Membaca Eswe selalu
membuat saya berhasil tersenyum. Bahagia. Namun bahagia bukanlah datang sendiri
tanpa rasa lainnya. Bahagia justru muncul tak sendiri. Ia datang bersama
rasa-rasa yang lain, pahit, getir, ironi dan kadang sedih. Bahagia itu muncul
kadang ketika sedih sudah melampaui batasnya.
Bagi saya, Eswe selalu
dapat menghadirkan rasa bahagia dalam pengertian yang sangat kompleks. Kita
bisa saja tersenyum membaca naskahnya, atau bahkan ketika dia menulis apapun
namun kita tahu Eswe tidaklah sedang bergurau omong kosong belaka. Omong
kosongnya (setidaknya jika kita percaya dia hanya punya omong kosong) sangat
berisi. Anehnya kita mau sepert terhubung dengan omong kosongnya.
Apa yang menghubungkan
kita dengan omong kosongnya. Karena kita juga adalah produk omong kosong yang
sama, namun pandai berpura-pura kita bukan omong kosong. Kita adalah kesunyian
yang panjang di antara ambisi ingin dikenang.
Kita adalah si cerdik
pandai yang merasa Eswe sedang membodohi kita padahal kita memang bodoh karena
sombong.
Eswe membuat kita merasa
perlu untuk duduk kembali menyapa pagi dengan bahagia yang jujur, bukan bahagia
yang pura-pura.
Eswe ingin kita
mencintai padi, seperti mencintai pagi dengan gaya seorang anak kecil bernama
Komang, yang dikenalnya di Bali, tepatnya di Budakeling Karangasem, hingga
lahir puisi ini.
komang menghitung bulir-bulir padi,
komang ingin memeluk padi.
komang mencintai padi.
komang ingin menjadi padi.
komang ingin mengajak padi pergi ke pasar
komang mengajak padi berangkat ke sekolah
padi-padi belajar sejarah dan
ekonomi.
cericit burung datang dari barat dan utara,
burung-burung itu miskin dan
terlantar
komang datang membawa masa depan.
bersama gemericik air sungai.
padi-padi belajar sejarah dan
ekonomi.
Nah kurang jujur apa
puisi macam ini. Puisi dalam naskah drama ini hanya satu dari banyak puisi yang
ada di dalamnya, sampai saya ingin bertanya, ini buku puisi apa naskah drama.
Hahaha. Tapi baiklah. Puisi ini terhubung dengan saya karena kata padi, bukan
semata karena saya terobsesi pada padi atau karena nama anak saya Putu Putik
Padi, namun karena saya terharu pada baris-barisnya terutama padi-padi belajar sejarah dan ekonomi
Saya terharu karena jika
saja padi belajar sejarah dan ekonomi maka Indonesia tidak akan pernah
mengimpor lagi beras dari negara tetangga.
Saya terharu karena
Komang ingin mengajak padi pergi ke pasar, melihat betapa sedihnya bangsanya
digiling sehingga berganti nama menjadi beras dan dijual tak tentu arah,
menyisakan hanya kemiskinan bagi yang memeliharanya, bangsa yang bernama
petani.
Simbol anak kecil yang
dihadirkan menimbulkan bukan hanya kejujuran namun juga pertanyaan tentang rasa
bahagia yang pahit dan ironis.
komang mengajak padi berangkat ke sekolah
-
komang datang membawa masa depan.
Seolah-olah sekolah
mengajarkan masa depan, seolah-olah padi memiliki masa depan. Jika kita
melamunkan puisi ini lebih lama lagi, rasanya bahagia kita akan sirna, berganti
kesedihan memikirkan masa depan padi. Tapi, ah sudahlah. (saat saya menulis ini
saya mendengar tivi melantunkan lagu kebangsaan Indonesia Pusaka ciptaan Ismail
Marzuki yang menjadi tanda berakhirnya
siaran tv). Mendadak saya ingin menoleh ke tivi. Klipnya ada petani sedang
menanam padi. Padi masuk tivi. Apakah ini semua kebetulan. Dada saya berdesir.
Kok mendadak jadi mellow. Rasa nasionalisme dipadukan dengan naskah drama ini
menjadi klop. Mendadak sedih, bahagia dan lain-lain.
Mari kita tengok lagi
bagian lain naskah ini. Bagian bahagia lainnya. Atau bagian muramnya. Lagi
pula, bahagia dan muram sama saja akhirnya. Sama sama berakhir menjadi
kenangan.
Tahun 1997 adalah tahun dimana kami tumbuh
menjadi seorang remaja. Masa remaja kami
ditandai dengan mengikuti kegiatan penataran P4 singkatan dari Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.
Salah satu kegiatannya menyanyikan lagu-lagu daerah seperti tadi. (Jeda) Yah,
kami Remaja yang asal – asalan sekolah, agak manja, tak pernah juara kelas dan
mempunyai sedikit jiwa pemberontak. (Jeda) O, iya, hampir lupa, perkenalkan
nama saya: Bas. Sebelah kanan saya adalah...
Naskah ini menjanjikan
sesuatu yang lebih dari lamunan–lamunan tiga pemuda Indonesia yang menginjak
remaja di jaman tahun 1997, karena mereka tidak hanya sekedar ada, namun
berpikir dan mempunyai sedikit jiwa pemberontak untuk mendobrak, setidaknya
mempertanyakan masa lalu dan memahaminya dalam perspektif mereka. Mungkin
juga mencoba menertawainya. Betapa
absurdnya.
Kami adalah remaja yang tumbuh di sebuah
negara bernama Indonesia. Negara yang diproklamasikan
oleh Insinyur Soekarno dan Doktorandus Mohammad Hatta pada tanggal 20 Agustus
1945 (Frank mentoyor kepala Bas hingga terhuyung. Lalu Bas kembali duduk
tegap). Pada tanggal 19 Agustus 1945 (Bob mentoyor kepala Bas hingga terhuyung.
Kembali Bas duduk tegap. Bas merubah mimik wajah serius lalu berucap sangat
serius). Pada tanggal 17 Agustus 1945 (Bob dan Frank megelus elus kepala Bas.
Lalu Bas tersenyum). Kedua orang tua dan guru-guru kami mengajarkan untuk
mencintai tanah air dan bangga menjadi bangsa Indonesia. (Jeda)
Masa remaja kami tumbuh
di era kekuasaan: Jen...dral Soe...har...to.
Sedang tokoh idola saya hanya dua yakni: Tan
Malaka dan Soeharto. Sebab menurut saya mereka berdua sangatlah cocok. Tan
Malaka adalah seorang pemikir Komunis sedang Soeharto berhasil mengkomuniskan
banyak orang. Sangatlah singkron antara teori dan praktik.
Namun sesungguhnya
pertanyaan penting dalam naskah ini adalah kesunyian, kesendirian, kenangan,
kesedihan yang absurd.
Bu, apakah keluarga diciptakan hanya untuk
menjadi kenangan?
Aku takut sendirian, Bu. Tubuhku kedinginan.
Aku ingin menangis tapi aku lupa
dimana aku menaruh air mataku. (Jeda)
Absurditas manusia
muncul ketika dia diuji oleh kesunyian dan kesendirian, lalu teman–teman yang
senasib ‘sekesunyian’ hadir untuk memberi warna, bukan untuk mengusir kesunyian
namun untuk mencari ide-ide segar absurd sekilas, lalu untuk kembali pada
kesunyian.
Ya, kita akan menjadi berandalan kota. Kita
akan merampok dengan riang gembira. Hmmm...Pertama, kita rampas senjata Polisi
Bank, dan langsung kita tembak. Dorr! Kalian berdua masuk Bank dengan santai.
Cool. Langsung arahkan pedang ke Teller. Frank segera putus kabel telponnya.
Lalu kuras isi brangkasnya. Aku segera masuk dan menembaki satu persatu orang –
orang yang ada dalam ruangan. Kita ambil semua harta benda yang mereka bawa.
Selesai kan?
Saya mengingat
absurditas yang ditawarkan Samuel Beckett dalam naskah Waiting for Godot. Ada dua sahabat yaitu Vladimir dan Estragon yang
sedang menunggu Godot, namun Godot tak pernah datang. Ada karakter Lucky dan
Pozzo yang berada dalam lingkaran absurd yang lain, yang seolah hadir memberi
harapan bagaikan Godot, namun ternyata bukan, memperkuat kesan penantian
sia-sia. Absurditas menunggu menjadi sesuatu yang mengganggu sekaligus memantik
percakapan, ide-ide baru tentang kemanusiaan yang absurd.
Jika kita bandingkan
naskah ini dengan naskah Beckett maka ada beberapa hal yang tampaknya sama,
yaitu konsep the theater of the absurd (istilah
yang diperkenalkan Martin Eslin, 1961) yang setidaknya memiliki beberapa
kekhasan. The theater of the absurd
lahir pasca Perang Dunia ke-2 yang menyisakan banyak chaos di masyarakat dunia
dan mempengaruhi gaya teater di Eropa dan Amerika. Kala itu Martin Esslin
menggolongkan beberapa gaya teater yang non-sense ke teater absurd, sebuah
istilah yang dia ambil dari The Myth of
Sysiphus yang diciptakan oleh Albert Camus, filsuf asal Prancis.
Dalam konteks naskah
ini, Eswe membidik masa reformasi sebagai masa absurd pasca masa Orde Baru,
dimana 3 pemuda mencoba menyalakan semangat mereka menjalani masa-masa
reformasi namun tetap lapar, dan menjadi manusia.
Frank : Bas, tapi aku benar – benar merasakan
kekuatan gerakan ini! 32 tahun dibutakan politik tapi sanggup melawan dan
menjungkalkan tirani.
Bas : (Bas berhenti jualan) Iya Frank, aku tahu
apa yang kamu pikirkan. Kita akan tetap masuk barisan Frank. Nanti kita
bergabung dengan barisan rakyat menuju alun – alun menghadiri Pisowanan Ageng
(Sebuah acara dimana rakyat menghadap kepada Rajanya untuk mendengar wejangan
atau kebijakan sang Raja) .
Frank : Tapi aku lapar Bas.
Camus mengatakan bahwa
dunia modern adalah absurd, tak masuk akal. Tak ada yang bisa menjelaskan
ketidakadilan, inconsistencies, dan
kekejaman dunia modern. Setelah perang dunia ke-2 adalah masa-masa absurd yang
kemudian menginspirasi banyak penulis teater menulis naskah absurd seperti
Samuel Beckett, Eugene Ionesco, Edward Albee, hingga Harold Pinter. Bagian ini
dijelaskan dalam buku The Theater
Experience karya Edwin Wilson, 4th Edition (1988, Chap. 10).
Contoh nyata teater
absurd adalah Waiting for Godot. Ada 3 kekhasan dalam teater absurd.
Pertama, karakter yang
muncul adalah karakter eksistensial, yaitu karakter ahistoris, yang hadir tanpa
latar belakang historis yang kuat, hanya pemantik tema absurditas belaka. Dalam
konteks naskah ini, tiga pemuda hadir sebagai medium menghadirkan pertanyaan-pertanyaan
dan pikiran-pikiran absurd.
Kedua, verbal nonsense. Kekhasan teater absurd adalah pada
kalimat-kalimat di luar logika yang menempatkan chaos berpikir di atas
segalanya. Dalam naskah ini seringkali Bas, Bob, dan Frank mengalirkan dialog
nonsense.
Bob mengarahkan parangnya kepada Frank. Bas segera menghalau dengan
menjepit parang dengan dua jari tangan.
Bas : Bob, berjanjilah padaku
jangan diulangi lagi
Bob : Aku tidak tahu lagi Bas.
Frank : Berpikirlah sebelum bertindak
Bob
Bob : Aku sudah tak punya pikiran, Frank!
Frank : Ah, seharusnya kamu....
Bas : Frank!
Bob : Biarkan Frank bicara, Bas
Frank : Aku benci kamu, Bob.
Bob : Kamu berhak, Frank.
Bas : Sudah cukup!
Bob : Temanku hanya kalian. Dunia
telah membenciku.
Frank : Tubuhmu kotor Bob, mandilah
dulu.
Bob : Tidak mau aku ingin mati
saja.
Bas : Sudahlah. Sudah. Kita mesti
duduk bersama.
Dalam naskah Waiting for Godot misalnya,
penantian Vladimir dan Estragon digambarkan seperti ini.
ESTRAGON
Let's go!
VLADIMIR
We can't.
ESTRAGON
Why not?
VLADIMIR
We're waiting for Godot.
ESTRAGON
(despairingly) Ah!
Tidak ada yang bergerak.
Karakter menunggu dalam penantian yang bodoh dan sia-sia. Namun begitulah
kehidupan digambarkan, seperti lingkaran berulang-ulang, tidak berujung
bertepi, penuh dengan penantian sia-sia.
Kekhasan berikutnya
adalah struktur yang tidak biasa, non
sequitur, awal maupun ending ending yang berupa chaos, sekaligus sunyi dan
tiada henti. Absurdit percaya bahwa hidup adalah nihil, seperti kosong yang
tiada ujung pangkalnya, bahkan hingga akhir kehidupan, atau hidup setelah
kematian, sama saja nihilnya.
Biarkan kami membuat
sejarah dari kerlip bintang dan fajar menyingsing
Sebab hari depan adalah pernyataan. Adalah kepalan tangan kami
Dan tercatat pada setiap jejak langkah:
Lupa adalah berhala. Lupa adalah binasa
Ingatan adalah senjata. Ingatan adalah nya...wa!
Maka sesungguhnya drama ini tidak pernah berakhir. Bahkan hingga ingatan selesai, drama ini akan tetap ada. Sepanjang manusia masih menerima kesunyiannya masing-masing. Demikianlah. [T]
Reference
Edwin, W. (1988). The theater experience (4th ed). New
York: McGraw-Hill Book Company.