Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
____
Sampai pada kalimat-kalimat itu, saya hentikan pembacaan. Setelah berhenti, permenungan datang sendiri. Selalu ada arus balik dari arus-arus yang sedang mengalir. Dan itu yang harus diwaspadai.
Arus balik itu yang akan menyeret-nyeret seorang peselancar masuk ke dalam laut. Bagi yang kurang mahir, arus balik itu pula yang menelannya ke pusaran. Tidak terkecuali, bagi seorang yang berselancar di atas aliran waktu. Akan tiba saatnya arus balik datang dan menyeretnya kembali ke masa lalu. Tidak ada cara lain jika itu terjadi, kecuali meminta pertolongan.
Seorang yang berjalan bersama segerombolan pertapa bukan tidak mungkin ditelan arus balik. Ada masanya, akan datang arus balik yang bisa menumbangkan keteguhan tapanya. Saat itu terjadi, yang awalnya ia selalu katakan “tidak” tiba-tiba menjadi “iya”. Yang awalnya “iya” bisa berubah menjadi “ragu-ragu”. Arus balik tidak akan memberikan peringatan kapan ia datang. Tiba-tiba korbannya sudah tenggelam begitu saja.
Perjuangan menuju kebebasan pun demikian. Entah kebebasan dalam arti luas atau sangat luas. Barangkali ada kebebasan dalam arti sempit atau sangat sempit, atau dan atau-atau sangat sempit sekali. Definisi atas konsep-konsep itu ada banyak. Saking banyaknya, tidak sedikit yang tersesat dalam kelindan definisi. Pada waktunya nanti, akan tiba pemberhentian definisi karena ia sudah terlalu paradoks. Orang mencari kebebasan sambil mengkebiri kebebasan orang lain. Saat kebebasan itu ia capai, malah ia yang terikat oleh kebebasan. Arus balik, berjalan dengan cara begitu.
Saya pikir, saya sekarang hidup pada jaman dimana semua orang boleh bebas berbicara sambil menutup telinga. Mulai dari kata Tuhan yang abstrak itu, sampai ke urusan ranjang orang. Semua boleh dinikmati seperti iklan yang tiba-tiba nongol saat acara sinetron berdarah-darah. Keduanya sama-sama membuat pusing kepala.
Tidak ada yang mudah di jaman ini. Kedamaian dicapai dengan perang. Menarik juga dua kata yang membangun kalimat itu: Damai-Perang. Kedua kata itu dalam benak Cangak saya yang suci ini, sungguh tidak masuk akal. Ide yang diwakili sungguh sangat jauh. Tapi yang terjadi itu-itu juga. Senjata-senjata dibuat semakin canggih. Tujuannya barangkali untuk melindungi kedamaian negara. Masalahnya, melindungi dari apa?
Terlalu naif jika saya berpikir, bahwa kedamaian hanya akan tercipta jika dari dalam hati orang-orang sudah merasakan kedamaian. Itu adalah dunia ideal yang banyak dielu-elukan dan tidak diusahakan. Sayangnya otak manusia tidak bisa bekerja dengan cara yang serupa. Maka semakin jelas, atas suatu dunia ideal yang bisa dinikmati oleh mata, ada bagian lain yang dihempaskan. Barangkali penghempasan itu dilakukan dengan sengaja. Yang dihempaskan, bisa manusia, bisa hasil kerja, bisa ide. Bisa apa saja. Artinya, ada sesuatu hal yang memang dihilangkan, dilenyapkan, dihapuskan dari catatan. Atau lebih halus, hal-hal itu disembunyikan. Seperti kentut orang, ada di dalam perut sana, tapi pura-pura tidak ada.
Arus balik bisa bekerja dimana saja. Bahkan pada tulisan ini, arus balik itu bisa bekerja dengan halus dan tidak disadari. Atau pada otak manusia yang membaca-baca. Pikiran yang bekerja di dalam otak itu seperti arus laut. Berombak dan menenggelamkan. Maka wajarlah jika ada Yogi yang mengatakan, jika ingin damai maka tenangkan pikiran. Menenangkan pikiran, sama seperti menenangkan lautan.
Di sanalah letak tegangnya mengadakan kebebasan dan kedamaian. Ingin bebas dan ingin damai, selalu diawali dengan perang. Seorang Mahayogi bahkan membayangkan tapa brata itulah medan laga untuk berperang melawan enam musuh yang menggelapkan. Tetapi Mahayogi yang lain berkata, keenam kegelapan itu bukan musuh, tapi sahabat yang sangat setia yang menemanimu saat bangun maupun tidur. Karena mereka adalah sahabat, maka kasihi mereka.
Begitulah, ada berbagai macam kata-kata yang bisa keluar dari siapa saja. Kata-kata itu boleh didengar boleh tidak. Kalau mendengar tidak ada hadiah, kalau tidak mendengar tidak ada hukuman. Mendengar atau tidak, masalah kita semua tetaplah sama dari masa ke masa: Tidak Saling Menyakiti.
Menjalani tidak sama dengan mengatai. Orang boleh bercerdas-cerdas ria, mengkritik ini dan itu. Dan sebagaimana umumnya, arus balik akan bekerja dengan caranya. [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...