- Judul : Luh
- Penerbit : Pustaka Ekspresi
- Tahun terbit : Cetakan Pertama, April 2019
- Penulis : Ktut Sugiartha
One is not born, but rather becomes, a woman – Simone de Beauvoir
Novel
Luh karya Ktut Sugiartha adalah karya yang mengalir. Novel ini tentu lahir
sebagai sebuah refleksi diri dalam sudut pandang perempuan. Ini menarik sebab
penulisnya adalah seorang laki-laki, namun sudut pandang orang pertama yang
digunakan adalah tokoh perempuan. Karakter tokoh utama yakni Luh digambarkan
punya pemikiran yang matang, prinsip hidup, dan ketangguhan. Selain itu,
keresahan-keresahan yang dirasakan Luh juga tidak terlalu didramatisir.
Pola
pembentukan tokoh perempuan dalam novel ini tentu adalah sebuah mimikri dari
realita. Luh dihadapkan oleh masalah yang juga dialami oleh sebagian besar
perempuan. Apakah perlu melanjutkan sekolah? Apakah perempuan harus selalu di
rumah? Apakah perempuan harus terus mengalah? Apakah budaya dan adat masih
menjadi penghalangan untuk perempuan berkarya? Apakah perempuan harus terus
mengeluh terhadap pahit getirnya kehidupan? Bisakah perempuan mengambil
keputusan?
Pertanyaan-pertanyaan
yang menggelisahkan itu terjawab dalam alur cerita yang sistematis. Novel Luh
yang terdiri atas tujuh bagian ini mengantarkan pembaca untuk lebih mendalami
cerita. Selain itu, cerita yang disuguhkan mengalir ringan dengan diksi
sederhana. Metafora yang dipilih cenderung bernuansa romantis yang terdapat di setiap
permulaan bagian cerita. Seperti penggalan berikut.
Kuguyur
tubuhku dengan bergayung-gayung air. Segar sekali rasanya, mengundang bibirku
untuk bersenandung ria (hal.19).
Matahari
hampir mencium carawala. Langit di ufuk barat tampak bagai selembar kanvas yang
dipoles nuansa lembayung (hal28).
Alur
novel ini dibuka dengan tokoh Luh bercakap-cakap dengan temannya sepulang kuliah
dan menuturkan tentang kehidupan asmaranya dengan Mardawa yang tidak berjalan
baik. Luh juga memaparkan tentang dirinya yang berjuang dengan ibunya
sepeninggal ayahnya. Ia pun harus membantu ibunya yang jualan di pasar, menjual
canah dan buah-buahan. Kemudian kemunculan tokoh baru yakni Ngurah seorang
dokter yang tertarik dengan Luh.
Konflik
ini menjadi lebih hidup karena Luh bingung untuk mengambil beberapa keputusan
dihidupnya. Tokoh Luh bimbang antara bekerja atau lanjut belajar, dia juga ragu
dengan asmaranya, kemudian dihadapkan
dengan pilihan antara kasta atau keluarga.
Konflik batin yang dipilih ini semakin menarik karena dibubuhi unsur niskala dan spritualitas. Hal-hal magis
yang dialami Luh nampak mengejutkan, terlebih karena hal ini ia pun mengetahui
fakta tentang ayahnya.
“Percuma, Luh.” Katanya suatu hari.
“Kamu tak mungkin bisa berbuat banyak untuk keluarga kita hanya dengan mengandalkan ijazah SMA. Berapa sih gaji yang bisa kamu harapkan?” (hal.6)
Konflik lain terlihat
pada bagian Mimpi Aneh. Luh mendapat beberapa firasat dan kerap bermimpi yang
seram. Luh kemudian mencoba menanyakan ke orang pintar.
“Aneh, mimpi itu ternyata datang lagi pada hari berikutnya dna berikutnya lagi. Aku sangat terganggu dibuatnya.” (hal.63)
“Ia hanya mengingatkanmu.” Mengingatkanmu akan panggilan leluhur.” (hal.66)
Konflik lain terlihat
pada bagian Mimpi Aneh. Luh mendapat beberapa firasat dan kerap bermimpi yang
seram. Luh kemudian mencoba menanyakan ke orang pintar.
“Aneh, mimpi itu ternyata datang lagi pada hari berikutnya dna berikutnya lagi. Aku sangat terganggu dibuatnya.” (hal.63)
“Ia hanya mengingatkanmu.” Mengingatkanmu akan panggilan leluhur.” (hal.66)
Percakapan
antara Luh dan ibunya ini ternyata dijawab dengan diterimanya Luh menjadi
pramugari. Namun Mardawa, kekasihnya menentang keputusan itu.
“Wanita itu makhluk yang lemah, Luh. Tak mungkin Luh ingkari itu. Jauh dari rumah sangat riskan buatmu.”
“Saya bukan anak kecil lagi. Saya tahu apa yang Bli maksud. Bli Meragukan kesetiaan saya, kan?”
Konflik
pun berlanjut ketika Ngurah lebih gencar mendekati Luh. Ia pun melamar Luh.
Namun Luh mempunyai dilema karena berbedaa status sosialnya.
Saya baru sadar, ternyata kita tidak berdiri di atas kutub yang sama.” (hal 30)
Aku sangat risau akan perbedaan status sosial di antara kami, apalagi kau harus dikaitkan dengan embel-embel kasta…..
Membiarkanku kawin dengan Ngurah berarti memutus hubuganku dengan Ibu, sebab begitu menjadi istrinya statusku akan berubah (hal.94)
Tokoh
Luh mencoba menyelesaikan konflik ini dengan mengambil keputusan. Keputusan-keputusan
yang diambil oleh tokoh Luh dalam novel ini sangat berisiko. Perempuan remaja
yang dihadapkan oleh berbagai konflik batin seperti ini tentu akan kesulitan
memutuskan sesuatu. Rasa kelekatannya terhadap ibunya, pacarnya, dan temannya
membuatnya sulit untuk mengambil keputusan. Tokoh Luh lantas tak mau lemah. Ia
memilih mengejar cita-citanya dan meminimalisir kecemasannya.
“Aku betul-betul menikmati pekerjaanku. Hari-hari kulalui dengan semangat hidup yang baru….Bamun apa yang berhasil kucapai adalah berkat ibu juga. ”(hal.42)
“Kerja itu persembahan, Nak.” Tulisannya dalam sepucuk surat. (hal.43)
“Kamu tak perlu menjadi siapa pun, jadilah dirimu sendiri. (hal.43)
Novel
ini ditutup dengan kepergian ibu Luh. Sebelum meninggal dunia, ibunya
meninggalkan pesan agar Luh segera menikah dengan Ngurah. Ibunya akan tenang
bila Luh bersama Ngurah.
Novel Luh merangsang kita untuk berani mengambil keputusan, mengambil risiko, dan tetap optimis terhadap dinamika perubahan hidup. Perempuan tidak perlu selalu menjadi korban, selalu memandang diri tidak berdaya, dan sedikit pilihan. Terlebih pada masa transisi, emosi yang menggebu tidak dibarengi dengan kematangan bersikap. Novel ini sangat direkomendasikan untuk remaja baik perempuan maupun laki-laki yang ingin mendalami diri dan memperluas pemikiran sehingga mampu membuat keputusan-keputusan yang ajaib. [T]
Catatan: Ulasan ini disampaikan dalam acara bedah buku pada acara Denpasar Book Fair, Selasa, 14 Agustus 2019.