Komunikasi, Menangis, Tertawa, dan Politik
SEMPAT beredar di linimasa media sosial dan pemberitaan, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Dayang menangis tersedu-sedu seusai meminta maaf atas kasus keracunan massa...
Galungan simbol kemenangan Dharma melawan Adharma. Perayaan Hari Raya Galungan adalah perayaan kemenangan kebenaran atas ketidakbenaran. Ini dilakukan setiap 6 bulan sekali sesuai hitungan kalender Bali. Atau lebih tepatnya setiap 210 hari.
Pertanyaannya, mengapa kemenangan kebenaran ini dirayakan? Tentu saja, ini sebagai penanda agar kita senantiasa mengingatkan umat Hindu bahwa kebenaran selalu menang. ”Satyam Ewam Jayate”.
Karena Galungan adalah perayaan kemenangan Dharma atau kebenaran, yang kalah tentunya tidak benar. Lalu siapa yang tidak benar itu? Saya, kamu, kami, kita, atau kau saja? Apa yang dijadikan ukuran benar atau tidak benar? Apa juga yang dipakai menyatakan ia menang atau ia kalah?
Pada kenyataannya, pada saat Hari Galungan, semua umat Hindu di Bali merayakan kemenangan Dharma. Apakah semua umat Hindu di Bali benar? Dan apakah semuanya menang?
Pasti saja ada umat yang salah alias tidak benar. Tetap saja mereka merayakan kemenangan Dharma, padahal ia pihak yang tidak benar. Mengapa ia tidak merayakan kekalahannya?
Tentunya pertanyaan ini menggelitik dan rada skeptis untuk menggugah nurani kita. Mari menggali lebih dalam lagi tentang Hari Raya Galungan. Orang yang merenung, orang yang tak henti-henti menggali ilmu pengetahuan untuk mencapai kebenaran, itulah saya pikir orang yang menang.
Pada dasarnya kita selalu berjuang untuk memenangkan dharma dalam hati kita. Dalam bathin, dalam pikiran kita. Galungan mengingatkan hal itu. Dan itulah sesungguhnya makna dari kemenangan.
Dalam jiwa kita ada Kurusetra tempat pertempuran yang tak ada habisnya antara Dharma melawan Adharma. Di sana melalui Galungan kita menguatkan diri agar selalu ingat, eling.
Sebenarnya saat perayaan kemenangan Dharma, kita sekaligus merayakan kekalahan Adharma. Karena sesungguhnya Dharma dan Adharma ada dalam diri kita. [T]
SEMPAT beredar di linimasa media sosial dan pemberitaan, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Dayang menangis tersedu-sedu seusai meminta maaf atas kasus keracunan massa...
BALI hari ini sedang kehilangan fungsi oase jiwa sebagai Pulau Dewata. Di balik senyum sumringah pariwisata dan wangi asep menyan majegau yang mengepul di setiap sudut pura, terse...
WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha cukup mengambil perhatian saya karen...
Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Ditampilkan dan diprod...
DI Bali, tempat suci idealnya menjadi ruang hening: tempat manusia menundukkan kepala, menyucikan niat, dan menata hubungan dengan yang maha kuasa. Namun dalam praktik sosial yang...
BAIT PERTAMA Baris pertama,entah sudah kutulis untukmutentang singgah pertemuandan dekap hangat mata rayumulekat rindu seakan menjadi teman Baris kedua,Pertama kali senyum t...
TOKO jam itu selalu tutup setengah hari. Terletak di pojok Jalan Salemba, diapit warung kopi dan toko plastik, toko itu seperti tak peduli zaman. Namanya “Waktu & Anak-Anak...
ISTILAH sekaa gong sebunan, atau sekaa yang anggotanya berasal dari satu desa, belakangan mulai tak terdengar gaungnya. Kini, untuk ikut Pesta Kesenian Bali (PKB) misalnya, banyak...
ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme keku...
PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di ruang kelas. Tantangan abad ke-21 menuntut kemampu...