Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
Seniman yang tergabung dalam kelompok Oerip menggelar pameran lukisan bersama di Bentara Budaya Bali (BBB). Eksibisi yang merujuk tajuk “Oeroep” atau Urup ini dibuka secara resmi pada Kamis (3/10) di BBB.
Konteks Urup dalam pameran ini terkait pula dengan falsafah Jawa yang berbunyi “Urip iku urup” atau hidup itu nyala. Dapat diartikan “hidup yang sejati adalah ketika mampu menerangi sekitar”. Sebagai individu, manusia sebaiknya juga mampu menerangi dirinya sendiri. Inilah yang pertama dilalui dalam proses pendewasaan dalam diri.
Manusia juga makhluk sosial yang butuh terhubung dengan manusia lain. Urup dalam wilayah ini berarti tindakan nyata, karena hubungan juga bersifat “materi” dengan “materi”. Kesulitan manusia yang lain tidak selesai jika hanya berupa rasa empati saja. Doa menjadi pengingat terhadap Tuhan dan menjaga rasa ikhlas. Sedang tindakan merupakan “bukti” terhadap Tuhan maupun manusia lain. Dalam seni rupa, ide dan gagasan tidak mudah diapresiasi. Hasil karya visual itulah yang dinikmati bersama.
Adapun seniman dari kelompok Oerip antara lain Tjahjadi Hartono, Ruslan Pangeran, Katirin, Joni Ramlan, Januri, Ipong Purnama Sidhi, Gus Her. Selain tujuh perupa kelompok Oerip, turut pula dalam pameran ini seniman Lini Natalini Widhiasi, yang juga putri almarhum pelukis Tedja Suminar.

Peristiwa pameran ini merupakan sebuah refleksi estetis seni lukis, yang memaknai secara kritis arti kehidupan manusia, dan mencoba melihat ulang realitas sosial kita hari ini berdasarkan ingatan-ingatan sejarah. Melihat dan menghayati kembali arti peristiwa itu melalui isyarat-isyarat simbolis, lalu sambil menakar keterkaitannya dengan konteks kehidupan kita hari ini.
Pameran pelukis-pelukis senior ini mengetengahkan 39 karya terpilih, berlangsung hingga 12 Oktober 2019 mendatang. Adapun sebagai penulis yakni Janu PU.
Diungkapkan Janu PU dalam tulisan pengantarnya, bahwa pameran “Urup” ini boleh dikata adalah tindakan nyata Kelompok Urip dalam proses berkesenian. Karya yang ditampilkan merupakan hasil. Menjadi penghubung antara pengunjung di ruang pamer dan proses seniman di studio. Ada juga proses ketika bersosialisasi, pengalaman spiritual, pencapaian kedewasaan berpikir. Semua itu juga merupakan proses yang ingin dibagikan kepada publik. Kehidupan adalah proses, inilah urip. Jika manfaat setiap karya dapat sampai kepada masyarakat penikmat seni, inilah Urup.
Mewakili kelompok Oerip, seniman Ipong Purnama Sidhi mengungkapkan bahwa terbentuknya kelompok Oerip tidaklah disengaja, bermula dari pertemuan mereka dengan seorang mantan wartawan senior yang kini mukim dan memiliki galeri seni di Kota Gede, Yogyakarta. Kelompok Oerip bersifat cair, terdiri dari 7 seniman. Kali ini secara khusus mereka mengundang perupa Lini Natalini untuk bergabung dalam pameran di Bali.
Pada sambutannya sewaktu membuka pameran, budayawan sekaligus pendiri ARMA Museum, Bapak Agung Rai, mengungkapkan kekaguman dan rasa salutnya pada komunitas ini. “Saya salut, karena komunitas ini sangat ulet dan selalu bekerja keras. Kreativitas dan semangat mereka perlu ditiru,” ungkap Agung Rai.
Ditambahkannya, karya-karya para seniman pameran “Oeroep” ini sudah tidak diragukan lagi. Selain berpameran di dalam negeri, mereka juga mendapat pengakuan secara internasional. “Melihat ini saya memiliki keyakinan bahwa ke depan kita akan melahirkan banyak maestro seni rupa,” pungkas Agung Rai. [T] [*]
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...