Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Kamu sama denganku. Sama-sama manusia yang lahir dari kandungan ibu dan kebingungan mencari ayah. Ibu adalah bumi, tempatmu berpijak. Ayah adalah langit, tempatmu bergantung. Jika tempatmu bergantung belum kamu temukan, kamu cukup minta dipangku ibumu. Jadilah anak dari ibumu, agar diakui ayahmu. Pangkulah aku ibu, lindungi aku ayah. Begitu harusnya katamu. Selama ini, ternyata kita tetap jadi kanak-kanak.
Siapa bilang kita ini sudah dewasa? Ada shastra yang mengajarkan, bukan karena jenggot yang panjang seseorang disebut tua. Bukan juga karena kulitnya yang keriput. Tidak juga karena sudah menikah atau karena usia. Orang disebut tua, jika sudah bijaksana. Bijaksana artinya selalu melihat dari sudut pandang yang tepat. Tidak hanya melihat, tapi juga mengambil keputusan dengan cara yang tepat. Hidup ini pilihan.
Bukan rahasia lagi, kalau kita suka pura-pura bijaksana. Kebijaksanaan tidaklah lahir begitu saja. Tidak cukup hanya dengan membaca. Tidak cukup hanya dengan mendengar keluhan. Kebijaksanaan adalah hasil tempaan. Makin keras tempaan, mestinya makin bijaksana hasilnya. Apa ciri kebijaksanaan jika dicari-cari dalam banyak pikiran manusia? Dalam beberapa studi singkat saya, kebanyakan orang menganggap kebijaksanaan ada di dalam kata “penerimaan”.
Masalah datang bertubi-tubi. Berbagai jurus bertahan dan menyerang juga sudah dilakukan. Lebih lagi jurus-jurus berkelid, juga sudah mafhum. Semua sudah di tingkat praktik. Sayangnya masalah lebih sakti dan cekatan, dan kita kalah. Setelah kekalahan, muncullah kata “penerimaan”. Samakah menerima dengan putus asa? Saya belum sama sekali tahu bagaimana membedakannya. Bolehlah kita tanya kepada penutur kejernihan atau pendharma wacana.
Merenung-renung di tingkat itu juga penting, agar didapat sari-sari hidup. Gunanya, agar hidup tidak hanya sekadar lewat menunggu mati. Karena ada rumus menarik yang diberikan oleh Bhagawan Wararuci. Konon masa muda dinanti oleh masa kanak-kanak. Masa tua, dinanti oleh masa muda. Setelah masa tua ketemu, yang dinanti adalah mati. Bayangkan, ternyata hidup ini adalah penantian.
Apalagi yang lebih mendebarkan dari penantian? Kita dihadapkan pada situasi yang sangat sulit untuk diterka. Akan jadi apa hasil penantian ini nanti. Agar hasilnya berkualitas, maka jadilah penanti yang memiliki kualitas juga. Seperti sedang menjebak burung, pancing jugalah dengan burung. Masak iya, menjebak burung pancingannya naga. Jelas itu tidak nyambung. Kecuali burungnya sebesar galaksi dan naganya sebesar ibu jari, mungkin saja.
Melalui tulisan ini, saya ingin mengatakan sekali lagi, kamu itu daku. Kita sama dan berbeda di saat yang sama. Dalam beberapa lontar, kita ini disebut sisa-sisa. Kenapa sisa-sisa? Karena konon, dahulu kita sempat hidup lalu mati. Semasa hidup dahulu, konon kita ini banyak kerjanya. Semua kerja itu ada hasilnya. Hasil kerja itulah yang tidak habis kita nikmati dahulu, maka saat ini kita lahir untuk menikmati sisa-sisa. Singkatnya kita ini hidup untuk sisa-sisa. Bahkan kita ini adalah sisa-sisa.
Saya sendiri belum tahu, bagaimana menjelaskan tentang kehidupan dahulu. Tidak ada sedikit prosen pun ingatan yang bisa saya katakan untuk membuktikan hal itu. Barangkali di luaran sana, ada yang bisa kita tanyakan untuk menjelaskan tentang kehidupan di masa lampau. Tanyakan saja, untuk apa kita hidup di dunia?
Saya pikir, salah satu kalimat dari Ida Pedanda Made Sidemen ada benarnya. Kita adalah pangresek jagat [penyesak dunia]. Saya tidak bisa berhenti membayangkan, kalau kehidupan kita yang konon utama ini dalam pandangan Ida Pedanda Made adalah menambah sesak dunia yang sudah sesak ini. Barangkali kita hidup hanya untuk menghabiskan oksigen bumi. Untuk terbebas dari pengertian itu, sepertinya kita haruslah melakukan sesuatu. Sesuatu itu tentu saja yang berguna untuk semesta. Yang bermanfaat untuk kita.
Mungkin ini saatnya kita menyeberang dari telaga ini. Mari kawan-kawan! [T]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...