Menurut penuturan Bli Wayan, Banjar Pagi adalah kampung kecil yang
istimewa dengan segala keunikan yang dimiliki, salah satunya karena adanya
burung hantu yang membantu para petani membasmi tikus-tikus sudah tentu menjadi
hama bagi mereka. Ini menarik bagi saya. Burung hantu, atau yang lebih dikenal Celepuk oleh orang Bali, mengingatkan
saya akan sosok almarhum Engkong saya semasa hidupnya dulu di Desa Baturiti.
Ketika saya SD, engkong pernah membawakan saya seekor burung hantu kecil yang secara tidak sengaja tersangkut di rumahnya. Sungguh saya bahagia bukan main. Jika teman-teman saya waktu itu berlomba-lomba memelihara ikan cupang, maka saya punya burung hantu. Saya merasa istimewa kala itu. Namun, dengan berat hati, atas saran ibu saya, burung hantu itu harus dilepaskan.
Alasannya cukup bisa diterima oleh anak SD seperti saya saat itu, burung
hantu adalah burung yang berteman dengan hantu, atau jin dan lelembut lainnya. Suara
“puuk.. pukkk..puukk” yang terdengar
aneh dari burung hantu adalah suara memanggil hantu. Bisa menjadi masalah jika
saya memelihara burung hantu. Baiklah, saya mengiyakan. Keesokan harinya, ibu
saya melepas burung hantu kecil itu di tengah hutan di Kebun Raya Bali
tempatnya bekerja. “puuk..puukk”
Selamat tinggal burung hantu” Gumam saya sedih.
Mendengar adanya burung hantu di Banjar Pagi seketika membuat saya ingin
berkunjung langsung ke kampung kecil itu. Selain melihat-lihat keunikan yang
ada, mungkin saya juga bisa melepas rindu saya pada sosok Engkong yang telah
berpulang beberapa bulan lalu. Maka pada tanggal 14 Agustus 2019 pagi hari, saya
mencoba menghubungi Made Jonita yang menjadi pemrakasa konservasi burung hantu
di Banjar Pagi. Nomor WA’nya saya dapat dari Mbok Luh De Suriyani, salah satu
pendiri Balebengong.id yang sempat membuat acara “Melali Bareng Musisi” bersama
Dadang Pohon Tua di Banjar Pagi. pada tanggal 16 Juni kemarin
Setelah mendapat kesepakatan, hari itu juga bergegaslah saya ke Banjar
Pagi, ditemani oleh seorang teman saya dari Ubud, orang Sunda, Wandi Kustiaman
namanya. Kami berangkat dari Singaraja sekitar pukul 15.00 WITA. Rencananya
kami akan tiba di sana pukul 17.00 WITA sesuai saran Bli Dek Enjoy. Katanya,
lebih baik datang saat sore atau malam, karena burung hantu biasanya
beraktivitas saat malam hari. Benar juga, burung hantu adalah hewan malam,
sudah pasti saat pagi hari mereka akan tertidur pulas dihanyut gelombang mimpi
setelah keluyuran mencari mangsa semalaman.
Akhirnya, sekitar pukul 17.00 Wita, kami tiba di Banjar Pagi, sesuai
rencana keberangkatan kami. Saat tiba Banjar Pagi, apa yang dikatakan Bli Wayan
Junaedy dalam tulisannya memang benar adanya. Banjar Pagi diapit oleh sawah dan
tegalan di seluruh penjuru mata angina, menjadikannya sebagai kampung kecil
yang sejuk bukan main. Di sebelah utara, saat saya akan memasuki Banjar Pagi,
saya disuguhkan pemandangan indah dengan persawahan yang membentang luas. Begitu
pula adanya di sisi sebalah barat, timur, dan selatan. Akan ada pemandangan
sawah yang indah dan sebuah lembah yang dapat dinikmati.
Selamat Pagi, Banjar Pagi
Di depan rumah para warga, dipasang sebuah lampion kecil berbentuk
burung hantu, dilengkapi dengan bendera merah putih di sampingnya, menjadikan
suasana desa semakin semarak untuk menyambut hari kemerdekaan RI saat itu.
Anak-anak terlihat bermain bola di jalanan, ada juga bapak-bapak dan muda-mudi
sedang berkumpul di depan rumah salah seorang warga di sana, mereka mengobrol
sambil sesekali tertawa. Saya dan Wandi berkeliling-keliling Banjar Pagi
terlebih dahulu, melihat-lihat suasana Banjar Pagi yang cukup mendamaikan hati
saya, sampai akhirnya saya dan Wandi memutuskan untuk bergegas menuju rumah Bli
Dek Enjoy.
Mencari tahu rumah Bli Dek Enjoy bukanlah perkara susah bagi kami. Semua
orang yang saya tanya memberi tahu dengan sangat jelas gambaran rumah yang
harus saya cari, seperti adanya garase di depan rumahnya, adanya warung kecil
yang menjual rujak, tipat santok dan es gula di sebelah utara rumahnya, dan
sebagainya.
Sampai akhirnya kami menemukan rumah yang dimaksud. Maka, masuklah kami
ke halaman rumah tersebut sambil mengucapkan salam, dan seseorang bertubuh
tinggi, dengan jenggot dan kumis tebal, serta rambut gondrong, duduk bersila di
teras rumah, tersenyum sambil membalas salam saya.
Di sekitar pelang konservasi burung hantu
Ternyata Bli Dek Enjoy sudah menunggu kedatangan saya. Kami bersalaman, memperkenalkan diri
masing-masing, kemudian mulai mengobrol, berbicara tentang Banjar Pagi, tentang
burung hantu, juga lain-lain. Jika mendengar kata burung hantu, Bli Wayan
Junaedy teringat Hedwig, burung hantu putih yang terkenal di sekuel Harry
Potter, maka saya teringat Master Limbad, seorang pesulap yang melakukan
aksi-aksi ekstrem. Perawakannya mirip sekali dengan Bli Dek Enjoy, di samping
juga karena Limbad selalu hadir bersama seekor burung hantu di pundaknya.
Bli Dek Enjoy bercerita, di tahun 2015, ia dan teman-temannya membentuk
TUWUT, Tyto Alba Uma Wali untuk Tani, kelompok masyarakat yang mengasuh burung
hantu Tyto Alba, species burung hantu berbulu putih dan wajah berbentuk jantung
dengan tepi kecoklatan. Ketimbang menggunakan pestisida, mereka memilih
predator alami sebagai solusi untuk mengatasi hama tikus yang kerap kali
membuat para petani gagal panen, di samping juga untuk memuliakan tanah.
Semenjak adanya burung hantu, hama tikus menjadi lebih sedikit.
Di tempat konservasi Tyto Alba di Banjar pagi, Bli Dek Enjoy bersama
warga setempat mengasuh anak-anak burung hantu yang kerap kali ditinggal oleh
sang induk karena kerepotan membesarkan mereka, salah satunya karena anak
burung hantu baru bisa terbang saat berusia 3 bulan.
“Setiap 6 bulan sekali, burung hantu biasanya punya anak rata-rata 5
ekor. Anak-anaknya inilah yang kami
rawat dan pelihara. Setelah dewasa dan siap untuk terbang, kami lepasliarkan
kembali,” tutur Bli Dek Enjoy.
Tahun 2018 kemari, Bli Dek Enjoy bersama kelompoknya sudah
melepasliarkan burung hantu sebanyak 3 kali, pertama di Subak Merta, Tempek
Soka Candi, Desa Senganan, kedua dilepas saat acara Festival Jatiluwih,
kemudian yang terakhir di Desa Wisata.
“Kadang beberapa burung hantu juga dibawa ke sini oleh warga dari desa
lain. Seperti kemarin ada yang bawa burung hantu ke sini yang didapat karena
burungnya tersangkut benang layangan yang ia terbangkan,” tambahnya.
Sambil menikmati teh beras merah yang disajikan, saya larut dalam tutur
yang disampaikan Bli Dek Enjoy. Kalimat-kalimatnya mengalir dengan ringan,
dengan santai, seperti namanya, enjoy saja.
Santttuuuyyyyy.
Bli Dek melanjutkan, memelihara anak-anak burung hantu sebenarnya memang
merepotkan. Anak-anak burung hantu tersebut harus diberi makan satu tikus
minimal satu ekor per anak burung. Jika seekor burung hantu dewasa menghabiskan
paling sedikit 7 ekor tikus dalam sehari, maka seekor induk burung hantu harus
berburu minimal 12 ekor jika jumlah anaknya 5 ekor. Jadilah Bli Dek Enjoy dan
anggota kelompok yang lain setiap hari berburu tikus secara bergilir
menggunakan senapan angin untuk dijadikan makanan burung hantu.
“Kami memberi makan tikus karena tikus adalah hama bagi kami, supaya
nanti kalau sudah besar burung hantu selalau berburu tikus-tikus. Sebenarnya
bisa saja kami beri makan ayam, tapi nanti takutnya mereka malah memburu
ayam-ayam kami kalau sudah besar.” ucapnya sambil tertawa.
Saya dan Wandi juga tertawa. Dalam hati saya bertanya-tanya. Apa boleh
saya menyumbang mantan saya sebagai makanan burung hantu, Bli Dek? Supaya sisa hidupnya
selalu dihantui burung hantu. Hehehehe.
Bersama si Alba, Dek Enjoy dan Wandi
Bli Dek Enjoy berkisah karena bersahabat dengan burung hantu dan menjadi
dusun pertama di Bali yang memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami
hama tikus, Banjar Pagi pun mendapat banyak sorotan. Di tahun 2018, Banjar Pagi
pernah diundang pihak Festival Jatiluwih untuk mengisi acara, jadilah anak-anak
di Banjar pagi membuat tarian dan musik tradisonal berkisah tentang Celepuk.
Sebelumnya banyak wartawan meliput tentang Banjar Pagi, begitu pula
dengan beberapa media, baik dari skala lokal sampai skala nasional. Mereka
meneritakannya di surat kabar, juga layar kaca. Beberapa wartawan asing pun
juga datang. Tak hanya itu, beberapa sekolah dan institusi pendidikan lainnya
juga melakukan berbagai kegiatan di Banjar Pagi, mereka berkemah sekaligus
belajar langsung tentang kehidupan para petani, terutama burung hantu yang
dilepasliarkan. Beberapa bantuan pernah ia dan kelompoknya terima, namun masih
dirasa minim.
“Kalau tidak ada ya mau bagaimana lagi? Saya tidak mau menganggap itu
sebagai sebuah masalah. Selama saya dan kelompok saya masih bisa ya saya akan
terus berusaha dan berjuang,” ungkapnya.
Selanjutnya, karena hari sudah gelap, Bli Dek Enjoy mengajak kami
langsung ke tempat konservasi Tyto Alba yang terletak tidak jauh dari rumahnya.
Tentu saya dan Wandi mengiyakan, burung-burung hantu di sana pasti sudah bangun
dari mimpinya. Saya yang dibonceng Wandi, mengikuti Bli Dek Enjoy dari
belakang. Kehadiran kami di sana disambut dengan sebuah papan nama berukuran
besar dengan gambar burung hantu. Sangat luar biasa bagi saya pribadi.
Sambil mengobrol, kami masuk bersama-sama ke tempat konservasi. Bli Dek
Enjoy bercerita lagi, tempat konservasi ini adalah tanah milik keluarganya. Dulu
di tempat itu dibangun kolam ikan, itulah mengapa ada beberapa kolam yang masih
tergenang air.
Di sebelah utara, berdiri 5 rumah burung hantu dengan dikelilingi kawat
penangkar di bagian luarnya. Di sanalah anak-anak burung hantu dirawat dan
dipelihara. Mereka terbang ke sana kemari sambil bertengger sesekali di kawat
penangkar yang mengelilingi mereka. Sayang sekali saya hanya bisa melihat dari
jauh. Burung-burung hantu tersebut ternyata masih sangat malu. Saat saya
mendekat, seketika mereka langsung terbang masuk ke dalam rumah masing-masing.
Di keremangan bersama cahaya burung hantu
Tak apalah. Sudah cukup bagi saya melihat mereka dari kejauhan. Suasana
di tempat penangkaran tersebut semakin ramai dengan burung-burung hantu liar
yang dari luar bertengger di kawat penangkaran tersebut. Sesekali suara mereka
terdengar, membawa saya kembali keingatan masa lalu saat saya berpisah dengan
burung hantu pemberian engkong saya. Di bagian bawah, beberapa tikus tergeletak
mati, menunggu disantap oleh para burung hantu. Saya masih tetap mengamati
burung-burung hantu tersebut, sementara Wandi dan Bli Dek Enjoy larut dalam
obrolan mereka.
Puas dengan kehadiran burung hantu, saya pun bergabung dengan Wandi dan
Bli Dek Enjoy yang duduk sambil menikmati rokok masing-masing. Obrolan mereka
masih seputaran kehidupan para petani, tentang kearifan lokal yang diwarisi
oleh nenek moyang sejak lama.
“Kalian tahu kenapa para petani menggunapakan sapi untuk membajak sawah?
Karena kaki sapi itulah yang bisa memadatkan tanah di sawah, sehingga air bisa
menggenang di sana. Nah kalian tahu kenapa kubu-kubu para petani dibangun
menggunakan Kayu Antap? Itu bukan sekadar untuk melindungi para petani dari
terik matahari, tapi sebagai penangkal petir.” tuturnya.
Cerita-cerita tentang kearifan lokal saat bertani ini cukup menambah
wawasan baru bagi bagi. Satu hal yang paling saya suka adalah penuturan Bli Dek
Enjoy tentang burung.
Katanya, burung hantu adalah penanda air. Di mana ada bururg hantu, di
sana ada air. Buurng hantu pasti tinggal di pohon yang besar dengan lubang
sekitar 40 x 40 cm, pohon yang besar biasanya memiliki cadangan air lebih
banyak. “Sebenarnya bukan hanya burung hantu, tapi semua jenis burung. Di mana
ada bulu, di sana ada kehidupan. Hewan berbulu kan burung, jadi burunglah yang
menjadi indicator hidup, ya air itu tadi. Karena itulah di sini dibuat perarem
dilarang memburu burung jenis apapun. Nah, saat pagi hari di sini, kita bisa
mendengar suara burung saling bersahut-sahutan.” Imbuhnya.
Karena berbicara tentang bulu, entah bagaimana, saya teringat dengan
foto profil WA milik Bli Dek Enjoy. Ia memasang foto Appa, bison langit
berukuran besar berbulu putih dengan 3 pasang kaki dengan ekor yang besar dan
lebar milik Avatar Aang. Keduanya adalah tokoh fiktif dalam serial animasi
televisi Nickolodean yang berjudul Avatar:
The Legend of Aang. Seketika Bli Dek Enjoy tertawa setelah saya menanyakan
hal tersebut, kemudian menjawab dengan sangat santai.
Burung hantu dan rumahnya
“Menurutmu kenapa dia bisa terbang padahal tidak punya sayap? Karena dia
punya bulu, bisa jadi di setiap helai bulunya itu ada sayap-sayap kecil.
Makanya dia bisa terbang. Bulu itu adalah yang penting, di desa ini burung yang
penting. Itulah yang saya yakini. Tanamlah pohon hijau di hatimu, maka sekor
burung akan terbang yang berkicau akan datang” jawabnya lumayan membuat saya tersenyum.
Benar juga. Bulu adalah hal penting. Kalau tidak ada bulu, tidak ada
kehangatan, tidak ada bulu tidak ada kehidupan. Hhhmmm mashhhookk Bli Dek.
Akhirnya, sekitar pukul 20.00 Wita, saya dan Wandi berpamitan dengan Bli
Dek Enjoy beserta keluarganya di rumah. Saya pun sempat berfoto dengan burung
hantu yang ada di rumah Bli Dek Enjoy. Saya tersenyum senang di sepanjang
jalan, bersyukur saya sempat mampir ke Banjar Pagi dan bertemu Bli Dek Enjoy
beserta anak-anak burung hantu asuhannya.
Di samping menikmati pemandangan dan suasan indah dan asri di Banjar
Pagi, saya juga menikmati teh beras merah hasil para petani setempat, pun saya
mendapat berbagai wawasan yang baru dan tentu saja sangat berarti bagi saya.
Sudah pasti, nanti saya akan datang lagi ke Banjar Pagi, Kampung Burung Hantu
kecil yang berarti, bisa jadi untuk melepas rindu kembali. Samar-samar, ucapan
Engkong saat memberi burung hantu kembali terngiang dalam ingatan.
“Jadilah seperti burung hantu, yang
saat elihat banyak mendengar, yang pada saat banyak mendengar sedikit bicara,
yang saat sedikit bicara banyak bertindak".
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...