Kebanyakan orang jika mendengar kata ngayah lebih diidentikan dengan kata
gotong royong. Namun, bagi saya kata ngayah tidaklah sesederhana itu tetapi lebih pada
tindakan yang berkaitan dengan kegiatan sosial yang dilandasi oleh hubungan
manusia dengan Tuhan-nya.
Ngayah
berasal dari kata ayah (Bahasa Bali)
artinya pelayanan (sewanam). Ngayah merupakan sebuah tindakan
pelayanan tanpa mengharapkan hasil atau
upah, namun lebih menekankan pada sebuah pengabdian kepada Sang Pencipta yang
didasari sikap tanpa pamrih serta tulus iklas.
Beberapa kata yang hampir sama mewakili
kata ngayah seperti
kata “ayah, ayahan, pengayah, ngayahang” Ngopin,
ngoopin atau nguopin,
semua kata tersebut memiliki arti yang hampir mirip namun berbeda dalam konteks
penggunaannya. Misalnya kata pengayah
dapat diartikan sebagai orang yang bertugas melayani atau mengabdikan diri
tanpa meminta imbalan apapun dan mendedikasikan diri sepenuhnya kehadapan sang
pencipta.
Sedangkan kata ngopin lebih kepada kegiatan
saling membantu sesama kerabat yang memiliki pekerjaan seperti hajatan upacara
atau kegiatan-kegiatan upacara. Ngopin
atau istilah lainya menyamebraya
biasanya dilakukan orang Bali dalam ikut membantu membuat persiapan upakara
seperti banten, jajan dilakukan oleh ibu-ibunya sedangkan perlengkapan lain
seperti makanan berupa lawar, memotong hewan dan sebagainya dilakukan oleh kaum
laki-lakinya. Intinya orang ngopin tidak terikat oleh upah apapun namun
didasari pada rasa persaudaran dan kekeluaragaan.
Ngayah
dalam pandangan sosial merupakan tindakan kumulatif bersama untuk mencapai
tujuan tertentu. Ngayah didasari atas
solidaritas bersama untuk bersama-bersama menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran
dan biaya demi mewujudkan sebuah tujuan yang dilandasi akan kepercayaan akan
kekuasaan Hyang Widhi.
Di Bali ngayah lebih dikenal pada saat upacara-upacara besar yang
delenggarakan oleh Desa Pakraman atau Krama Desa. Seperti misalnya pelaksanaan
Piodalan di Pura Kahyangan Tiga, krama desa wajib dikenakan peturunan (iuran)
yang besarannya sudah ditentukan dalam awig-awig serta mereka juga wajib ngayah membuat persiapan segala bentuk
upakara dan persiapan odalan sampai selesai.
Dalam pembagian tugas telah terbagi
menjadi bagian-bagian sesuai dengan jenis pekerjaannya seperti bagi laki-laki
membuat persiapan beruapa alat-alat yang terbuat dari bambu, menghias dan
pekerjaan-pekerjaan lainya, sedangkan perempuan membuat banten dan segala
persiapan untuk menyukseskan piodalan tersebut.
Lantas bagiamana dengan generasi muda
mereka biasanya ikut dalam kegiatan ngias, bersih-bersih dan beberapa yang
perempuan muda juga ikut membuat banten. Demikian pembagian tugas tersebut
dilakukan secara turun-temurun secara rapi dan tanpa ada harapan imbalan
apapun.
Lantas setelah mereka melakukan kegiatan ngayah, apa yang mereka dapatkan? Tentu
tidak bisa dijawab hal-hal material namun, kepuasaanlah yang menjadi
jawabannya. Kepuasaan tersebut dilandasi akan tanggung jawab sebagai generasi
penerus, tanggung jawab sebagai mahluk ciptaanya.
Jika masih ragu untuk ngayah, cobalah setiap ada piodalan, atau acara adat lainnya
luangkan waktu untuk ngayah maka
banyak hal yang dapat ditemukan seperti rasa kebersamaan, rasa memiliki dan
yang terpenting adalah rasa mencintai dan mengagumi tradisi yang sudah diwariskan oleh leluhur
orang Bali. [T]