‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Segala simbol-simbol dalam kehidupan manusia, adalah hasil berkesenian yang dituntun oleh kecerdasan. Sebagai sebuah karya seni, mestinya ia diperlakukan dengan penuh apresiasi. Sebagai sebuah produk kecerdasan, seharusnya ada rasa hormat kita di sana. Bahkan jika itu adalah simbol-simbol yang telah dilarang, belum tentu semuanya karena ketidakbenarannya, namun mungkin saja karena rasa takut kita yang telah menjadi paranoid.
Perasaan takut yang tak berwujud, yang tak punya rumah, entah ia datang dari dan mau pergi ke mana. Akan selalu mencari korban atas ketakutan-ketakutannya sendiri, bagai radikal bebas yang toksik merusak sel-sel lainnya dalam tubuh manusia. Simbol-simbol bahkan lebih “diam” ketimbang sebuah gagasan atau ide yang telah dijabarkan dalam narasi-narasi. Keduanya adalah reperesentasi dari sebuah kebebasan berpikir dan berbicara.
Selamanya pikiran itu punya kemewahan sebagai entitas yang selalu bebas. Dunia takkan pernah dapat mengadili pikiran-pikiran manusia, ia berada pada level peradilan Tuhan. Hingga gagasan atau simbol itu menjelma menjadi sebuah agresi yang telah melannggar kemerdekaan orang lain maka ia dapat dipersalahkan atas perbuatan-perbuatannya itu. Saat di penjara pun kemudian, pikiran-pikiran seorang pesakitan akan tetap selalu merdeka. Meski demikian, kemerdekaan berpikir tak selalu membawa kebaikan, maka kita diajak adil sejak dalam pikiran. Inilah kemerdekaan yang esensi.
Hari ini, simbol-simbol lebih sering menyulut kebencian dan dendam. Saat seorang pemuka agama di ruang tertutup telah merendahkan simbol agama yang lain, namun di luar dugaan rupanya terkuak ke ruang publik. Jika ruang tertutup adalah identik dengan pikiran, maka ia bebas. Namun saat ia dibelenggu kebencian, sebetulnya itu bukanlah pikiran yang merdeka. Kebencian adalah penjajah dalam pikiran itu sendiri. Identik dengan rasa iri, cemburu, dendam, kecewa dan takut. Patutlah ada ungkapan terkenal ini, musuh terbesar kita adalah diri-sendiri. Atau, semua musuh di luar sana niscaya kita kalahkan saat terlebih dahulu kita kuasa mengalahkan diri-sendiri, melumpuhkan segala energi negatif dalam jiwa sendiri.
Jika itu yang terjadi, maka seharusnya tak perlu ada penghancuran patung Budha di lembah Bamiyan, Afghanistan oleh kelompok Taliban. Dua patung raksasa dari sosok tokoh Budha yaitu Buddha Wairocana atau yang populer disebut “Solsol” dengan ketinggian 53 meter sekaligus yang terbesar, dan Gautama atau “Shahmama” setinggi 35 meter yang diketahui dibuat pada abad keempat dan kelima. Lembah Bamiyan yang terkenal dengan keindahan alamnya, terletak di Afghanisan tengah dan berjarak sekitar 130 km barat laut dari Kabul, ibukota Afghanistan, dan berada di ketinggian 2.590 meter di atas permukaan laut. Di masa lampau, ia termasuk ke dalam Jalur Sutra yang termashur itu. Betapa kebencian dan rasa takut telah meluluhlantakkan karya-karya terbaik dalam sejarah peradaban umat manusia itu. Hanya menyisakan butiran-butiran debu pikiran terjajah yang terus beterbangan hingga di era milenium ini.
Segala simbol-simbol, karena ia hasil berkesenian yang dijiwai kecerdasan, maka menuntut kebijaksanaan kita dalam menafsirkannyaa. Dalam budaya tradisional kanak-kanak kita misalnya, kakek nenek atau orang tua melarang kita duduk di atas bantal karena dapat menyebabkan pantat kita bisulan. Itu jelas pelajaran soal sopan santun dan tata krama, bukannya soal kesehatan dan medis, meski mereka memilih diksi bisulan atau abses. Atau saat perayaan hari raya Nyepi yang eksotis, amati gni adalah salah satu tradisi yang harus ditaati, yaitu tidak menyalakan api dan lampu. Sesungguhnya ia membawa makna hakikat untuk kita berlatih meredam segala emosi dan amarah yang bagaikan api dapat melalap hanguskan segala akal sehat dan kebaikan. Namun nyatanya kita justru lebih sering meributkan dan melakukan razia penduduk yang menyalakan lampu di rumahnya saat perayaan Nyepi.
Kita mungkin dapat belajar banyak dari seorang yang bernama Dan Brown. Penulis kelahiran Exeter, New Hampshire, USA tahun 22 juni 1964 ini begitu terpesona dengan berbagai simbol dalam sejarah dunia. Itulah yang kemudian menjadi tema-tema dalam novel-novel larisnya yang telah laku puluhan juta kopi dan telah diterjemahkan ke dalam sedikitnya 40 bahasa negara-negara di dunia. Ia paham betul, ada keindahan dan kecerdasan yang tersembunyi dalam simbol-simbol yang eksis dalam kehidupan berbagai tradisi, budaya maupun agama dan keyakinan manusia di seluruh belahan bumi ini. Ia membuka pikiran dan hatinya pada setiap simbol yang berserakan bahkan yang kini hanya tersisa dalam catatan-catatan terbatas karena telah ditinggalkan oleh kaumnya. Merangkaikannya menjadi labirin rumit alur peristiwa cerita-cerita yang menegangkan dalam novel-novelnya.
Dan Brown sepertinya telah mengingatkan kita, keindahan segala simbol-simbol dalam peradaban ini takkan pernah sirna, ia hanya akan buruk dan menjadi rendah dari kebencian-kebencian kita. Dari pikiran yang tak pernah merdeka, terjajah oleh dendam dan kedengkian.
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...