Pengantar
Tak pernah saya bayangkan cerita epos Ramayana yang begitu/diagungkan dengan pemahamn hitam putih yang sangat gamblang dan nyata bentuknya, melalui novel yang mengambil setting Kisah Ramayana mampu dibuat demikian rumitnya ketika digiring kepada persoalan moralitas yang berkaitan dengan relasi perempuan dan laki-laki. Saya harus berterimakasih kepada Cok Sawitri yang membangunkan pertapaan saya selama ini.
Saya sadar betul, sudah lama rasanya saya tidak peduli dengan ketimpangan cara berpikir yang disebabkan oleh berbagai bentuk ketidakadilan dalam relasi sosial. Ini terjadi, mungkin saya bosan, atau kah frustasi dengan berbagai tontonan kekerasan yang tiada henti dalam relasi sosial. Sampai pernah saya berpikir : “betapa nikmatnya menjadi orang yang tidak tahu apa-apa, karena kemampuan tahu tentang sesuatu justru membawa dalam kubangan kegelisahan”. Tetapi setelah saya melalap untaian kata-kata yang tertuang dalam Bab demi bab, bagian demi bagian dalam Novel Sitayana membuka kesadaran saya bahwa: hidup ini adalah perjuangan, ketika dihadapkan pada kebuntuan, manusia harus menemukan sublimasi untuk menjaga api perjuangan”.
Terimakasih Cok atas kiriman tanda yang tidak mudah ditangkap dengan mata telanjang. Hanya orang yang memiliki ketajaman intuisi dan rasa sajalah yang sanggup menembus batas pemikiran anda. Teruslah berkarya, tidak hanya untuk sebuah popularitas, bukan pula untuk penyaluran keinginan, tetapi di atas semua itu, upaya membangun kedigjayaan diri jauh lebih penting................................... Maafkan raga saya tidak hadir untuk meramaikan gelak perjuangan. Tapi percayalah guratan pikiran saya tentang karya anda melebihi kehadiran yang kasat mata.
Ulasan
Novel Sitayana kini telah menjadi milik publik, sehingga dia
bebas mau diapakan saja. Pengarangnya sudah mati - setidaknya itu menurut
Nietzsche. Saya bukan sastrawan, tetapi saya adalah pengamat sosial yang
kebetulan kesehariannya bergelut dengan bidang sosiologi, sehingga cara saya
menikmati novel ini bukan sebagai sastrawan tetapi sebagai pengamat yang ingin
medudukkkan kehadirannya sebagai representasi kehidupan sosial tentang
perempuan dan laki-laki yang acapkali disederhanakan, di remeh temehkan,
di nomorduakan ketimbang urusan politik, kenegaraan, maupun kekuasaan.
Secara sosiologis kehadiran novel Sitayana sebagai sebuah karya sastra dapat kiranya dinilai kandungan yang tersirat maupun yang tersurat. Intelektualitas dari karya ini tak terbantahkan dari sisi kecerdasan gagasan dalam menyoal persoalan sosial melalui setting epos yang sangat diagungkan dan tidak lekang oleh perubahan jaman. Unsur imajinatif dari karya ini lewat karakter tokoh-tokohnya kiranya menjadi kekuatan mampu membuktikan bahwa penulisnya punya daya imajinasi yang melesat melampau jaman saat epos ini dihadirkan sebagai karya sastra yang adiluhung.
Demikian pula pada aspek pemaknaan. Karya ini kaya dengan makna sepanjang kita mampu memainkan daya kritis kita. Jika tidak melalui frame kritis, dia tidak lebih hanya sebuah karya yang terdiri atas kumpulan kata-kata yang indah, alur yang konsisten, kisah yang mengharu biru- tak lebih dari itu. Justru lewat daya kritis dan bekal teoritik kita akan sanggup menemukan makna di balik tajamnya kata-kata/bahasa. Dalam kontek ini, Ariel Heriyanto (1984) mengatakan “bahasa adalah alat penggerak. Dapat menggerakkan hati manusia, mempengaruhi dan mengipnotis”.
Setidaknya bedah karya sastra dari perspektif sosiologi
haruslah ditakar dari kesanggupan karya itu menggerakkan hati, mempengaruhi dan
terpenting mengipnotis. Tiga unsur sastra (intelektualitas, imajinatif dan
makna) seharusnya dapat dilihat dari kehadiran novel ini. Melalui cara itulah
struktur novel dapat ditemukan, alur dapat dipahami, tema nya gamlang,
penokohannya jelas. Saya tidak akan menjadikan novel Sutayana sebagai monumen,
namun saya harus sependapat dengan Katrin Bandel (2006:2) bahwa karya sastra
dapat dijadikan sebagai Taman Bermain. Layaknya sebuah taman bermain dia ramai,
menggembirakan dan tidak selalu bersih.
Apa yang dapat ditemukan layaknya cara kerja bedah sastra
mau, tidak mau saya harus mengawali cara kerja bedah sastra dengan
memperhitungkan teori yang digunakan. Ada dua teori teori yang digunakan untuk
membedah karya Sutayana yaitu teori struktur novel dan kritik sastra feminis.
Stuktur Novel
Pemakaian teori struktur novel dimaksudkan bertujuan untuk
menemukan kebulatan makna intrinsik melalui kritik sastra. Dalam kontek ini
perlu dipahami novel merupakan struktru yang bermakna. Novel tidak sekedar
rangkaian tulisan yang menggairahkan ketika dibaca, tetapi merupakan struktur pikiran yang tersusun dari
unsur-unsur yang padu. Untuk mengetahui makna tersebut diperlukan kritik
sastra. Menurut Culler (1977:viii), kritik sastra pada dasarnya merupakan upaya
untuk menangkap atau memberi makna karya sastra; sedangkan menurut Teeuw
(1983:4) kritik sastra merupakan usaha untuk merebut makna karya sastra.
Novel sebagai salah satu bentuk cerita rekaan merupakan
sebuah struktur yang komplek dan harus dipahami sebagai bagaian dari
keseluruhan. Untuk memahami Novel Sutayana haruslah dianalisis terlebih dahulu
unsur-unsur intrinsiknya. Menurut Stanton (1985:11-36) unsur intrinsik sastra
adalah fakta, tema, dan sarana sastra. Fakta dala sebuah cerita rekaan meliputi
alur, latar tokoh, dan penokohan. Menurut Sugihastuti dan Suharto (2015:45)
konsentrasi pokok yang mesti menjadi perhatian dalam bedah karya sastra adalah
tiga unsur pokok yang meliputi tokoh utama, konflik utama, dan tema utama.
Tema Utama
Tema menjadi salah satu unsur cerita rekaan yang memberikan
kekuatan dan sekaligus sebagai unsur pemersatu semua fakta dan sarana cerita
yang mengungkapkan masalah kehidupan. Tema yang mencuat dari novel ini adalah
tema tentang Cinta. Namun, menariknya ada tema yang tersembunyi dibalik cerita
yang mendukungnya yaitu tema kekuasaan dan kekerasan simbolik.
Tema Cinta sudah ditampakkan pada bagian prolog yang
akhirnya menjadi masalah utama yang berlanjut sebagai masalah yang akan
menentukan arah cerita. Berikut kutipan percakapan Suparnaka dengan Rawana.
Suparnaka
tertawa kecil, “Cinta pertamamu itu, ratusan tahun yang lalu, seharusnya adalah masa lalu, Mengapa Kakanda tak
sanggup melupakan? Seorang pertapa? Yang begitu
kusam dalam hutan yang gelap berlumut?”
Rawana menyeringai, mengusap dadanya, memejamkan matanya, “Aku selalu
ingat, saat itu pagi tiba,
usai Siwa menjepit jempol tanganku. Aku merabas hutan-hutan dan berdiri begitu rupa, tak tahu tujuan dan
perempuan itu tengah melangkah memetik bunga,
rambutnya terurai.
“Apakah dia mengobati jempolmu?” Suparbaka bertanya dengan senyum
menggoda. Sungguh wajah rawana
bagai remaja yang tengah jatuh cinta, penuh tersipu Rawana mengangguk.
“Aku tadi melihat Sita, ia sama persis dengan Wedawati, dan lelaki itu
bukanlah Wisnu, jadi aku berhak
mengambilnya. Aku akan mencarinya ke surga atau neraka jika ia menolakku kali ini. Sebab ia dahulu berkata, ia
hanya mau dikawini Wisnu...”
“ Dia Sita, bukan Wedawati...”
“Bagiku sama saja....”
Sebab aku mencintainya, sebelum kalian lahir. Sebab dialah yang pernah
memenuhi isi dadaku, lalu dia pula yang
membuat beratus-ratus malamku merasakan dada yang hampa. Ah, kalian tak pernah merasakan cinta maka akau paham kalian
akan mengira aku pengecut
Cerita rekaan Novel Sitayana, tokoh Rawana digambarkan
sebagai tokoh yang ingin membuktikan cinta sejatinya yang akhirnya dipahami
inilah masalah awal yang menggulirkan rangkaian cerita rekaan berikutnya.
Selanjutnya, mulailah pijakan kekuasaan yang tersembunyi dan
menyebar menjadi penentu berikutnya arah cerita. Ini tampak dari pembatalan
Rama dinobatkan sebagai Raja Ayodya atas tuntutan Dewi Kaikeyi. Berikut paparan
pengarang.
“Siapa yang menghasut Ibu sehingga Ibu menekan Ayahanda dengan kisah percintaan masa lampau itu?” desis Bharata,
wajahnya muram, malu dan kelu, “Tahukah
Ibu, urusan negara bukanlah urusan pemenuhan janji percintaan.... “Tahukan Ibu, Ayodya ini bukanlah
negara kuat dan hebat. Dengan sikap Ibu, negara ini di mata musuh, di mata sekutu, kian rapuh, lemah, tanpa
martabat.....”
Dewi Keikeyi tersenyum menanggapi pertanyaan putranya yang mirip desis
ular kobra di musim panas. “Apa
yang engkau pahami tentang politik kekuasaan? Kalian para lelaki selalu mengira soal negara adalah soal genting.
Padahal kalian memperlakukan urusan
politik seperti selera kalianakan minuman, selera kalian akan perempuan dan judi. Apa bedanya kecintaan
kalian kepada kuda, kepada ayam, dan beberapa
kegiatan keperwiraan yang kalian kirai tu juga begitu gentingnya? Begitu hebat martabatnya?”
Kekuasaan yang tersebunyi dari
Dewi Keikayi menjadi pertanda bahwa kekuasaan dapat dimiliki oleh siapa saja,
tanpa sekat jenis kelamin, usia maupun status sosial. Hal ini sejalan dengan
pemikiran Foucault (Haryatmoko, 2016:15)
berikut ini.
“Kekuasaan ada di
mana-mana; kekuasaan datang dari mana-mana. Kekuasaan tidak merupakan hak
istimewa yang didapat atau dipertahankan kelas dominan, tetapi akibat dari
keseluruhan proses srategisnya. Dengan demikian, kekuasaan tidak bisa
dilokalisir pada tempat tertentu: menjadi milik seseorang. Kekuasaan itu ada di
mana-mana menyebar dalam hubungan-hubungan masyarakat “(2016:15).
Novel Sitayana lewat tema kekuasaan menawarkan cara pandang
kritis bahwa perempuan dapat bermain di ruang kekuasaan dengan cara dan
hasratnya sendiri. Hal ini menjadi semakin jelas tatkala tema kekuasaan
dikaitkan dengan cara pengarang menghadirkan penokohan dalam ceritanya.
Satu hal yang tidak dapat ditutupi dari cerita rekaan yang dimulai dari prolog sampai epilognya adalah munculnya kekerasan simbolik yang menggunakan bahasa sebagai alat. Berikut kekerasan simbolik yang pokok dari cerita Sitayana adalah.
1. Sayembara putri Raja Jenaka menjadi contoh bagaimana kekerasan simboli ditimpakan kepada perempuan. Sita diperebutkan dalam ajang sayembara, tak ubahnya sebagai barang yang layak untuk diperebutkan untuk mengangkat harkat keluarga. Berikut pernyataan Raja Janaka
“Anakku ini lahir dari mata bajak, di antara tanah yang tergaru, ia
dilahirkan dan disertai sebuah busur. Barang siapa yang sanggup melengkungkan
busur ini apalagi mematahkan,
maka ia akan menjadi suami dari putriku.”
Pembedaan terhadap perempuan kembali muncul tatkala Rama
meminta Sita memilih laki-laki lain dengan berucap.
“Aku terima maafmu itu, sejak lampau, adikku Wibisana. Setelah sekian
lama, menempuh segala rintangan,
melepas segala beban derita. Maka hari ini, setelah kupertimbangkan dengan seksama, sebab aku dan Sita telah lama
berpisah, tidaklah baik bagi kami
berdua bersatu kembali sebagai suami istri, sebab Rawana telah tiada. Maka aku kini mempersilahkan Sita memilih,
Wibisana, Laksmana, atau Bharata sebagai
suaminya.”
Cerita rekaan ini sungguh-sungguh ingin menandaskan betapa
perempuan tidak pernah menjadi dirinya sendiri, memtuskan apa yang dia suka,
termasuk meraih kemerdekaan atas tubuhnya. Betapa kuatnya ayunan tubuh sosial
perempuan yang ditonjolkan oleh pengarah sehingga menjadi pemantik atas
permainan karakter tokoh untuk kisah selanjutnya.
Sejalan dengan pemikiran Piliang (2014:xxvii) : “Di dalam
berbagai ranah sosial, tubuh ‘diproduksi’ sebagai tanda-tanda, yaitu
direpresentasikan melalui ranah bahasa, tanda-tanda tubuh kini menjadi semacam currency,
yaitu ‘alat tukar’ yang mempunyai nilai tukar sesuai dengan fungsinya di dalam
sistem komunikasi sosial.”
Pemikiran Piliang tentang tubuh sosial sebenarnya ditujukan
untuk melihat tubuh dalam masyarakat kontemporer. Namun, prinsip dasar bahwa
tubuh bisa menjadi alat tukar dalam komunikasi sosial kiranya relevan pula
dijadikan pijakan tatkala tubuh perempuan menjadi alat tukar untuk kepentingan
martabat laki-laki.
Wacana bahwa perempuan itu milik laki-laki, perempuan harus
mengalah, harus rela menanggung malu menurut pemikiran Pierre Bourdieu
sebagaimana dikutip oleh Haryatmoko (2016:57) merupakan kekerasan simbolik
dalam bentuk dominasi laki-laki melalui wacana. Hal ini sangat kentara dari
ucapan Rama berikut ini.
“Aku tak mau mengorbankan perasaan istana, martabat istana, dan membuat
segalanya yang baru mulai
menjadi tidak nyaman. Sita akan menuju hutan, dia akan memilih menyucikan dirinya di sana, sampai kalian mengerti
dan menerima keadaan kami saat
diasingkan.”
Sita harus mengalah demi perasaan dan martabat orang lain lewat ukuran moralitas
publik. Lantas siapa yang peduli dengan perasaannya. Bahkan pengujian atas
kesuciann pun tidak mempan mengubah label dirinya yang dianggap sudah tidak
suci. Pertanyaan gugata lainnya yang layak diajukan, “Siapa yang memperkarakan
kesucian laki-laki?”
2. Konsep kesucian. Konsep ini mencuat dalam cerita rekaan bukan hanya ditingkat individu tetapi sampai pada tingkat negara. Uraian dalam cerita rekaan adalah berikut ini.
“Suara-suara tak puas terdengar nyaring. Mempersoalkan bagaimana
mungkin seorang perempuan begitu
lama dibawa seorang lelaki, lelaki itu bukan sembarang lelaki, penguasa tangguh Rawana, akankah Sita dapat menjaga
kehormatannya sebagai
perempuan.”
Kehormatan yang diperdebatkan dalam cerita rekaan ini jelas
menunjukkan strandar yang tidak adil terhadap perempuan dan akhirnya melahirkan
lingkaran kekerasan. Menurut Poerwandari (2002:121) kekerasan terhadap
perempuan sekaligus dapat digunakan sarana teror, penghinaan atau ajakan perang
pada kelompok lain. Kesucian perempuan dilihat sebagai kehormatan masyarakat,
sehingga penghinaan atau perusakan kesucian perempuan akan dipahami sebagai
penghinaan kepada masyarakat.
Latar Cerita
Penilaian saya tentang latar dari cerita rekaan Sitayana
sebenarnya dapat ditangkap dari beberapa aspek yaitu
Pandangan Kulit Novel
Warna Merah Muda dapat mewakili pandangan tentang tokoh
perempuan secara kultural yang dicerikan dalam novel ini. Secara Budaya Tokoh
Sita yang dibawa ke kehidupan modern ternyata tetap dikurung dengan tanda-tanda
gender perempuan seperti sanggul yang mewakili karakter keanggunan, kesopanan
dan dipundaknnya terdapat ratusan bunga yang harus dijaga dan dirawat suoaya
tidak layu. Terpenting dari semua itu tokoh ini dalam cerita rekaan tidak punya
ruang menatap ke depan, tetapi terbelenggu oleh kisah masa lalunya yang
diistilahkan dalam cerita rekaan sebagai KARMA. Ini salah kekuatan yang hidden
yang dimiliki pengarang untuk membuka rasa penasaran kita sebagai pembaca
bagaimana nasib perempuan ini dalam cerita rekaan.
Warna merah muda identik dengan gender perempuan. Dalam hal
ini saya nilai pengarang masih ambigu untuk memastikan kecocokan antara
perwatakan Sita sebagai tokoh utama dalam cerita ini dengan warna yang dipilih.
Sita di sini bukan mewakili warna merah muda yag identik dengan feminin dan
analog dengan kelemahan. Padahal alur cerita tidak mendudukkan Sita menjadi
pendukung kuat karakter feminin. Pembaca bisa tertipu di awal cerita tentang
cara menangkap karakter tokoh. Atau kah ini sebuah kesengajaan untuk membangun
rasa penasaran pembaca. Saya tetap berpegang pada pentingnya penokohan sebagai
bagian perjuangan moralitas yang bisa bebas dari bias adalah hal yang mutlak.
Perwatakan Tokoh dan Konflik
Berbeda halnya dengan kulit yang berwajah ambigu. Perwatakan
tokoh dalam cerita rekaan tetap mempesona.
Tokoh-tokoh utama ditampilkan sangat berbeda dengan
pembacaan masyarakat pada umumnya. Intinya, selama ini tokoh utama dalam epos
Ramayana sangat jelas hitam putihnya. Misalnya, Rawana dikatagorikan tokoh kiri
dengan pensifatan raksasa - jahat dan perusak; sedangkan Rama dan Laksamana
mewakili tokoh baik, putih, bijak dan tanggung jawab. Dalam cerita rekaan ini
semua dijungkirbalikan dan justru menuai pesona atas cerita ini tatkala di bawa
ke perdebatan moralitas dalam kehidupan sosial.
Gambaran Tokoh Utama
Rawana
Tokoh ini di prolog ceritanya digambarkan sebagai laki-laki
yang diberkati Brahma suatu kehidupan abadi dan tak terkalahkan. Ditinjau dari
sisi struktural, karakter Rawana merupakan pengenderan yang diabadikan sehingga
mampu menciptakan kemapanan berpikir yang tidak pernah dipertanyakan. Mengapa
dia begitu diistemawakan, mengapa kekuatannya begitu diagungkan, dimuliakan,
yang seolah-olah tak tertandingi. Namun, ternyata pengarang bisa adil juga,
bahwa keagungan dan kedigjayaan Rawana justru menjadi tidak berdaya dan lunglai
di bawah pesona Perempuan. Rawana dalam cerita rekaan dihadirkan sebagai tokoh
yang mendudukkan cinta abadi kepada Sita yang diucapkan secara terang-terangan,
dan Rama tidak pernah tentang cinta karena rawana menganggap Rama mendapatkan
Sita bukan lewat cinta, tetapi lewat sayembara. Dan dalam cerita klimaknya Sita
termakan akan kesungguhan cinta Rawana. Sungguh sebuah dekontruksi moralitas
yang tidak terdapat dalam epos yang sebenarnya.
Rama
Tokoh ini dalam cerita eposnya dikenal sebagai tokoh yang
mewakili segala kebaikan, dan sebagai titisan Wisnu. Suami yang bertanggung
jawab dan setia. Dalam cerita rekaan citra Rama dijatuhkan sebagai laki-laki
yang tidak bertanggung jawab terhadap istrinya. Dinilai oleh beberapa tokoh
tambahan (Sugriwa, Trijata, dll) sebagai laki-laki pengecut dan egois. Yang
hanya menyerang Rawana hanya untuk membela kehormatan dirinya sebagai
laki-laki. Simaklah ucapan Trijata
“Oh, jadi benar seperti yang dikatakan pamanku bahwa engkau sebenarnya
hanya menipu dengan busana kesucianmu
menyerbu Alengka, membujuk Sugriwa dan atas nama
kejantanan hendak merebut istrimu sebab derajat kelaianmu akan hilang bila tak mengambil istrimu kembali? Dan, kini
setelah engkau memenangkan perang, engkau
menolak istrimu, menyuruh dia memilih laki-laki lain? Dan kelak jika
engkau merasa
tak puas hati, akan engkau perangi pula.
Hujatan Trijata terhadap Rama bisa menjadi cara kita
berlatih untuk memahami tingkat kerumitan moralitas laki-laki yang seringkali
tidak pernah dipersoalkan. Dari segi penokohan, Tokoh Rama dalam cerita rekaan
dapat dikagorikan tokoh yang tidak pro feminis, tetapi tokoh tradisional yang
abadi dengan kecongkakan sudut pandang yang merendahkan perempuan, atau bisa
jadi misoginis - membenci perempuan. Dan, di satu sisi bahkan digambarkan tolol
ketika menyasikkan keberanian Sita atas pendiriannya.
Sita
Sosok Sita yang dikenal pada umumnya adalah perempuan cantik
dengan karakter lemah lembut, halus tutur katanya, pendiam, ikhlas (bersedia
dijodohkan). Sangatlah tepat Sita menjadi sosok perempuan yang biasa sepi,
sunyi tiada tuntutan, hormat dan pengabdi pada mertua, ipar serta suami. Tetapi
siapa nyana kondisi yang dikurung dengan kesunyian, dalam cerita rekaan ini
ditampilkan sebagai perempuan yang gelisah, banyak pertanyaan, gugatan, kukuh
tata lakunya dan keras pendirian atas perasaan ketidakadilan yang menimpanya.
Hal ini tentunya merupakan pembalikan dari pemahaman yang umum tentangnya. Dari
perspektif kritik sastra feminis, Sita dalam cerita rekaan dibuat menjadi istri
yang feminis dengan karakter pemberontak lewat protes atas perlakuan suami yang
meragukan kesuciannya. Simaklah apa katanya.
“Dunia boleh menghiburku, dunia boleh memujaku, tetapi aku yang tahu,
apa yang kurasakan dari sejak perkawinan
hingga saat ini. Dan aku tidak sepakat dengan ketidakadilan
yang dibebankan ke padaku. Hukum yang kalian
bentuk meminta perempuan sebagai
istri untuk setia, untuk taat atas segala apapun yang kalian nyatakan sebagai kebenaran, bahkan atas nama Dharma. Jujurlah kepadaku, tanpa perempuan, kehidupan di muka bumi akan
habis. Tetapi kalian takut untuk mengakuinya
dan membiarkan kekuatan tulang dan senjata menentukan masa depan hidup ini.”
Sikap Sita atas situasi yang dihadapinya, bukanlah Sita yang
dikenal pada umumnya. Penonjolan sikap feminis dalam cerita rekaan ini secara
sosial dihadirkan dengan sosok pemberani dan menggugat ketidakadilan yang
menimpanya. Hal ini menguatkan latar cerita di mana Sita menjadi tokoh sentral
sesuai judul novelnya. Bukan hanya pemberani, dia juga digambarkan sebagai
perempuan yang tegas mengambil keputusan secara mandiri ketika dia diminta
kembali ke Ayodya. Dalam epilog simaklah apa prinsip ketegasannya menjawab
perakuan tidak adil yang ditunjukkan dunia sosial padanya.
“Dengarlah, aku tidak sudi lagi hidup dengan prasangka. Percuma aku
membentang kesabaran kepada
kalian, maka kini dihadapan ayahku, dihadapan mu wahai, Rama jika aku suci, maka aku mohon kepada ibuku, ibu
bumi agar mengembalikan aku ke dalam
rahimnya. Jika aku tak suci, biarkan aku hidup ribuan tahun dalam cercaan mereka semua, termasuk dari suamiku sendiri.”
Sitayana - nama yang mengandung unsur dinamis, penuh gejolak
sesuai arti leksikalnya. Yana- Indonesia = perempuan bergerak; Yana - Jawa =
laki-laki bergerak; Yana - Sunda =
prajurit, pahlawan. Penambahan kata yana dibelakang Sita merupakan cara
pengarang melakukan dekontruksi atas kemapanan cara berpikir tentang perempuan
sebagai makhluk yang DIAM.
Trijata sebagai tokoh tambahan
Tokoh ini hadir sebagai pelengkap barisan pro feminis yang
membingkai cerita atau mungkin karakter feminis justru menjadi target pokok
yang tersembunyi. Menjadi sahabat karib Sita selama di Alengka sekaligus
menjadi pembela Sita benar-benar menjadi pelengkap yang memberi keyakinan
kepada pembaca ternyata meraih keadilan perlu pengorbanan, perlu keyakinan
bahwa menjadi berbeda adalah pilihan yang memuaskan orang yang berjiwa feminis.
Berpihak pada keadilan sangat ditonjolkan pada karakter Trijata.
PENUTUP
Terimakasih telah membuka pintu kesadaran bahwa keberanian
mengubah ketidakadilan jangan dibatasi atas ruang dan waktu, sebab jika rasa
ketidakadilan tidak diubah, maka dunia tidak akan pernah berubah. Butuh
keberanian, komitmen agar keluar dari lorong kenistaan dan kesengsaraan.
Daftar Rujukan
Ariel Heriyanto. 1984. Sastra, Sejarah dan Sejarah Sastra. Dalam
Andy Zoeltom (Ed.) Budaya Sastra. Jakarta: CV Rajawali Press.
Sugihastuti dan Suharto. 2015. Kritik Sastra Feminis. Teori dan
Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Piliang, Yasraf Amir. 2014. Tubuh Sebagai Modal Kehidupan (Pengantar)
Dalam Ardhie Raditya. Sosiologi Tubuh. Membentang Teori di ranah Aplikasi. Yogyakarta:
Kaukaba.
Poerwandari, Kristi. 2002. “Perempuan “Sebagai Yang Lain” dan Kekerasan”.
Jurnal Perempuan, Vol 26. Hal 120-121
Haryatmoko. 2016. Memmbongkar Rezim Ketidakpastian. Pemikiran Kritis
Post-Strukturalis. Yogyakarta; PT Kanisius.
Katrin Bandel. 2006. Sastra, Perempuan, Seks. Yogyakarta:
Jalasutra