Masa Lalu yang Menjadi Materi Penting Hari Ini
Menyajikan keindahan yang berbeda dan original menjadikan pantai ini sebuah magnet bagi para wisatawan. Ketika menyebut nama pantai, maka logika umum yang tergambar adalah hamparan pasir, lautan yang luas sejauh mata memandang, ataupun gulungan ombak yang datang silih berganti menyapu hamparan pasir yang luas.
Berbeda dengan pantai yang satu ini, bukan hamparan pasir, bukan lautan yang luas, bukan pula gulungan ombak yang datang silih berganti, yang dapat dinikmati. Pantai ini menyajikan menu wisata yang berbeda dan unik dari pantai-pantai lainnya.
Sebuah lubang besar menganga yang dikelilingi oleh tebing batu karang tua. Salah satu sisi tebing yang berbatasan langsung dengan laut, terdapat terowongan besar yang seolah-olah menjadi pintu untuk keluar masuknya air laut ke dalam lubang besar ini. Jadilah lubang besar ini seperti perangkap air laut. Ketika ombak besar datang, masuk dari terowongan pada salah satu tebing batu karang yang berbatasan langsung dengan laut, maka ombak akan menghantam sekeliling batu karang yang seperti menjadi tembok lubang besar ini.
Saat itulah lubang besar yang menganga ini akan menyemburkan percikan air yang menyerupai semburan asap raksasa. Inilah keunikan yang membuat pantai ini berbeda dari pantai-pantai yang lainnya. Banjar Sompang, Desa Bunga Mekar, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali, Indonesia, adalah lokasi keberadaan pantai yang unik ini. Pantai ini adalah Pasih Uug atau yang lebih populer di kalangan wisatawan dengan sebutan Broken Beach.
Tidak
hanya keindahannya yang dapat dinikmati untuk sebuah referensi rekreasi dari
pantai ini. Broken
Beach tetap menyimpan masa lalu yang menarik untuk
dipelajari sampai hari ini sebagai referensi ejukasi. Ada cerita/legenda yang
tetap diyakini oleh masyarakat sekitar berkaitan dengan terbentuknya tempat dan
nama
pantai ini. Keberadaan lubang besar dengan dikelilingi tebing batu
karang di pantai ini menjadi rahim untuk melahirkan nama Pasih Uug. Pasih Uug dalam terjemahan Bahasa Indonesia menjadi “pantai yang rusak”. Ada
sebuah nilai yang dapat dipelajari dan
dijadikan pedoman dalam konteks kekinian dari
cerita/leganda asal muasal nama dan terbentuknya pantai ini.
Legenda Terbentuknya Broken Beach atau Pasih Uug
Banyak versi dan banyak sumber, baik itu
dari sumber lisan, tertulis (cetak ataupun online), yang menjelaskan tentang legenda terbentuknya
tempat dan nama Pasih Uug yang
sekarang lebih populer dengan nama Broken
Beach. Dari banyak versi dan sumber itu, tulisan ini hanya mengambil
legenda Pasih Uug atau Broken Beach versi dan sumber yang
didapat dari internet, yaitu https://tempatwisatadibali.info/pasih-uug-nusa-penida-bali/.
Pasih Uug
yang sekarang lebih populer dengan nama Broken
Beach pada mulanya adalah sebuah banjar yang konon didiami oleh
banyak penduduk. Pada suatu hari, diceritakan ada seekor ular besar memasuki banjar tersebut. Oleh warga banjar, ular raksasa itu kemudian
ditangkap lalu dibunuh dan dagingnya dimakan.
Setelah
kejadian itu, pada malam harinya, datanglah seorang pria tua ke banjar itu. Pria tua itu kemudian
memberikan nasihat kepada warga banjar
untuk tidak lagi melakukan penangkapan dan pembunuhan ular, seperti yang telah
dilakukan siang tadi. Menurut nasihat si pria tua itu, penangkapan dan
pembunuhan binatang tanpa alasan yang jelas merupakan perbuatan yang salah.
Mendengar nasihat seperti itu, warga banjar
mengaku tidak pernah menangkap dan membunuh ular. Perdebatan pun terjadi.
Warga
banjar tetap bersikukuh mengaku tidak
pernah melakukan penangkapan dan pembunuhan terhadap seekor ular. Mereka bahkan
menuduh si pria tua telah memfitnah banjar
mereka. Namun si pria tua itu juga bersikukuh bahwa mereka telah melakukan
penangkapan dan pembunuhan terhadap seekor ular. Pria tua itu seolah-olah
melihat apa yang telah dilakukan oleh warga banjar
tadi malam, sedangkan warga banjar mengaku
tidak pernah menangkap dan membunuh seekor ular.
Perdebatan tidak kunjung selesai. Warga banjar dan si pria tua masih tetap pada argumen masing-masing. Mereka sama-sama mengaku benar dan tidak berbohong. Di tengah-tengah kebuntuan dalam perdebatan itu, si pria tua mengusulkan sebuah syarat kepada warga banjar untuk membuktikan kejujuran mereka. Si pria tua mengeluarkan sebatang lidi daun kelapa lalu menancapkannya ke dalam tanah.
Pria tua lalu berkata, “ Apabila kalian bisa mencabut lidi ini, maka kalian tidak berbohong dan tidak pernah melakukan pembunuhan terhadap ular itu. Akan tetapi bila kalian tidak dapat mencabut lidi yang saya tancapkan ini, itu berarti kalian telah berbohong dan kalian telah membunuh ular itu”.
Mendengar
perkataan si pria tua itu, warga banjar
pun menyepakati. Dalam pikirin mereka, tidak terlalu sulit untuk mencabut
sebuah lidi yang sangat kecil itu. Menurut mereka, jangankan mereka yang telah dewasa,
anak kecilpun pasti akan dapat mencabut lidi itu. Mereka sangat yakin bahwa
kali ini si pria tua tidak dapat membuktikan tuduhannya. Perbuatan dan
kebohongan mereka pasti akan tetap tersembunyikan oleh lidi yang akan mereka
cabut dengan mudah.
Setelah
warga banjar menyepakati usul yang
diberikan oleh si pria tua itu, maka secara bergantian semua warga banjar berusaha mencabut lidi yang telah
ditancapkan itu. Warga banjar secara
bergantian mencabut lidi yang tertancap di tanah. Namun sayang, tidak satupun
warga banjar yang berhasil mencabut
lidi itu.
Setelah semua warga banjar tidak berhasil mencabut, si pria tua itulah yang kemudian mencabut lidi yang telah ditancapkan. Si pria tua memegang lidi yang tertancap di tanah, kemudian dengan sekuat tenaga, lidi itu dicabutnya. Lidipun tercabut dari tanah. Tiba-tiba saja, bekas tancapan lidi itu menyemburkan air yang sangat besar. Semakin lama, semburan air semakin besar.
Semburan air inilah yang akhirnya menenggelamkan banjar dan seluruh isinya. Semua warga banjar tenggelam, kecuali warga yang kebetulan ada di luar banjar saat itu. Bekas-bekas kehancuran itu masih bisa dilahat sampai sekarang, yaitu berupa tanah dengan lobang besar dengan dipenuhi oleh air laut. Banjar atau tempat yang tenggelam inilah yang sampai sekarang dikenal dengan nama Pasih Uug atau yang populer disebut dengan nama Broken Beach.
Lemahnya Nilai Integritas dalam Penghianatan
Sebuah Kejujuran
Legenda
terbentuknya Broken Beach atau Pasih Uug adalah masa lalu. Namun dari
legenda yang berkembang di tengah-tengah masyarakat itu, ada sebuah nilai yang
bisa dipelajari. Kejujuran adalah sebuah
nilai yang harus diperjuangkan bukan dipermainkan atau dihianati. Ada
konsekuensi ketika kejujuran itu dihianati. Legenda Pasih Uug telah membuktikan itu.
Warga banjar dalam legenda Pasih Uug atau Broken Beach tidak jujur untuk mengakui perbuatan yang dilakukan. Kualitas kejujuran dan prisip moral yang dimiliki oleh warga banjar tidak kuat. Ini artinya nilai integritas mereka begitu lemah. Mereka lupa bahwa menghiati nilai integritas dalam sebuah kejujuran yang diabaikan akan berdampak sangat besar dan global. Lihat saja, bagaimana seluruh warga banjar secara kompak menyembunyikan perbuatan mereka.
Mereka bahkan tidak mau menerima ketika ada seseorang (Si pria tua) yang mengingatkan kalau perbuatan membunuh ular tanpa alasan yang kuat adalah tidakan yang salah dan tidak boleh dilakukan. Mereka tetap bersikukuh tidak pernah melakukan pembunuhan seekor ular. Di sinilah sebenarnya mereka telah melakukan pembohongan atau bertindak tidak jujur, karena sesungguhnya mereka telah melakukan pembunuhan terhadap seekor ular.
Mereka
sesungguhnya tidak bisa lari dari kebohongan yang bermaksud disembunyikan,
sebab kebohongan serupa dengan asap yang tidak mungkin untuk disembunyikan
dalam kurun waktu yang abadi. Konsekuensinya nyata. Ketika diuji kebohongan
dengan sebatang lidi, mereka tidak bisa mencabut lidi dan terbukti berbohong.
Akibat dari kebohongan itu adalah hancurnya banjar
dan kehidupan mereka. Disinilah nilai integritas itu ada.
Dari
legenda Pasih Uug atau Broken Beach ini kemudian dapat ditarik
kesimpulan bahwa kebohongan dan ketidakjujuran hanya akan melahirkan bencana
dan kesengsaraan dalam hidup, baik bagi warga banjar (konotasi kekiniannya sebagai warga negara) ataupun bagi banjar (konotasi kekiniannya sebagi
sebuah negara) itu sendiri. Dengan demikian, nilai integritas dalam sebuah
kejujuran harus tetap dipegang teguh dan tidak boleh dihianati oleh siapapun.
Ketika kejujuran dihianati, maka kehancuran yang akan didapat.
Hilangnya Nilai Religius dalam Putusnya
Konsep Tri Hita Karana
Dalam kearifan lokal Hindu Bali, ada sebuah konsep yang mengajarkan keselarasan untuk menjaga agar dunia ini tetap harmonis. Konsep ini dengan tegas menggariskan bahwa dunia akan tetap harmonis jika hubungan atara manusia dengan lingkungannya dan antara manusia dengan Tuhannya tetap terjaga dengan baik. Tidak boleh ada yang saling menyakiti satu dengan yang lainnya. Ketika manusia merusak lingkungannya, baik biotik ataupun abioti, maka sesungguhnya manusia telah mengingkari keberadaan Tuhannya.
Jika itu terjadi, maka manusia dan lingkungannya akan hancur. Hal ini terjadi karena sesungguhnya semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Tuhan. Inilah sesungguhnya yang dimaksud dengan nilai religius.
Dalam legenda Pasih Uug atau Broken Beach yang telah diyakini sejak dulu itu, telah memberikan bukti bahwa sebuah banjar menjadi hancur karena warga banjar telah memutus konsep Tri Hita Karana itu, yaitu membunuh seekor ular . Hal ini karena seekor ular adalah bagian dari lingkungan manusia itu sendiri, yang merupakan bagian dari rantai makanan yang tidak boleh diputus oleh manusia secara membabi buta.
Ular atau binatang lainnya harus dimanfaatkan dan juga dijaga untuk kelangsungan hidup, bukan dimusnahkan tanpa ada manfaat yang jelas. Inilah nilai religius yang hilang, yang disampaikan dalam legenda Pasih Uug atau Broken Beach yang harus dijadikan materi penting untuk mengembalikan nilai religius itu dalam bermasyarakat dan bernegara. Ketika nilai religius ini hilang dalam kehidupan manusia, maka kehancuran bagi manusia itu telah menunggu. Pasih Uug atau Broken Beach telah membuktikan itu.
Demikianlah Pasih Uug atau yang lebih dikenal dengan Broken Beach. Tempat ini tidak hanya menarik untuk dikunjungi dan dinikmati keindahan alamnya, tetapi juga dapat dijadikan referensi penting dalam bermasyarakat dan bernegara.
Legenda tentang tempat ini telah menunjukkan betapa besar resikonya ketika nilai integritas itu lemah dan nilai religius dihilangkan dalam kehidupan manusia tanpa ada upaya untuk mengembalikannya lagi. Kehancuran telah menunggu. Pasih Uug atau Broken Beach telah menjadi bukti lemahnya nilai integritas dan nilai religius yang dapat dijadikan pelajaran untuk menguatkan kembali nilai-nilai itu kepada generasi bangsa ini. [T]