Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
____
Sampai pada kalimat-kalimat itu, saya hentikan pembacaan. Setelah berhenti, permenungan datang sendiri. Selalu ada arus balik dari arus-arus yang sedang mengalir. Dan itu yang harus diwaspadai.
Arus balik itu yang akan menyeret-nyeret seorang peselancar masuk ke dalam laut. Bagi yang kurang mahir, arus balik itu pula yang menelannya ke pusaran. Tidak terkecuali, bagi seorang yang berselancar di atas aliran waktu. Akan tiba saatnya arus balik datang dan menyeretnya kembali ke masa lalu. Tidak ada cara lain jika itu terjadi, kecuali meminta pertolongan.
Seorang yang berjalan bersama segerombolan pertapa bukan tidak mungkin ditelan arus balik. Ada masanya, akan datang arus balik yang bisa menumbangkan keteguhan tapanya. Saat itu terjadi, yang awalnya ia selalu katakan “tidak” tiba-tiba menjadi “iya”. Yang awalnya “iya” bisa berubah menjadi “ragu-ragu”. Arus balik tidak akan memberikan peringatan kapan ia datang. Tiba-tiba korbannya sudah tenggelam begitu saja.
Perjuangan menuju kebebasan pun demikian. Entah kebebasan dalam arti luas atau sangat luas. Barangkali ada kebebasan dalam arti sempit atau sangat sempit, atau dan atau-atau sangat sempit sekali. Definisi atas konsep-konsep itu ada banyak. Saking banyaknya, tidak sedikit yang tersesat dalam kelindan definisi. Pada waktunya nanti, akan tiba pemberhentian definisi karena ia sudah terlalu paradoks. Orang mencari kebebasan sambil mengkebiri kebebasan orang lain. Saat kebebasan itu ia capai, malah ia yang terikat oleh kebebasan. Arus balik, berjalan dengan cara begitu.
Saya pikir, saya sekarang hidup pada jaman dimana semua orang boleh bebas berbicara sambil menutup telinga. Mulai dari kata Tuhan yang abstrak itu, sampai ke urusan ranjang orang. Semua boleh dinikmati seperti iklan yang tiba-tiba nongol saat acara sinetron berdarah-darah. Keduanya sama-sama membuat pusing kepala.
Tidak ada yang mudah di jaman ini. Kedamaian dicapai dengan perang. Menarik juga dua kata yang membangun kalimat itu: Damai-Perang. Kedua kata itu dalam benak Cangak saya yang suci ini, sungguh tidak masuk akal. Ide yang diwakili sungguh sangat jauh. Tapi yang terjadi itu-itu juga. Senjata-senjata dibuat semakin canggih. Tujuannya barangkali untuk melindungi kedamaian negara. Masalahnya, melindungi dari apa?
Terlalu naif jika saya berpikir, bahwa kedamaian hanya akan tercipta jika dari dalam hati orang-orang sudah merasakan kedamaian. Itu adalah dunia ideal yang banyak dielu-elukan dan tidak diusahakan. Sayangnya otak manusia tidak bisa bekerja dengan cara yang serupa. Maka semakin jelas, atas suatu dunia ideal yang bisa dinikmati oleh mata, ada bagian lain yang dihempaskan. Barangkali penghempasan itu dilakukan dengan sengaja. Yang dihempaskan, bisa manusia, bisa hasil kerja, bisa ide. Bisa apa saja. Artinya, ada sesuatu hal yang memang dihilangkan, dilenyapkan, dihapuskan dari catatan. Atau lebih halus, hal-hal itu disembunyikan. Seperti kentut orang, ada di dalam perut sana, tapi pura-pura tidak ada.
Arus balik bisa bekerja dimana saja. Bahkan pada tulisan ini, arus balik itu bisa bekerja dengan halus dan tidak disadari. Atau pada otak manusia yang membaca-baca. Pikiran yang bekerja di dalam otak itu seperti arus laut. Berombak dan menenggelamkan. Maka wajarlah jika ada Yogi yang mengatakan, jika ingin damai maka tenangkan pikiran. Menenangkan pikiran, sama seperti menenangkan lautan.
Di sanalah letak tegangnya mengadakan kebebasan dan kedamaian. Ingin bebas dan ingin damai, selalu diawali dengan perang. Seorang Mahayogi bahkan membayangkan tapa brata itulah medan laga untuk berperang melawan enam musuh yang menggelapkan. Tetapi Mahayogi yang lain berkata, keenam kegelapan itu bukan musuh, tapi sahabat yang sangat setia yang menemanimu saat bangun maupun tidur. Karena mereka adalah sahabat, maka kasihi mereka.
Begitulah, ada berbagai macam kata-kata yang bisa keluar dari siapa saja. Kata-kata itu boleh didengar boleh tidak. Kalau mendengar tidak ada hadiah, kalau tidak mendengar tidak ada hukuman. Mendengar atau tidak, masalah kita semua tetaplah sama dari masa ke masa: Tidak Saling Menyakiti.
Menjalani tidak sama dengan mengatai. Orang boleh bercerdas-cerdas ria, mengkritik ini dan itu. Dan sebagaimana umumnya, arus balik akan bekerja dengan caranya. [T]
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...