2015, untuk kali pertama, saya
menginjakkan kaki di Pulau Dewata, tepatnya di Kota Singaraja, Bali Utara.
Sampai sekarang, terhitung, sudah hampir empat tahun saya merantau dari Tuban,
Jawa Timur, ke Kota Singaraja. Bukan untuk kerja, atau jalan-jalan, tapi untuk
menuntut ilmu (walaupun sampai sekarang saya tidak tahu apa salahnya ilmu kok
dituntut).
Saya tercatat sebagai mahasiswa di salah
satu kampus negeri di Singaraja. Tentu untuk masuk ke universitas ini, bukan
tanpa tantangan. Sebenarnya, sejak 2014, mimpi untuk bisa kuliah ke Bali iu
sudah tumbuh. Hanya saja, kesempatan itu baru bisa saya dapatkan setahun
setelah saya dinyatakan tidak lolos tes SBMPTN tahun 2014.
Pada tahun itu juga, saya merasa tidak
punya harapan lagi. Saya yang malu tiap kali ditanya oleh rekan sejawat selalu
berusaha menyembunyikan rasa kecewa. Caranya adalah dengan berusaha tetap
tenang, setenang telaga dan tetap menebar senyum walau mungkin terasa hambar.
Pelan-pelan saya dapat kembali menata
hati, konsentrasi penuh pada pekerjaan sehari-hari, membantu orang tua dengan
semangat tinggi, didukung oleh semangat keluarga di rumah, menyiapkan mental
dengan serius. Saya tidak boleh berpikir negatif apalagi cengeng. Saya harus
berpikir positif, harus semangat.
***
Sejatinya saya tak pernah berani
memimpikan pergi kuliah di luar pulau. Realistis saja, saya ini siapa? Orang
tua saya tak punya cukup uang! Jika pun ada, jumlah itu hanya cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga plus biaya sekolah adik saya. Tetapi
ternyata saya salah, “banyak jalan menuju Roma”, begitu bunyi pepatah yang
terkenal itu. Dengan harapan suatu saat mimpi itu menjadi kenyataan.
Dan benar saja, melalui beasiswa
Bidikmisi, akhirnya saya bisa kuliah di luar pulau—dan tentu saja ini sangat
menyenangkan.
Saya sengaja daftar kuliah di luar pulau
Jawa. Di samping peluang untuk diterimanya sangat menyakinkan, di sisi yang
lain, saya ingin sekali mengetahui kehidupan dari sudut pandang yang lain. Agar
saya bisa membuka telinga dan mata. Mendengar dan membaca. Menapaki ruang-ruang
baru di berbagai tempat—tempat yang mempertemukan raga dan jiwa. Bukankah,
tubuh dan hati ini perlu melalang buana? Melihat cakrawala dari sudut yang
berbeda.
Dalam hal ini, pilihan saya jatuh kepada
pulau Bali.
Bali yang dulu termasuk dalam Provinsi
Sunda Kecil—yang beribu kota di Singaraja, dan kini terbagi menjadi tiga
provinsi: Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur—, selama ini,
telah mengajarkan banyak hal kepada saya.
Pulau yang secara grografis, terletak di
8⁰25ꞌ23″ Lintang Selatan dan 115⁰14ꞌ55″ Bujur Timur ini—yang membuatnya
beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain—melalui seni, keelokan
pantai, gunung, danau, dan budayanya, agama dan kepercayaan yang diyakininya,
menusianya, dan kearifan-kearifan lokalnya, tampaknya selalu memberikan
eksotisme tersendiri bagi siapa pun yang pernah, atau baru pertama kali
mengunjunginya. Dan di pulau inilah, saya diajarkan tentang proses untuk
menjadi manusia yang manusia.
Sejak saya tinggal di Singaraja, entah sudah berapa ratus orang baru yang saya temui. Di sini sempat saya menyimpulkan—entah benar atau tidak—dalam menilai seorang pendatang, setidaknya saya membagi orang Bali menjadi tiga: Mereka yang menganggap pendatang (seperti saya) sebagai ancaman (status quo), mereka yang menganggap pendatang hanya sebagai nilai ekonomis, dan mereka yang menganggap pendatang tak lain sebagai saudara sebangsa setanah air.
Dan saya bersyukur, di Singaraja, saya selalu menemukan orang-orang jenis yang ketiga ini, yang menganggap saya sebagai saudara sebangsa. Walaupun beberapa kali juga menemukan jenis orang pertama dan kedua. Namun demikian, saya selalu menganggap itu sebagai pembelajaran—suatu proses untuk menjadi manusia yang menemukan sebuah realitas sosial, dan tentu bukan hanya sekadar menemukan fakta.
Bertemu dengan berbagai karakter, bahasa,
bangsa, suku, agama, telah mempengaruhi kehidupan, pemikiran, dan dalam hal apa
pun. Dan itu semua saya dapatkan di Singaraja ini.
Di sini, saya tidak hanya belajar tentang
satu jenis ilmu pengetahuan saja. Di sini saya belajar tentang berbagai ilmu
pengetahuan: seni-budaya, sastra, filsafat, kepempinan-manajemen-organisasi,
toleransi, keberagaman, dan tentu saja, ilmu kehidupan.
Saya merasa beruntung, selalu bertemu
dengan orang-orang yang bisa saya jadikan guru untuk laku kehidupan. Mereka
yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Mereka yang dengan senang hati
mengajarkan saya untuk menjadi manusia.
Dan dari semua rangkaian prsoses itulah,
saya bisa sampai pada satu titik—yang mungkin, sekali lagi mungkin—inilah yaang
disebut sebagai: Cinta. Saya menemukan cinta di sini. Di mana pun, di agama apa
pun. Seperti katanya Rumi, ada Cinta dalam setiap agama. Tetapi, Cinta sendiri
tak punya agama.
Dan tentang agama, misalnya. Saya yakin,
setiap agama mengajarkan cinta kepada pemeluknya, tetapi cinta itu sendiri tak
punya agama—karena cinta adalah tujuan dari setiap agama. Menurut saya,
kedudukan cinta itu di atas agama. Agama adalah jalan, cinta adalah tujuan yang
hendak dicapai oleh jalan itu. Bagaimana bisa tujuan lebih rendah tingkatannya
daripada jalan yang menuju kepada-Nya?
Maka, jika engkau mengaku sebagai orang yang beragama namun belum mampu merasakan cinta dan melihat cinta di mana-mana, engkau patut memperbaiki caramu beragama. Dan jika engkau mengaku sebagai orang yang beragama namun senantiasa masih menyebarkan kebencian dan permusuhan, memandang orang lain yang tidaki segama denganmu lebih rendah derajanya darimu, maka beragamamu sia-sia belaka. Karena Tuhan adalah Cinta!
Terima kasih, Singaraja. Kau telah menjadi guru yang baik. [T]