Menggugat Empati Elite kepada Rakyat
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
Ini pertanyaan yang begitu sering kita dengar dalam masyarakat, jawabannya ya dan tidak. Faktanya memang ada obat-obat yang jika dikonsumsi dalam waktu lama dapat merusak ginjal. Sebaliknya, ada obat-obat tertentu yang menurut rekomendasi medis, memang harus dikonsumsi dalam jangka waktu panjang. Justru jika dihentikan penggunaannya akan dapat menyebabkan gagal ginjal.
Memahami keduanya merupakan hal yang begitu penting. Karena keduanya menyangkut kesehatan ginjal, satu organ vital yang kerap menjadi momok bagi masyarakat. Namun realitanya, kekeliruan persepsi masyarakat membuat kedua hal ini menjadi terbolak-balik. Sungguhlah kalau demikian, dalam terapi komprehensif, selain diet seimbang, olahraga teratur dan obat tepat, edukasi menjadi isu sangat penting dan strategis.
Ginjal dalam tubuh berperan sebagai organ pembuangan. Sebagai satu organisme hidup, maka tubuh sudah tentu menghasilkan limbah sebagai produk sampingan dari pembentukan energi dan berbagai kebutuhan biokimia sel. Limbah yang dihasilkan terutama adalah air, elektrolit dan sampah-sampah sisa protein. Oleh karenanya, jika terjadi gagal ginjal maka tubuh akan keracunan limbahnya sendiri. Dapat memberikan gejala sesak nafas akibat cairan masuk ke peparu. Juga dapat menimbulkan mual-mual yang sering cuma dikira maag, bahkan gangguan kesadaran dan kejang-kejang jika limbah tubuh masuk hingga ke otak.
Dalam keadaan normal, ginjal seharusnya dapat menghasilkan volume air kencing sekitar 1.5 hingga 2 liter dalam sehari. Saat terjadi gagal ginjal stadium akhir, ginjal menghasilkan air kencing sangat sedikit bahkan dapat sampai tak ada produksi urine sama sekali (anuria). Dalam keadaan ini, tak ada pilihan lain, harus dilakukan tindakan cuci darah atau cangkok ginjal. Jika tidak, maka dapat terjadi keadaan yang mengancam jiwa. Berbagai penyakit medis dapat menimbulkan gagal ginjal, diantaranya darah tinggi dan kencing manis.
Darah tinggi dan penyakit diabetes, jika tak diobati dengan baik dapat menyebabkan komplikasi stroke, serangan jantung dan gagal ginjal. Penanganan kedua penyakit ini selalu harus memadukan psikologis yang baik, diet seimbang, olahraga teratur dan obat yang tepat. Karena keduanya merupakan penyakit menahun, maka penyakit darah tinggi dan diabetes memerlukan pengobatan rutin dan terus-menerus. Jika tidak, maka cukup mudah dapat dipahami pada pasien akan terjadi berbagai komplikasi tersebut, salah satunya gagal ginjal yang kemudian memerlukan tindakan cuci darah. Maka dapat disimpulkan, minum obat jangka panjang pada penyakit-penyakit darah tinggi dan diabetes tidaklah menyebabkan gagal ginjal, melainkan sebaliknya justru melindungi ginjal.
Lalu obat-obat apa yang dapat menyebabkan gagal ginjal? Obat-obatan yang diketahui secara luas menyebabkan kerusakan ginjal adalah golongan obat-obat rematik. Sehingga diharapkan sekali penggunaannya tidak dilakukan terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama, kecuali menurut petunjuk dokter.
Oleh karena itu, pasien harus memahami bagaimana mencegah agar rematik atau radang sendi yang dideritanya dicegah agar tidak kumat sehingga tidak perlu minum obat rematik. Kalau toh perlu minum karena rematiknya kumat, sebaiknya dosisnya sesuai dan cukup diminum dalam jangka waktu yang pendek, sekitar tiga sampai lima hari saja. Kebiasaan membeli sendiri obat-obat rematik lalu tanpa disadari mengkonsumsinya dalam jangka waktu yang lama merupakan penyebab tersering gagal ginjal. Jadi, masyarakat harus cerdas dan memahami, obat-obatan dalam penanganan rematik bukanlah yang utama, yang terpenting adalah bagaimana paham caranya mencegah agar rematik itu tak sering kumat.
Meski penyebab utama radang sendi adalah faktor usia yang tak dapat dihindari, namun sebetulnya keparahannya selalu dapat dicegah atau diminimalisir. Jika usia merupakan faktor yang tidak dapat dimodifikasi, maka faktor-faktor lain yang memperberat jelas dapat dicegah.
Misalnya mengurangi berbagai aktifitas yang kurang baik untuk sendi seperti naik turun tangga, mengangkat beban terlalu berat atau duduk terlalu lama. Sebaliknya dianjurkan rajin jalan kaki pada track datar, menggerakkan sendi-sendi tubuh dalam keadaan duduk atau berbaring yang dikenal sebagai gerakan tanpa beban. Jika radang sendi dicetuskan oleh faktor metabolik dalam hal ini asam urat, maka disarankan cukup minum air, sebanyak 10-12 gelas sehari, menghindari asupan makanan yang mengandung asam urat seperti jeroan, kacang-kacangan, kulit dan alkohol. Nah, jika radang sendi mulai kumat, maka untuk mengurangi konsumsi obat, sebaiknya terapi dibarengi dengan tindakan fisioterapi.
Edukasi sungguh penting dalam bidang medis, karena penyakit dan pengobatan bukanlah persepsi melainkan kognisi.[T]
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi Devi menempatkan bumi sebagai manife...
PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut berakar pad...
SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ditampilkan justru wajah-wajah nyata, s...
“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens), menempatkan tindakan ekologis ‘menana...
GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung, tetapi aktivitas di lingkungan sekolah justru ber...
MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur. Mereka meletakkan tas, sembari menarik nafas panjang, sambil menikm...
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru SMP Negeri 1 Singaraja pada Selasa, 21 A...
JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan dari Generasi Z memanfaatkan gawa...
KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT, telah memberi dampak positif dalam menjaga kesehatan ekosistem laut dan pesi...