Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Di kampung saya ada kepercayaan tentang kepala desa. Kepercayaan itu menurut saya agak “aneh”. Tidak salah, hanya aneh saja. Jadi begini. Orang-orang di kampung saya itu percaya, bahwa yang bisa menjadi kepala desa hanyalah mereka yang memiliki garis keturunan dari kepala desa yang dulu—atau paling tidak, orang yang memiliki kekayaan lebih dari penduduk lainnya. Bapak saya jelas tidak masuk kriteria.
Atas kepercayaan itu, jarang sekali ada yang berani untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa dari kalangan biasa-biasa saja—walaupun ia layak sekalipun. Praktis, setiap kali musim pemilihan kepala desa, hanya yang merasa punya darah keturunan dan kaya saja yang berani mencalon diri.
Kalau pun ada dari kalangan biasa yang mencalonkan diri, dan lawannya adalah salah satu dari kalangan itu, pasti tidak terpilih. Satu, dia tidak memiliki garis keturunan dari keluarga kepala desa terdahulu; dua, dia tidak punya cukup uang untuk membeli suara. Semisal jadi pun, saya yakin ia hanya akan menjadi bahan gunjingan.
Kenapa bisa begitu? Ya karena ia tidak punya cukup biaya untuk melakukan syukuran. Memberi makan, minum, dan rokok bagi mereka yang berkunjung ke rumah. ‘Endol-endol’, kami menyebutnya.
Kepercayaan ini saya dengar dari mbah-mbah saya. Memang, sependek pengetahuan saya, sampai hari ini, yang menjadi kepala desa di kampung, hanyalah orang-orang yang memiliki garis keturunan kepala desa dahulu, dan orang yang memiliki kekayaan lebih dari penduduk lainnya. Apa sebabnya, tidaklah jelas.
Seumur hidup, seingat saya, hanya sekali saya ikut nyoblos pemilihan kepala desa. Tepatnya di tahun 2014. Waktu itu tempat nyoblosnya di Kantor Balai Desa. Seingat saya, hanya satu calon. Inkambent melawan kotak kosong. Setelah mencoblos, saya dikasih amplop berisi uang yang saya lupa berapa nominalnya. Bayangkan, untuk menang melawan kotak kosong saja harus mengeluarkan uang. Padahal, dengar-dengar, inkambent ini masih punya ikatan keluarga dengan kepala desa terdahulu.
Saya meminta Anda untuk membayangkan sekali lagi, di luar sana, orang sudah ramai bicara tentang revolusi industri 4.0, artificial intelligence, big data, dan sudah memiliki kriteria-kriteria yang pantas dan layak menjadi kepala desanya masing-masing, kampung saya, masih percaya bahwa hanya mereka yang memiliki garis keturunan dari kepala desa yang dulu dan orang yang memiliki kekayaan lebih dari penduduk lainnya yang bisa menjadi kepal desa.[T]
(2019)
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...