Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain ---Mengapa Begitu?
JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan bangunan pencakar langit. Orang dat...
Kebodohan akan mengakibatkan kegagalan, Benarkah hal itu? Apa kabarnya “saat ini” dengan sebuah kejujuran yang justru menjerumuskan talenta ke jurang kegagalan bahkan keterpurukan.
Sudut pandangku memang sedikit berbeda, katakan saja lain, agar kau yang merasa benar tambah senang. Saat ini yang aku lihat adalah mula keberhasilan diawali dengan senyum palsu nan bermotif bak sang mega mendung indah dengan lengkung lemuh garisnya. Aku terlanjur berjalan terlalu jujur karena ingatan dimasa lalu sebuah keberhasilan ditentukan oleh kecerdasan intelektual yang didasari sebuah kejujuran murni.
Menyesal aku mengatakan hal ini, tapi peraaan ini mengebu untuk mengungkapkan apa yang menjadi risalahku saat ini, dimana saat ini aku di kelilingi oleh-oleh yang berprestasi namun fiksi. Apa dasarku mengatakan itu? Tentu karena dalam sebuah kompetensi kewajiban, hal-hal yang dikerjakan tak kunjung tuntas bahkan terbelangkai layaknya bangkai anjing di sudut gang mawar.
Lalu kenapa mereka bisa berprestasi? Tiada lain, maafkan aku yang telah menggeser makna “Mecik Manggis” yang adi luhung tentang abdi yang hormat terhadap pimpinannya. Namun mecik manggis yang kali ini aku utarakan tanpa lagi ada diksi-diksi sindiran, aku konotasikan negatif bahwa segerombolan orang yang bermuka dua, menyanjung dan bahkan menjilat demi prestasi. Apakah sang pemimpin itu tak sadar sedang dijilat?
Sesungguhnya sadar bahkan tahu sedang dijilat, namun beberapa tipe pemimpin saat ini, malah merasa senang dijilat, mungkin rasa geli-geli itu menimbulkan birahi tinggi. (baca: haus kekuasan). Sang Mahabali sempat menuturkan pada Rahwana, bahwa selama kau haus akan kekuasan dan gila hormat, maka jiwa kepemimpinanmu akan menjadikan salah satu bahkan mengkhususkan seseorang menjadi skala prioritasmu, jika kau terlena dan menikmati hal itu, percayalah kelak kau hanya akan menjadi sebuah pilihan diantara mereka yang berjalan ke kanan dengan kejujuran yang murni.
Langkanya sebuah kebenaran saat ini tidak dapat dipungkiri, kebutuhan akan rasa nyaman, aman dan tentram membuat manusia bagaikan asura, berpikir instan dan suka memuji di depan, menikam di belakang. Mecik Manggis sujatinya sikap penghormatan yang patut untuk ditetapkan sebagai acuan hormat terhadap pimpinan, iya jika kita konotasikan positif. Namun kebenaran sifatnya sangat relatif, bahkan antara subjektif dan objektif tak ada lagi sekat-sekat penghalang, terkait kebenaran subjektif dalam konotasi negatif Mecik manggis, yakni sebuah kebenaran yang faktanya direkayasa dan bergantung dengan situasi, kondisi yang memungkinkan dengan apa yang mungkin akan diraih, tanpa toleransi terhadap pesaing-pesaing ulung yang berseragam keteguhan hati.
Masa-masa prestasi diperjualbelikan dan cukup dengan mecik manggis maka prestasi fiksi tergapai. Jujur aku merasa bersalah telah mengatakan ini, sekali lagi maafkan aku yang kosong akan tipu muslihat, mecik manggis sebagai kambing hitam dalam kobohongan sistematis yang mengingkari azas kebenaran itu sendiri. Aku cemburu dengan keadaan yang ada, dimana sebuah kejujuran tak lagi menjadi tempat utama saat ini, apakah karma kehabisan bahan bakarnya untuk menggilas manusāsura? Entahlah mungkin masih menunggu waktu.
Harapanku terhadap yang masih sadar, tetaplah menjadi apa yang kau inginkan, karena asa kebenaran semakin jauh bahkan hampir tenggelam di barat bersama matahari potensi prestasi asli, tak ada yang patut untuk dipercaya, bahkan aku yang berjalan di jalan yang berbeda, kemunafikan dan kebodohan telah bersahabat bersama hati nurani saat ini, dengan kenyamananya masing-masing. Jika kau tak nyaman dengan situasi ini bergeraklah, mari aku antar bersama, mengembalikan “Mecik Manggis” pada porosnya di sisi positif. [T]
JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan bangunan pencakar langit. Orang dat...
KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., berbagai program revitalisasi...
DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai hitam. Di depannya, seorang mahasiswa berdiri sembar...
PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLA...
ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek informasi tentang Bung Karno....
DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan ketika musim kering datang. Dari tradisi...
Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini dua cerita yang telah direvitalisa...
Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika kuantum dan Interpretasi Kopenhagen. Nam...
JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar dari isi rekeningnya: semesta pasti punya rencana khusus...
Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah, hutan tua mendekapnya denganakar-akar yang t...