Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
___
Hari kemerdekaan, selalu memberi keriangan dan semangat kepahlawanan. Ia merangkul kita dalam tetes air mata haru dan debar jantung gempita saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dan sang saka Merah Putih meniti angkasa. Namun, seharusnya tak ada satu pun perayaan hari kemerdekaan di seluruh muka bumi yang indah ini!
Kemerdekaan, ia sesungguhnya petunjuk sederhana dan gamblang, bagaimana kejinya mahluk bernama manusia yang memiliki akal budi lebih daripada fauna. Sebuah kemerdekaan, selalu lahir dari api penindasan dan debu arang penderitaan sesama manusia.
Adakah yang lebih keji daripada penindasan terhadap sesama? Sesama anak-anak Adam dan Hawa atau sesama mahluk sempurna yang telah dilahirkan dari satu rahim evolusi yang sama?
Tak satu pun alasan terhormat saat secara sadar manusia yang satu merenggutkan hak-hak manusia lain. Lalu menyekap mereka dalam gulag kekuasaan ciptaannya sendiri. Bahkan, Tuhan sang pencipta saja, tiada pernah menguasai ciptaannya. Ia membebaskan kita melaju sedemikian rupa, semau kita. Ia menyerahkan takdir dan nasib sepenuhnya kita ciptakan sendiri. Lalu bagaimana bisa, manusia yang satu kemudian seakan-akan menentukan nasib manusia yang lain?
Maka membahas hingar bingar sebuah kemerdekaan tidaklah lebih penting daripada menyelami bagaimana prilaku keji penindasan terhadap sesama manusia itu bisa bertumbuh, bahkan masih ada hingga saat ini, dalam segala wajah dan siasatnya!
Walau tak pernah mengalami, namun kita, sebagai manusia biasa, akan dapat ikut merasakan bagaimana getir penderitaan mereka yang menjalani sistem tanam paksa (cultuurstelsel) atau romusha yang kejam. Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik kolonialisme Belanda di Indonesia. Seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda.
Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelstel pun tetap dikenakan pajak. Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian yang disediakan pemerintah kolonial. Sistem tanam paksa telah mengakibatkan terjadinya bahaya kelaparan yang merenggut nyawa ribuan orang.Pada tahun 1844 di daerah Cirebon terjadi derita kelaparan yang merenggut ribuan nyawa orang dan pada tahun 1848 daerah Demak pun diserang wabah kelaparan.
Penduduk Demak yang kala itu berjumlah 336 ribu jiwa tinggal 120 ribu jiwa saja. Demikian pula bencana kelaparan di daerah Grobogan, Jawa Tengah, pada 1849 yang dikabarkan telah menelan korban jiwa lebih daripada separuh jumlah penduduk yang ada. Pun penjajah Jepang yang datang kemudian, tak lebih ringan menguliti bangsa kita yang malang tak berdaya. Dari tahun 1942 sampai 1945, diperkirakan sebanyak 4 hingga 10 juta orang dipaksa menjadi romusha. Jepang memerlukan romusha untuk mengerjakan proyek-proyek militer mereka, baik di Nusantara maupun di luar Indonesia.
Jika romusha diambil dari kaum lelaki, maka para gadis Nusantara dipaksa menjadi budak seks prajurit-prajurit Jepang di garis depan peperangan. Gadis-gadis malang itu dikenal dengan sebutan jugun ianfu alias wanita penghibur.
Nelson Mandela adalah simbol abadi perlawanan manusia terhadap penjajahan di era modern ini. Api semangat kemerdekaan dan kebebasan dalam jiwanya tak pernah redup meski digulag selama 28 tahun oleh pemerintahan keji apartheid di Afrika Selatan. “Saya menghargai cita-cita masyarakat demokrasi dan bebas, di mana semua orang hidup berdampingan dalam keselarasan dan memiliki kesempatan yang sama.
Saya rela mati demi cita-cita ini”, demikian penegasannya akan demokrasi dan persamaan hak. Kisah hidupnya yang sedemikian menakjubkan, menyentuh dan menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia untuk melawan diskriminasi rasial akhirnya dihargai Nobel Perdamaian di tahun 1993. Selalu ada seorang pahlawan pada setiap penindasan.
Homo homini lupus, adalah sebuah kalimat bahasa latin yang berarti "manusia adalah serigala bagi sesama manusianya". Istilah tersebut pertama kali dicetuskan dalam karya Plautus berjudul Asinaria (195 SM lupus est homo homini). Istilah tersebut juga dapat diterjemahkan sebagai “manusia adalah serigalanya manusia” yang diinterpretasi berarti manusia sering menikam sesama manusia lainnya.
Istilah itu sering muncul dalam diskusi-diskusi mengenai kekejaman yang dapat dilakukan manusia bagi sesamanya. Kepekaan karya-karya sastrawan yang begitu visioner seperti ini seakan-akan punya kekuatan sehebat ayat-ayat dalam kitab suci agama, atau mungkin sebuah kutukan? Entahlah.
Mungkin karena mereka paham dan yakin, membangun sebuah kehidupan takkan bisa cuma dengan kebaikan semata. Di sana harus ada keburukan, ia mesti menghadapi kejamnya penindasan agar kehidupan itu menjadi penuh arti. Bukankah kehidupan itu sendiri telah dimulai oleh sebuah “dosa asal”? Atau sebuah persaingan kejam dalam evolusi yang panjang?
Nelson Mandela juga Martin Luther King Jr, atau Mahatma Gandhi juga Bunda Theresa, takkan pernah dapat beristirahat dengan tenang di sisi Sang Pengasih jika sepakat dengan gagasan ini. Gagasan yang justru telah menciptakan sebuah paradoks, mereka insan-insan humanis yang penuh kasih pembebasan ini, yang telah meraih kebesaran namanya, lahir dari setiap kejamnya penindasan itu sendiri.
Selamat hari ulang tahun kemerdekaan RI, NKRI harga mati, merdeka! [T]
___
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...