“Dua Kota Dua Ingatan” adalah buku
kumpulan puisi kedua saya setelah buku kumpulan puisi perdana “Catatan Pulang”
terbit pada Januari 2018. Buku ini awalnya naskah kumpulan puisi yang saya ikut
sertakan dalam sayembara manuskrip puisi pada Juli 2018 oleh Penerbit Basabasi,
sebuah penerbitan bergengsi di Yogyakarta. Alhamdulillah, Puji Tuhan, naskah
yang saya kirim lolos dalam proses kurasi dan diterbitkan menjadi buku pada Mei
2019.
Ada 63 puisi dalam buku ini dengan beragam
tema; kota, cinta, ingatan masa lalu dan juga spiritualisme. Ada kebanggaan
tersendiri ketika penyair menerbitkan buku puisi; berbagi karya kepada khayalak
ramai, tak sekadar proses dokumentasi. Lebih dari itu, penerbitan buku puisi
merupakan pembuktian eksistensi seorang penyair. Karya puisi menunjukkan
seberapa besar konsistensi dalam menulis dan ‘merekam’ pengalaman batin
penyair.
Puisi-puisi yang saya tulis lahir di sela-sela
kesibukan sebagai wartawan lepas dan pengajar jurnalistik di sebuah SMA. Ia
menjadi “oase” di tengah kegersangan rutinitas; puisi menjadi media ekspresi
atas berbagai kegelisahan dan ketakjuban yang saya rasakan. Ketika
menyelesaikan sebuah puisi misalnya, saya merasakan kelegaan dan kepuasan batin
yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Terlebih jika puisi tersebut dimuat di
koran atau media daring, senang sekali rasanya.
Puisi juga menjadi alternatif ketika
kegelisahan atau ketakjuban atas fenomena yang terjadi di sekitar tak cukup
dituliskan dalam sebuah berita, atau esai yang juga saya tekuni sejak lama.
Menulis bagi saya adalah sebuah terapi dan katarsis, terlebih jika kita
mengalami sebuah situasi yang menekan batin atau keadaan psikologis yang kurang
mengenakkan yang bisa menganggu keseharian kita.
Saya menulis puisi sejak 2001, saat duduk di bangku SMA. Adalah sebuah
keberuntungan ketika itu saya mengenal Nanoq da Kansas; penyair, sutradara ,
wartawan dan seorang petani di Negara,
Jembrana, kampong halaman saya. Ia mengajari saya menulis puisi dan mengenalkan
berbagai pemikiran baru melalui buku-buku di perpustakaan pribadinya yang saya
baca dengan penuh gairah.
Saya masih ingat, saat puisi-puisi saya
dimuat pertama kali di sebuah koran lokal perasaan saya senang sekali. Kegairahan
menulis puisi bertambah besar seiring waktu dan puisi-puisi saya mulai
menghiasi rubrik sastra di berbagai media baik cetak dan (belakangan) media
daring selain beberapa antologi bersama. Setamat SMA dan saat menjadi mahasiwa
saya tetap menulis puisi bahkan hingga saat menjadi wartawan.
Wartawan kini yang menulis karya sastra
masih jarang, berbeda dengan zaman dahulu. Melalui peluncuran buku kumpulan
puisi “Dua Kota Dua Ingatan” ini saya hendak mengajak kawan-kawan wartawan dan
masyarakat pada umumnya untuk mulai menulis, apa pun bentuknya.. Dunia literasi
di Indonesia kini mulai menunjukkan gejala yang menggembirakan; banyak
komunitas sastra dan budaya yang tumbuh tak hanya di kota besar tapi juga di
kota kecil dan memberikan ruang yang cukup luas untuk penulis bergaul, belajar
dan tumbuh bersama.
Komunitas sastra banyak juga kita temui di
ruang digital; grup-grup di media sosial memberi kesempatan penulis pemula
belajar dan bereksperimen. Lomba dan sayembara sastra juga makin marak sebagai
ajang pembuktian layak atau tidaknya sebuah karya sastra baik itu puisi, cerpen
, novela dan novel. Ditambah, penerbit mayor ataupun indie yang tumbuh subur
membuat kesempatan untuk menerbitkan buku semakin besar.
Menulis karya sastra, apalagi bisa
menerbitkan buku juga menjadi nilai tambah bagi seorang wartawan.
Pemikiran-pemikirannya makin tersebar luas, ia bisa menjadi penulis atau
intelektual yang buku-bukunya dibaca banyak orang. Hanya saja, waktu
kadang menjadi alasan klasik mengapa wartawan tidak bisa menulis tulisan selain
berita; dikejar deadline, belum lagi jika media tempat wartawan bekerja
mengharuskan ia “merangkap” menjadi marketing
yang membuat beban kerja bertambah sehingga tak terpikir lagi untuk menulis
tulisan non-berita atau sekadar mengikuti lomba jurnalistik misalnya.
Namun, bagi saya, hal itu semestinya tidak
menjadi pembenar. Menulis tak mesti dimulai dengan hal-hal yang berat; bisa
menulis seperti status atau story di
media sosial, hanya saja lebih diperpanjang dan secara intens dilakukan dan dilatih.
Menulis buku harian adalah awal yang baik untuk memulai kebiasaan menuangkan
pikiran dan perasaan melalui tulisan; hal-hal sederhana tentang rutinitas
sehari-hari, perasaan senang atau galau yang menghinggapi, atau kesan usai
membaca buku, bepergian keluar kota atau menonton film.
Pun, hal-hal konyol yang mungkin bagi
orang lain tak dianggap penting. Semua sah-sah saja untuk ditulis. Kebiasan
menulis buku harian akan memperkaya kosa-kata. Dan, jangan heran ketika suatiu
hari tiba-tiba kita mampu menulis puisi atau cerpen (bahkan novel) yang indah.
Semua bisa dimulai dengan langkah kecil; menulis buku harian, atau jika itu
dianggap jadul, buku agenda.
Menulis adalah pekerjaan menyenangkan yang membuat kita “abadi”. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer: ”Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” [T]
Tulisan ini akan disampaikan pada Diskusi dan Peluncuran Buku Kumpulan Puisi “Dua Kota Dua Ingatan” karya Angga Wijaya dan Buku Kumpulan Cerpen “Cetik Taluh” karya I Gede Sarjana Putra di Kubu Kopi-Renon, Denpasar, 31 Agustus 2019