“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
Seperti yang sering saya katakan, bahwa kampung saya, orang-orangnya masih berpikiran hirarkis dan sistem feodalisme masih ada sampai sekarang. Masih ada raja-raja kecil (priyai) di sana.
Tidak percaya? Silakan Anda lihat sendiri ke sana. Anda akan menjumpai beberapa kalangan birokrasi yang mencoba berlagak priyai dengan rupa-rupa piranti, menjaga jarak begitu rupa hingga benar-benar melayang di atas tanpa pijakan. Silakan berkunjung ke kantor-kantor yang tak mudah terjangkau sembarang orang, walau jidat sudah menunduk menyentuh tanah.
Di kampung saya, raja-raja kecil itu (priyai)—orang kaya, orang-orang pintar, atau yang dianggap pintar, atau yang mengaku pintar, birokrasi—kebanyakan tidak suka domokrasi. Mereka sangat menginginkan adanya status quo. Katanya, agar kampung senantiasa tentram dan tenang, tiada riak dan gelombang, seperti air telaga kami. Agar suasana kampung tentram, katanya, masyarakat harus punya pendapat seragam dengan pendapat para raja-raja kecil itu, semua langkah dan sepak terjang mesti pas dengan ukuran yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Kok sampai ada yang berbeda pendapat sekecil apa pun, itu adalah sebuah ancaman. Pantas didoakan kualat.
Raja-raja kecil itu, menjaga kondisi status quo begitu cermatnya. Begitu sempurnanya status quo itu tercipta, dan saking tentramnya, kampung saya tampak sedang tidur nyenyak baik siang maupun malam. Menurut raja-raja kecil, lebih baik penduduk tidur nyenyak daripada bangun dan bikin gaduh, bikin berisik saja.
Barangkali saya sepakat, ada orang yang menghujat, dan menganggap semua koruptor adalah bangsat sosial, tapi ada yang lebih parah dari itu, yaitu koruptor yang memperkuda penduduk sekampung. Sudah nilep uang penduduk, masih merasa punya martabat berlebih dari penduduk lagi. Itu tidak hanya sekadar bangsat sosial namanya, tapi bisa lebih menjijikkan dari itu.
Sikap seperti ini, hanya bisa dilawan dengan kesadaran. Penduduk harus memiliki rasa kesadaran dan rasa kecewa. “Sebab rasa kecewa adalah pertanda seorang intelektual, karena hanya orang dungu, yang tidak peduli kopi susu datau air comberan,” begitu kata Mahbub Djunaidi dalam esainya yang bertajuk ‘Berita’ (1988).
Penduduk harus berani mendongakkan kepala ke atas, berani menatap matahari, bukan menjadi penakut menyuruk-nyuruk ke dalam tanah, seperti gangsir. Apa perlu RM. Tirto Adhi Suryo bangkit dari kuburnya untuk menyadarkan penduduk? Atau Pramoedya Ananta Toer juga bangkit dari kuburnya untuk menulis ‘Bumi Manusia’ dengan versi yang baru?
Tidak perlu menunggu siapa-siapa. Ini zaman reformasi. Sudah tak ada lagi Belanda dan Jepang di kampung. Sudah saatnya, penduduk meruntuhkan status quo itu—dan menikmati demokrasi. Agar, kampung kita menjadi kampung yang bermartabat. Cerah. Tidak suram. Ada pepatah Buddhis mengatakan: “Daripada mengeluhkan kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.”
Mari! Kita sama-sama meruntuhkan penjara status quo itu—dan melangkah keluar untuk menyongsong udara hangat kebebasan.
(2019)
*Tulisan ini terispirasi dari esai Mahbub Djunaidi yang bertajuk “Status Quo” (1987).
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...