Bagi orang Bali tak susah mengartikan
istilah kutun pundukan, yaitu orang
yang identik dengan kehidupan sebagai petani. “Pundukan” adalah pematang di
sawah. Kutun pundukan berarti orang
yang senantiasa hidup di tengah
sawah, merawat dan bercocok tanam padi untuk penghidupan sehari-hari.
Kisah
I Kutun Pundukan tersaji apik dan boleh dikatakan penuh lika-liku dalam novel
berbahasa Bali ngepop karya I Gusti Gede Djelantik Santha, kelahiran Karangasem 12
Agustus 1941. Novel ini diterbitkan oleh Pustaka Ekpresi setebal X+207 halaman
tahun 2011 dengan sampul/tata letak diracik oleh I Made Sugianto.
Menariknya
dua tahun sudah buku novel ini hadir di rak buku. Tetapi sejak itu pula saya
tak pernah sanggup berkonsentrasi membacanya dengan tuntas. Hingga saat tengah
malam (Sanicara Umanis Watugunung 25/6/2016), Hari Suci Saraswati saat mata
setia menyongsong pagi menjelang Banyu Pinaruhan (26/6/2016 Redite Paing
Sinta), akhirnya saya seperti ada dalam suasana “kemenangan” saat mampu meraup
sari-sari pengetahuan lokal hingga halaman akhir novel berbahasa bali ngepop
ini.
Dari
judul; “Tresnane Lebur Ajur Satonden Kembang”, memang seperti mudah ditebak
tentang kisah muda-mudi atau remaja yang sedang kasamaran bak buku novel yang
banyak beredar atau kisah sinetron pasaran di layar kaca. “Ohh, ternyata
tidak”.
Memang
bagi yang tak biasa dengan karya Sastra berbahasa Bali ngepop, kita pasti butuh
sedikit perjuangan untuk mengupas kalimat demi kalimat dan beragam makna yang
terkandung di dalamnya.
Justru di sanalah
tantangannya. Saya seperti seorang arkeolog yang sedang berjuang merekonstruksi
teks atau artifak kuno dalam study tentang sejarah budaya material dan study
tentang budaya manusia masa lalu.
Bahkan napas kita pun akan terolah saat
membaca kalimat penghubung dengan belasan sesonggan,
sesenggakan, bebladbandan, peparikan, sloka dan sebagainya, seperti “mebikul
tanah” (crarat crurut) (wara-wiri) atau “mejukut di
natah” (kelor) –lelor (lemah terkulai).
Juga pesan atau ungkapan bijak seperti “ngempu
dewek bajang” dan sebagainya.
Menurut
saya novel ini lumayan padat dengan alur berliku, tetapi bukan sekedar
rangkaian kalimat yang indah, tetapi berliku karena memang kisah yang disajikan
penuh dengan dinamika hidup baik dalam ranah budaya, agama, adat, kasta,
persaingan, konflik, awig dan
parikrama jagat sehingga tulisan lumayan setia merekam perkembangan anak muda
dijamannya.
Dalam
paragraf awal hingga akhir, banyak diungkap masa-masa dimana bioskup masih
menjadi hiburan yang paling trendi bagi masyarakat kota, juga saat jalanan
utama pulau dewata belum sesak oleh mobil pribadi, saat orang masih harus sabar
menunggu angkutan umum lintas kota kabupaten untuk berpergian, juga perjuangan
anak desa yang berjuang bersekolah dengan menjual hasil tangkapan belut
disawah.
Sesekali penulis juga menyajikan istilah
modern sebagai bentuk kemanjaan atau keakraban di dikalangan anak muda yang
hingga saat ini masih bertahan.
Pada
halaman depan saya masih dibingungkan dengan tokoh utama dalam cerita ini,
banyak tokoh tampil seimbang dan akhirnya memfokus pada satu sosok “pemeran
utama” bernama I Nyoman Santosa. Jika kita sudah sampai pada titik dimana I
Nyoman Santosa menjadi figur utama yang diceritakan dalam novel ini, maka
disanalah rasa penasaran akan muncul, memacu dan memicu nafas untuk terus
menggali hingga ujung kesimpulan. Kita pun akan terus dituntun untuk mengungap
misteri di balik kisah “I Kutun Pundukan” dalam Novel berjudul “Tresnane Lebur
Ajur Satonden Kembang” ini.
Akhir
kata novel ini pun sangat penting dibaca dan diakrabi oleh kalangan berbagai
usia, karena kita tidak hanya dipuaskan oleh petuah-petuah lama untuk
menetralisir kepenatan, nasib, takdir atau karma hidup. Atau sekedar untuk
berlatih bahasa bali yang belakangan mulai ditinggalkan oleh "generasi
digital".
Seperti
mengapresiasi hasil karya sastra pada umumnya, membaca novel ini kita juga akan
terusik dan tertarik untuk meluangkan waktu untuk mengupas dialektika sastra
novel dalam idiologi budaya populer, sehingga kita tidak terjebak dengan bahasa
gaul yang tidak patut dengan harapan budaya bahasa warisan leluhur tetap mampu
menjadi kepongpong; “mengubah ulat menjadi kupu-kupu”. [T]