Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Kawitan artinya 'muasal'. Seringkali disederhanakan sebagai "garis silsilah" atau 'trah' .
Ketika kata 'kawitan' dibatasi sebatas trah keluarga, inilah awal muncul persoalan berkawitan. Kawitan menyempit menjadi urusan darah, menipis dan tercekik jadi urusan keluarga, lalu terjebak jadi berpola pikir eksklusivitas yang memicu munculnya mental kawanan.
Padahal, kecenderungan ke arah eksklusiflvitas ini mencemari prinsip utama dharma yang esensinya ajarannya mengajarkan inklusivitas, yaitu: 'semeton sami, sami semeton' atau 'nyama-braya', atau secara Sanskrit kita kenal sebagai "Vasudhaiva kutumbakam" ("the world is one family").

Adakah kutuk "salah kawitan", "kawitan salah"? Yang terjadi "memikir kawitan secara sempit". Semangat mencari garis leluhur yang tidak diimbangi membaca karya-karya pustaka Sastra, Agama, Weda, Puja, pengetahuan tertulis warisan leluhur, yang menjadi pedoman leluhur, justru sesungguhnya bentuk pengingkaran terhadap kawitan yang serius.
Tidak bernyali mempelajari pengetahuan suci yang dipegang para leluhur, itulah, yang jika dipikir mendalam, ujung pangkal "salah kawitan". Kunci berkawitan bukan garis silsilah yang mentereng kita 'umbah-ambih' (sebut-sebut, elu-elukan) sebagai legitimasi kehebatan silsilah diri, tetapi pada sebesar apa kita paham "sasana" dan "panugrahan" leluhur kita.
Jadi, hemat saya, bukan garis darah yang penting dipelajari, tapi garis ajaran dan pengetahuan leluhur yang perlu digali dan digenggam. Ini cara berkawitan.
Tidak ingat leluhur, buat saya, artinya kita lupa belajar pengetahuan leluhur. "Engsap ring kawitan" artinya kita lupa pada genetika pengetahuan dan pedoman laku yang dipegang leluhur sehingga kita sesat.
Berkawitan, alangkah baiknya, ditarik ke penggalian DNA pengetahuan leluhur. Pengetahuan leluhur yang diwariskan ke kita telah lama ditinggal, tinggal kebanggan garis silsilah, tanpa ada keberlanjutan garis pewarisan pengetahuan. Berkawitan peluangnya ada dengan mempelajari ilmu dan pengetahuan leluhur yang tertulis, dipelajari dan dijadikan pedoman, bukan disembah secara membabi buta.
Saya lebih bahagia berjumpa dengan seorang yang fasih mengupas ajaran leluhur dibandingkan seseorang yang berbuih-buih menceritakan garis silsilahnya semata. [T]
Catatan Harian 8 Oktober 2019
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...