Protokol Penanganan Covid-19 Desa Munduk, Buleleng - [Bisa Ditiru]
Ketika saya menulis tentang pembuatan draft protokol penanganan Covid-19 di desa saya, banyak sekali teman yang men-japri untuk meminta copy-nya dan meminta saya men-share-nya ke...
KOPLAK tidak suka jika hidupnya terlalu banyak diatur, hal inilah yang saat ini jadi masalah yang membuatnya selalu berbalah dengan Kemitir — Si Gadis cantik yang makin hari terasa “nyinyir” dan merepotkan bagi Koplak. Tidakah Kemitir memiliki pemikiran yang bagi Koplak sangat sederhana; semua mahluk di bumi ini memiliki gaya hidup masing-masing. Yang berbeda satu sama lain. Cara memandang hidup yang tentu saja dijamin berbeda satu sama lainnya. Tetapi itu tidak berlalu bagi Kemitir,
Kemitir merasa saat ini adalah tanggungjawabnya sebagai satu-satunya anak yang dibesarkan Koplak dengan terbata-bata dan sesak nafas sudah mandiri— bahkan teramat mapan. Bahkan menurut Koplak, Kemitir itu sudah sangat kaya. Barang-barangnya juga semua yang melekat di tubuhnya bermerk, tidak ada yang murah. Bahkan dari foto-foto yang disodorkan kepada Koplak,
Kemitir sering berbelanja untuk komsumsi tubuhnya di luar negeri. Koplak sih senang saja dengan kemajuan anak perempuan semata wayangnya — perempuan kecil yang dulu selalu merengek-rengek jika mengingankan sesuatu, atau akan menangis sambil menjerit-jerit sekeras-kerasnya jika kulitnya tergores. Sampai para tetangga akan berdatangan disangka Koplak memukul, atau melakukan kekerasaan pada anaknya.
Begitulah cara Kemitir kecil mencuri perhatian Koplak, luka tergores saja terasa seperti luka bacok yang parah, karena jika Kemitir menangis dan meraung seolah sedang memanggil seluruh warga desa. Begitulah Kemitir mencuri perhatian dari orang-orang. Sejak kecil Kemitir memiliki kulit yang bersih, mata yang bulat tajam, terlihat bercahaya jika orang memandangnya.
Makin lama dipandang, Kemitir akan semakin tampak menggemaskan dan membuat orang-orang ingin mencubit pipinya yang gembul dan membelai rambut yang sedikit kecoklatan jika ditimpa matahari. Kemitir kecil dan Balita adalah Kemitir yang menggemaskan. Kemitir saat ini adalah ….
Koplak menarik nafas, kadang ada perasaan terkikis, tersiksa, nelangsa dan perasaan tidak berdaya. Apakah jika lelaki berumur menjelang 50 tahun akan merasa harus mendapat perhatian khusus? Harus dijaga layaknya seorang anak kecil? Apakah kekhawatiran Kemitir terhadap diri Koplak tidak berlebihan? Koplak terdiam sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Itu fungsinya punya anak perempuan. Kau harusnya bersyukur, Koplak. Anakku semua lelaki tujuh orang. Dulu sebagai laki-laki Bali aku bangga sekali ketika anak pertamaku lelaki. Aku sampai menghaturkan dua babi guling di Merajan, tempat ibadah keluarga. Bersyukur karena bagi lelaki tidak memiliki keturan lelaki bukan lelaki namanya. Hidupnya akan sengsara jika hanya memiliki anak perempuan. Pikiran itu benar juga, bagaimana jika anak perempuan semuanya diambil orang dan hidup dengan aturan-aturan keluarga suaminya. Aturan yang berbeda dengan aturan kita.
Faktanya, saat ini seluruh anak lelakiku merantau, bahkan odalan, upacara penting di desa juga tidak bisa hadir. Jika aku dan istriku sakit juga kami berobat sendiri. Walaupun sudah ada BPJS kami berdua kesepian. Serius ini! Bahkan yang hadir di rumah kami adalah uang yang ditransfer masing-masing anak dengan rutin. Kami sudah tua, aku dan istriku juga punya pensiun sendiri-sendiri sebagai guru di desa. Cukuplah untuk hidup kami sehari-hari.
Kami tidak butuh uang, kami ingin tujuh anak lelaki itu salah satunya ada yang pulang, tinggal bersama kami. Menemani kami mengisi hari tua bersama-sama. Tidak ada satu pun yang berkenan mengikuti saran kami. Kata mereka, mereka tidak bisa hidup di desa, jika hidup di desa mau kerja apa? Bagaimana sekolah anak-anak? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan mereka yang justru jadi beban kami sebagai orang tua. Kemitir itu baik, masih hormat padamu. Bersyukurlah kau memiliki dia. Untuk apa punya seribu anak lelaki jika tidak bisa disentuh.”
Begitu kata-kata Pan Balang pensiunan guru SD, yang saat ini justru terlihat mencoba bahagia dengan realitas yang mereka hadapi. Untungnya Pan Balang tinggal di desa, jika terjadi sesuatu orang-orang desa dengan ringan tangan akan datang dan bersedia merawat pasangan sepuh itu, tanpa pamrih, tidak juga menggerutu.
Koplak menarik nafas sambil merenung kembali. Apa mungkin dia harus mencari istri?
Fakta demi fakta kasus pembunuhan istri muda sewa empat pembunuh bayaran, untuk bakar suami dan anak tiri terus terungkap setelah otak pelaku berinisial AK (45) dan anaknya KV (25) dan dua pembunuh bayaran yang disewanya, yakni AG dan SG berhasil tertangkap polisi di Lampung, karena sang istri muda memiliki hutang 10 miliar.
Suara TV terdengar keras, Koplak terbelalak. Keluar keringat dingin deras membasuh tubuhnya. Tiba-tiba saja wajahnya terasa kaku, lehernya tersedak seolah Koplak lah yang diracun dan hendak dibakar. Koplak menepuk-nepuk kepalanya. Tidak. Tidak. Kenapa aku memiliki pikiran mau kawin lagi? Bagaimana kalau aku diracun istri mudaku? Bagaimana kalau Kemitir dibakar hidup-hidup. Koplak menggigil terkencing-kencing menuju kamar mandi. Celana kolornya basah. Rona ketakutan melabur wajahnya. [T]
Ketika saya menulis tentang pembuatan draft protokol penanganan Covid-19 di desa saya, banyak sekali teman yang men-japri untuk meminta copy-nya dan meminta saya men-share-nya ke...
Siapa yang tidak mengenal Superman is Dead alias SID. Band punk rock asal Bali yang sudah mendunia. Karya-karyanya banyak yang hits dan selalu didengarkan di seluruh tanah air...
Cerpen Wayan Martino Di sebuah desa kecil di balik Gunung A, tinggalah seorang pemuda tanggung, belia dalam usia, dewasa dalam sikap hidup. Ia seorang pengumpul kayu bakar, sab...
Oleh: I Wayan Artika – Batungsel, Pupuan, Tabanan Jadi, kalau demikian adanya, apa makna rumah selama ini? Mengapa berdiam di rumah seakan penjara? Semua orang ingin memiliki r...
Nyepi 1942 Saka barangkali menjadi perayaan Nyepi paling berbeda dengan Nyepi tahun-tahun sebelumnya. Bukan hanya karena Nyepi yang jatuh berbarengan dengan Buda Kliwon Pahang –ra...
Hari ini merupakan hari yang membahagiakan bagi yang terhormat Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali. Bagaimana tidak bahagia, hari ini mereka menjalani Rapi...
Oleh: Ni Kadek Karina Dewi - SMAN Bali Mandara Mentari mulai menampakkan senyumnya. Cahayanya merambat masuk ke dalam kamar.Kicauan burung kudengar bersahutan sahutan, seperti...
Membaca tulisan penulis muda berbakat asal Bangli yang sekaligus sahabat baik saya, IGA Darma Putra, yang berjudul "Kepada Alit Joule, Sampai Jumpa di Rumah” membuat saya terharu....
Oleh: Ni Luh Novitasari -- Desa Bebetin, Sawan, Buleleng Ini cerita tentang aku. Aku yang lahir di tengah keluarga sederhana,tumbuh dan besar tanpa kedua orang tua. Ibu satu-sa...
Oleh: Kadek Wika Arinata -- SMAN Bali Mandara Ini cerita sekitar tahun 2014-2015, perihal tentang seorang nenek, ibu dan anak. Mimpi’ suatu kata yang begitu familiar ditelin...