Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
Di kampung saya ada kepercayaan tentang kepala desa. Kepercayaan itu menurut saya agak “aneh”. Tidak salah, hanya aneh saja. Jadi begini. Orang-orang di kampung saya itu percaya, bahwa yang bisa menjadi kepala desa hanyalah mereka yang memiliki garis keturunan dari kepala desa yang dulu—atau paling tidak, orang yang memiliki kekayaan lebih dari penduduk lainnya. Bapak saya jelas tidak masuk kriteria.
Atas kepercayaan itu, jarang sekali ada yang berani untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa dari kalangan biasa-biasa saja—walaupun ia layak sekalipun. Praktis, setiap kali musim pemilihan kepala desa, hanya yang merasa punya darah keturunan dan kaya saja yang berani mencalon diri.
Kalau pun ada dari kalangan biasa yang mencalonkan diri, dan lawannya adalah salah satu dari kalangan itu, pasti tidak terpilih. Satu, dia tidak memiliki garis keturunan dari keluarga kepala desa terdahulu; dua, dia tidak punya cukup uang untuk membeli suara. Semisal jadi pun, saya yakin ia hanya akan menjadi bahan gunjingan.
Kenapa bisa begitu? Ya karena ia tidak punya cukup biaya untuk melakukan syukuran. Memberi makan, minum, dan rokok bagi mereka yang berkunjung ke rumah. ‘Endol-endol’, kami menyebutnya.
Kepercayaan ini saya dengar dari mbah-mbah saya. Memang, sependek pengetahuan saya, sampai hari ini, yang menjadi kepala desa di kampung, hanyalah orang-orang yang memiliki garis keturunan kepala desa dahulu, dan orang yang memiliki kekayaan lebih dari penduduk lainnya. Apa sebabnya, tidaklah jelas.
Seumur hidup, seingat saya, hanya sekali saya ikut nyoblos pemilihan kepala desa. Tepatnya di tahun 2014. Waktu itu tempat nyoblosnya di Kantor Balai Desa. Seingat saya, hanya satu calon. Inkambent melawan kotak kosong. Setelah mencoblos, saya dikasih amplop berisi uang yang saya lupa berapa nominalnya. Bayangkan, untuk menang melawan kotak kosong saja harus mengeluarkan uang. Padahal, dengar-dengar, inkambent ini masih punya ikatan keluarga dengan kepala desa terdahulu.
Saya meminta Anda untuk membayangkan sekali lagi, di luar sana, orang sudah ramai bicara tentang revolusi industri 4.0, artificial intelligence, big data, dan sudah memiliki kriteria-kriteria yang pantas dan layak menjadi kepala desanya masing-masing, kampung saya, masih percaya bahwa hanya mereka yang memiliki garis keturunan dari kepala desa yang dulu dan orang yang memiliki kekayaan lebih dari penduduk lainnya yang bisa menjadi kepal desa.[T]
(2019)
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...