam ruang praktik.
“Tampaknya, Beliau itu
adalah dokter spesialis teman ayah sejak kecil,” pikir I Luh. Sepertinya
dugaannya tidaklah salah. Sebentar saja, kedua lelaki paruh baya itu telah tampak
akrab.
“Tumben
kau bertandang ke sini,” sapa dokter itu. “Ayo masuk saja. Kita kumpul dan
ngobrol di dalam. Lagian, jarang ada pasien yang periksa ke sini,” imbuhnya.
Mereka
ramai-ramai memasuki ruang praktik dokter kandungan itu. Lalu, ayah I Luh
mengutarakan maksud kedatangan mereka kepada karibnya. Sang dokter tampak
antusias mendengar semua cerita dan keluhan keluarga ini.
“Luh,
masuklah ke ruang itu,” ujar dokter sambil menunjuk salah satu sudut ruang yang
tersekat kain gorden warna biru. Tak tampak perawat atau bidan yang membantu buka
praktik.
“Berbaringlah!”
perintah sang dokter.
I
Luh pun menuruti petunjuknya. Tubuhnya direbahkan di ranjang kamar periksa itu.
Sambil memasang stetoskop di telinganya, dokter itu memutar-mutar alat USG di
perut I Luh. Beliau bercerita dan bertanya berbagai hal kepada I Luh.
Perbincangan mereka nampak akrab sekali, bahkan sesekali terdengar canda-tawa
menghasi ruang pemeriksaan,
Tiba-tiba,
dokter itu bertanya, “Luh apakah kamu pernah bermaksud menunda kehamilan?”
“Maksud
Dokter?” sanggah I Luh dengan nada heran dan kebingungan.
“Maksudku,
kamu mungkin pernah berniat ingin menunda punya anak, lalu kalian sepakat
memakai alat kontrasepsi,” kata dokter itu.
“Tentu
saja tidak dokter! Saya menikah justru bermaksud segera memiliki keturunan. Tidak
pernah terbersit di benak untuk menunda kebahagian keluarga kami. Ada apa
dengan diri saya?” cecar I Luh dengan nada penasaran.
“Baiklah!
Aku panggilkan keluargamu untuk melihat apa yang sebenarnya menimpa dirimu.”
Dokter menunjukkan sesuatu.
“Sahabatku,
begitu juga kamu, Nak! Sekarang lihatlah dengan saksama layar itu!” perintah
dokter itu. “Apa yang kalian lihat?” imbuhnya.
“Aku
melihat seperti ada sesuatu di rahim anakku, Kawan!” jawab ayah I Luh, yang
diiyakan oleh yang lain, sebagai pertanda sepakat dengan temuan pemeriksaan
dokter spesialis kandungan itu.
“Itulah
sumber masalahnya,” ucap dokter itu dengan mimik serius.
“Benda
apa itu, Kawan? Aku jadi penasaran. Apakah ini yang dikatakan papasangan seperti yang disampaikan Jero Dasaran tempo hari?” imbuh ayah I
Luh dengan ekspresi wajah yang penasaran.
“Betul!
Di rahim anakmu ini memang ada papasangan,
dan yang memasang pastilah orang yang ahli seperti diriku,” lanjut sang dokter
dengan nada sedikit bergurau.
“Aku
bertanya serius, tolong kamu jawab dengan serius, Kawan!” gertak ayah I Luh yang
merasa dibuat semakin penasaran.
“Baiklah!
Aku jawab dengan tegas, di rahim anakmu terpasang alat kontrasepsi “spiral”.
Hal tu sama saja dengan papasangan,
seperti cerita paranormal itu. Itulah pemicunya kawan,” kata dokter itu. “Tadi,
aku bertanya kepada anakmu, apa dia pernah bermaksud menunda punya anak? Dia bilang,
tidak. Jadi, siapa kira-kira yang memasang alat itu di rahim anakmu?” Dokter
itu balik bertanya kepada ayah I Luh dengan raut muka penuh selidik, yang
membuat ayah dan ibu I Luh salah tingkah.
Suasana
sempat hening beberapa saat. Sepertinya semua saling introspeksi diri, saling
menerka-nerka. Apa mungkin orang sakti yang menjahati anaknya. Dalam hening, orangtua
I Luh teringat kisah masa lalu. Mereka lalu menarik tangan dokter itu keluar
ruangan. Di serambi rumah itu, mereka bercerita dengan mata berkaca-kaca.
“Aku
yang salah, Kawan,” celetuk sang ayah dengan
penuh penyesalan. “Dulu, ketika anakku remaja, aku lihat dia agak liar bergaul.
Sering gonta-ganti teman cowok yang diajak ke rumah. Aku jadi khawatir anakku
membawa aib bagi keluarga. Suatu hari ketika dia diopname karena usus buntu,
aku bersama istri sepakat saat operasi sekalian dipasangi ‘alat jahanam’ itu,”
tutur sang ayah dengan nada lirih.
“Ayah...!!!” Tiba-tiba I Luh menjerit histeris. [T]
Keterangan:
|
1.
|
papasangan
|
:
|
guna-guna
|
|
2.
|
mapinunasan
|
:
|
Memohon
|
|
3.
|
Jero
Dasaran
|
:
|
Paranormal (orang yang dapat kemasukan roh, sehingga
bisa menjadi perantara berkominkasi dengan alam gaib.
|
|
4
|
Jero
|
:
|
Anda (panggilan untuk orang yang belum dikenal).
|