Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
Tentu saja kebanyakan orang di kampung saya, tidak tahu apa itu “revolusi”. Jangankan tahu, mendengar kata itu saja mungkin tidak. Lha, kalau begitu buat apa merevolusi kampungmu? Tanya seorang teman. Hehe... itu kan, impian saya saja. Terwujud atau tidak, urusan belakangan. Namanya juga impian. Tak lebih hanya sekadar angan-angan.
Lalu, apa yang harus direvolusi dari kampungmu? Tanyanya lagi. Memang dia cerewet sekali jadi orang. Banyak hal, jawab saya. Jelaskan padaku kalau begitu! Baiklah.
Kampung saya itu, banyak masalah sebenarnya. Mulai dari pola pikir orang-orangnya, sampai sistem pertaniannya. Tentang pola pikir, misalnya. Orang-orang di sana, masih belum bisa berpikir terbuka. Pikiran mereka masih hirarkis, fanatik lagi. Ya mohon maaf, bisa dikatakan, pola pikir mereka masih sempit. Wawasan mereka tentang dunia luar juga masih kurang. Ilmu pengetahuan? Konsisten memutuskan untuk jalan di tempat, menolak menjadi pintar, sebab takut ‘keminter’, tapi diam saja “dipinteri”.
Kurangnya pengetahuan inilah, berakibat mereka sering kena tipu oleh birokrat. Membikin KTP saja masih bayar. Minta surat ini-itu juga masih mengeluarkan sebungkus rokok. Hehe... Maka dari itu, mereka harus direvolusi. Dengan cara apa? Pendidikan salah satunya. Untuk pengetahuan tentang dunia luar, mereka harus hijrah (merantau). Tetapi, saat mereka merantau, dan kembali, malah membawa pemahaman baru yang kadang bertentangan dengan nilai-nilai,bagaimana itu?
Itu memang masalah. Lain kali kita pikirkan solusinya. Maksud saya, kenapa harus merantau? Agar tidak selalu disebut “katak dalam tempurung”.
Terus tentang sistem pertanian? Ya begitu. Orang di kampung saya itu, masih bertani secara tradisional. Mereka sangat sabar menunggu turun hujan untuk bisa menanam padi. Kalau nggak hujan, ya biarkan saja lahan kosong. Toh juga mereka tidak ‘kemaruk’ kaya Korun. Kalau pun ditanami jagung, misalnya, mereka tidak keberatan bersusah payah menyiraminya.
Padahal, beberapa petani sebenarnya mampu mengebor air. Seperti desa-desa lain. Kalau pun tidak mampu, sebenarnya bisa patungan untuk membangun sistem irigasi yang baik. Gotong royong gitu. Tetapi ya begitu, orang-orang di kampung saya kan, gengsian, mana mau patungan. Ya tapi itu tidak salah, si. Wong itu pilihan masing-masing.
Tetapi tunggu dulu, ngapain susah-susah ngebor air, toh tanahnya juga sudah dijual ke pabrik semen, kan? Iya itu kan yang dijual, kan masih banyak yang nggak dijual. Terus terus? Orang-orang di kampung saya itu, juga tampaknya takut untuk berinovasi dalam hal tanam-menanam. Dalam benak mereka, ini mungkin lho ya, yang bisa ditanam itu ya tanaman-tanaman yang sudah turun-temurun ditanam oleh nenek moyang—tanaman-tanaman yang sudah terbukti tumbuh dan bisa ditanam di sana. Ini juga tidak salah, si, tetapi tidak salah juga untuk mencoba menanam tanaman lain, kan. Maksudnya, tanaman lain yang sesuai dengan kondisi alam di sana. Contohnya apa? Sorgum, misalnya.
Dan, orang-orang di kampung saya itu, masih jarang mengolah hasil pertanian mereka menjadi suatu produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Mereka lebih senang menjual mentah-mentah saja. Tidak mau susah-susah. Nah, ini kan, kembali berhubungan dengan pola pikir, toh.
Iya juga, sih. Ada lagi? Satu lagi. Mereka juga masih belum terbiasa berorganisasi. Mereka cenderung berjalan sendiri-sendiri. Apa adanya. Memang si masih ada ikatan persaudaraan di sana—dan itu sangat melegakan. Tetapi, maksud saya, agar mereka belajar tata kelola (manajemen) yang baik gitu, loh. Nggak selalu takluk di hadapan nasib saja. Toh kita sama-sama pernah membaca ‘Sekali Peristiwa di Banten Selatan’, kan. Jadi, pasti kamu tahulah apa maksudku.
Oke-oke. Jadi, itu alasanmu untuk merevolusi kampungmu? Iya. Tetapi, terkadang saya mempertanyakan kembali pikiran itu semua, beberapa pertanyaan yang kadang meruntuhkan impian itu. Apa itu kalau boleh tahu? Orang-orang di kampung saya butuh nggak sih, semua revolusi itu? Bukankah sampai saat ini mereka baik-baik saja dengan pola pikir dan sistem pertanian seperti itu?
Ya, terkadang, saya juga berpikir, lebih baik tidak ada yang perlu direvolusi. Dibiarkan saja apa adanya. Yang penting mereka bahagia. Itu saja sudah cukup bagi saya. Tidak perlu banyak omong! Bisa kualat saya nanti.[T]
(2019)
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...