“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Tak sedikit yang mengaku menghindari check up atau pemeriksaan kesehatan deteksi dini karena rasa takut. Takut jika mereka kemudian mengetahui ada penyakit di dalam tubuhnya. Padahal konsep deteksi dini adalah justru memang untuk mengetahui adanya satu penyakit yang tak disadari. Atau untuk mendeteksi berbagai faktor risiko yang jika dibiarkan, pada suatu saat dapat saja manifes menjadi penyakit mematikan. Ini bukti bahwa tak semua penyakit dapat memberikan keluhan dan gejala, namun ia nyata ada di dalam tubuh kita. Selalu mengintip dan melancarkan serangan fatal pada saat yang tepat.
Ini mirip dengan cerita seru dalam film-film peperangan atau kisah-kisah mencekam operasi intelejen. Sangat sulit melumpuhkan lawan yang tak kasat mata. Begitulah, penyakit-penyakit yang sedari awal memberi keluhan, jauh lebih mudah mengobati ketimbang yang hadir tanpa permisi lalu meminta nyawa kita. Maka yang diam-diam inilah yang harus kita deteksi sedini mungkin untuk kemudian dapat menghentikannya.
Jadi ketakutan untuk check up adalah salah dan tak beralasan. Sama kelirunya dengan tak mau menimbang badan karena takut ketahuan beratnya, padahal maksud menimbang badan kan memang untuk mengetahui berat badan. Yang harus ditakutkan adalah makan yang berlebih tak kenyang-kenyang tentunya.
Bahkan saat deteksi telah dilakukan dengan sedini-dininya, pun penyakit belum tentu dapat dicegah. Namun setidaknya kita akan mengobatinya selekas mungkin hingga tak menjadi pembunuh ganas atau tak meninggalkan kecacatan yang berat. Kita pasti ingat akan kisah menarik salah seorang aktris Hollywood yang sedemikian peduli dengan dirinya. Saat mengetahui dalam silsilah keluarganya ada riwayat penyakit kanker, ia mengambil sebuah keputusan yang mencengangkan.
Dari sains ia paham kanker itu diturunkan, cepat atau lambat. Seakan-akan menyepakati sebuah adagium yang terkenal, yaitu sejarah akan berulang, sejarah dalam tubuh orang-orang pada satu garis genetik. Ia memutuskan untuk mengangkat jaringan payudara bawaannya dan indung telur yang masih sehat-sehat saja, hanya lantaran dalam rekam medis keluarganya ada riwayat kanker dari kedua organ penting untuk wanita tersebut. Di era teknologi medis rekonstruksi yang sedemikian maju saat ini, payudara dapat “dikembalikan” dengan mudah bahkan dalam bentuk yang lebih indah. Namun belum untuk indung telur atau ovarium. Secara teoritis aktris ini tak lagi punya risiko kanker untuk kedua organnya tersebut. Namun belum untuk kanker lain.
Deteksi dini kesehatan sangat terasa manfaatnya untuk penyakit-penyakit metabolik. Penyakit metabolik adalah sekelompok penyakit meliputi keadaan kelebihan berat badan, gangguan kolesterol, darah tinggi, asam urat maupun penyakit gula. Sebagian besar penyakit ini tak memberi keluhan dan gejala. Namun merekalah yang paling bertanggung jawab atas kejadian stroke, serangan jantung maupun gagal ginjal atau amputasi kaki akibat diabetes. Keadaan-keadaan ini boleh disebut sudah begitu dekat dengan kematian dan kremasi, bahkan dengan penanganan yang sebaik-baiknya. Betul-betul seakan aksi agen rahasia yang selalu tersembunyi dalam kegelapan maupun identitas yang disamarkan. Karena mereka tak memberi keluhan apapun maka kita perlu mendeteksinya secara berkala, tak boleh lengah lantaran kebaikannya tak memberi gejala dan rasa sakit. Maka, kini kita sadar, ternyata rasa sakit itu penting pula untuk tubuh sebagai kewaspadaan biologis.
Deteksi penyakit lebih dini, selain lebih mudah diobati, ia pun dapat mengurangi pembiayaan penyakit tak menjadi terlampau besar. Kita bisa ambil satu contoh penyakit asam urat misalnya. Check up teratur dapat memberi petunjuk kepada pasien bagaimana harus menjaga kadar asam urat dalam darah tetap dalam batas idaman. Jika kita tak disiplin menerapkan ini, maka tak sedikit kasus gangguan asam urat yang kemudian memaksa penderitanya seumur hidup teratur dua kali seminggu cuci darah. Betapa jauh beda pemulihan maupun pembiayaan keduanya. Kita bebas boleh memilih salah satu dari keduanya. Pilihlah yang pertama lalu lakukan upayanya.
Jelas sudah check up itu teramat penting dan bermanfaat untuk kita semua, apalagi saat ini penyakit-penyakit berbahaya terjadi pada usia yang jauh lebih muda. Tak perlu ada rasa takut karena deteksi dini akan mengajak kita untuk mengenali diri lebih dalam dan lebih baik. Salam sehat untuk semua! [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...