Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap manusia dipastikan memiliki beribu kesalahan baik terhadap orang lain maupun dirinya sendiri. Di saat ia menyadari kesalahan yang diperbuat, ia memohon maaf kepada orang yang merasa tersinggung atau pun dirugikan. Jika permohonan maaf diutarakan dengan sepenuh hati maka orang tersebut akan dimaafkan. Ya, sesama manusia patut menerima kesalahan dan kekurangan. Tan hana wwang swasta nulus. Ungkapan yang sering terdengar itu hanya untuk mempertegas.
Orang Bali meminta maaf dengan kata ampura yang sering dikatakan di dalam konteks komunikasi antara orang pertama dengan orang kedua yang lebih dihormati. Pada saat mengucapkan kata ampura atas kesalahan, orang kedua memaafkan dengan balasan nggih ten kenapi, selesai. Biasanya percakapan macam demikian terjadi karena kesalahan kecil. Jika terjadi kesalahan yang lebih serius dan melukai hati orang lain, kata ampura saja tidak cukup.
Satu lagi bentuk permohonan maaf orang Bali yaitu ngidih pelih. Permohonan maaf yang lebih dalam. Bisa dikatakan seperti itu. Kedua istilah tersebut memang sama-sama diartikan dengan “mohon maaf”. Akan tetapi, tidak semudah itu dapat disamakan. Walaupun diterjemahkan dengan istilah yang sama, keduanya hadir dalam situasi yang bertolak belakang. Selain itu juga ditentukan oleh hubungan si pelibat percakapan.
Jika kata ngidih pelih dibedah secara harfiah maka arti yang didapatkan adalah “minta salah”. Ada apa gerangan meminta kesalahan? Ternyata bukan maaf yang diminta di dalam konteks percakapan tersebut melainkan memohon kesalahan yang ia perbuat agar dikembalikan pada dirinya sehingga orang yang tersakiti tidak terbebani oleh kesalahan yang terjadi walaupun tidak sepenuhnya dapat memperbaiki keadaan. Permohonan serius tersebut dapat dikatakan sebagai penerimaan atas kesalahan diri dan permohonan kekurangan diri. Inilah karakter manusia Bali.
Kata ngidih pelih tidak muncul dengan mudah dari mulut setiap orang yang bersalah terhadap orang lain. Jika dampak dari kesalahan tersebut dirasa sangat merugikan maka istilah tersebut mewakili rasa penyesalan yang dalam dan introspeksi yang tulus. Hal itu tidak akan terjadi jika tidak ada kedekatan hubungan antara keduanya. Dengan kata lain, ucapan ngidih pelih hadir di antara hubungan kekeluargaan baik dalam kontek kekerabatan mapun persahabatan. Pihak yang dirugikan pastinya menerima permohonan tersebut walaupun di dalam hatinya masih menyimpan rasa sakit dan duka.
Permohonan maaf seperti itu menyiratkan konsep sosial masyarakat Bali yaitu manyama braya yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan yang kuat. Walaupun di dalam hubungan bermasyarakat yang selalu ada rasa kecocokan maupun ketidakcocokan, orang Bali tetap menanamkan rasa kepedulian dan toleransi yang tinggi. Saling memaafkan satu sama lain memang menjadi tali penguat jalinan persaudaraan. Tetapi, sikap tersebut patutnya juga menjadi hal yang memberikan penyadaran untuk berhati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku agar tidak merugikan orang lain baik sengaja maupun tidak disengaja.
Inilah pentingnya bahasa dalam menunjukkan kualitas diri orang Bali. Bahasa tidak hanya media penyampaian pikiran tetapi juga penjalin suatu kedekatan mental dan emosional dalam menyatukan fisik yang terpisah menuju pengertian ideasional. Bahasa Bali yang pluralis memberikan ruang kebebasan yang terkendali menuju kesopanan dan kesantunan. Karakter yang kental dari orang Bali. Ngidih pelih mewakili kesantunan dan wujud intropeksi diri manusia Bali. Itulah mulat sarira, penyadaran ke dalam diri.
1 Oktober 2019
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...