“Lalu apa yang saya dapat setelah melepas tukik ke laut?”
___
Suatu hari di perjalanan pulang dari
selatan menuju utara, dari pantai Samas, Yogyakarta, menuju Kalasan, pertanyaan
itu selalu muncul dalam pikiran saya. Sebuah pertanyaan yang muncul setelah
seharian mengikuti kegiatan pelepasliaran tukik ke laut. Perjalanan pulang
malam ini, saya coba melamun dan berkhayal dengan pikiran saya.
Bertahan di tanah rantau pada
masa libur begini, sepertinya cukup membuat saya mudah terhasut. Beberapa kali
guru dan teman-teman menghasut untuk ikut-ikutan main dalam konservasi penyu di
pantai Samas, Yogyakarta.
Diawali oleh hasutan inilah saya
berkenalan dengan komunitas reiSPIRASI. Mengutip dari reispirasi.wordpress.com, reiSPIRASI merupakan komunitas dengan
berbagai aktivitas pengenalan dan explorasi alam yang meletakkan alam sebagai
sumber inspirasi dan napas dasar dalam setiap kegiatannya.
Dalam kurun bulan Juni hingga
Juli, reiSPIRASI telah mengadakan dua kegiatan pelepasliaran tukik. Pada bulan
Juni lalu, reiSPIRASI mengadakan acara dengan tema Tunggak Beranjak, Sebuah Doa, Awal yang Akan Terus Beranak Pinak. Sedangkan
pada hari Minggu, 7 Juli lalu memilih Karsa
: Daya untuk Melakukan Kehendak sebagai tema kegiatan.
Saya menghadiri kedua kegiatan
tersebut. Maklum, sebagai seorang mahasiswa semester delapan seperti saya,
sepertinya sedang membutuhkan hiburan untuk mengalihkan perhatian dari skripsi.
Hal yang paling mencolok dari kedua kegiatan tersebut adalah jumlah peserta
yang terlibat.
Pada kegiatan Karsa, jumlah peserta jauh lebih sedikit
dibandingkan dengan kegiatan pertama. Perbedaan harga tiket masuk kegiatan
sepertinya menjadi alasan utama. Bukan tanpa alasan, sebagai komunitas
konservasi yang mandiri, reiSPIRASI mencoba kembali mengingatkan siapa saja
bahwa kegiatan konservasi bukanlah hal yang murah.
Deny Widyanto, founding father reiSPIRASI, berkali-kali
menjelaskan bahwa kegiatan penangkaran terhadap penyu masih bukan menjadi hal
yang penting bagi beberapa orang. Bima Chrisanto, seorang mahasiswa yang
terlibat aktif di reiSPIRASI, juga menambahkan bahwa biaya konsumsi anggota,
pembelian pupuk kandang untuk perawatan pandan laut, hingga biaya apresiasi
bagi warga yang menemukan telur penyu menjadi biaya rutin pengeluaran
reiSPIRASI. Hal-hal semacam ini tentulah tidak diketahui oleh orang-orang
seperti saya jika saja tidak mencari tahu atau terlibat di dalamnya.
Dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan, saya belajar banyak tentang hal-hal apa saja yang terjadi semasa menangkar telur penyu hingga menjadi tukik. Berjaga semalaman ketika penyu bertelur. Memindahkan telur ke tempat penangkaran. Kegiatan pemindahan ini adalah salah satu upaya dalam menghentikan perburuan dan penjualan telur penyu oleh beberapa oknum. Telur-telur yang menetas di dalam penangkaran selanjutnya dirawat dalam akuarium sebelum akhirnya dilepaskan.
Komunitas reiSPIRASI
Bukan hanya itu, bersama reiSPIRASI saya juga ikut dalam penanaman pandan laut yang memiliki fungsi sebagai “rumah” bagi penyu yang ingin bertelur. Belajar tentang kemandirian reiSPIRASI tanpa bergantung pada lembaga konservasi sumber daya alam milik pemerintah. Atau belajar dari hal yang paling sederhana bahwa penyu merupakan salah satu makhluk purba dan gemar memakan ubur-ubur!
Jika melihat ke belakang,
sepanjang bulan Juni lalu, populasi ubur-ubur di pantai Parangtritis meningkat.
Sebuah artikel di media online mengatakan bahwa 106 pengunjung tersengat
ubur-ubur di pantai Parangtritis. Bahkan sumber lain ada yang mengatakan korban
sengatan ubur-ubur mencapai angka 200 orang!
Pada sesi diskusi, Deny menjelaskan
masa dewasa tukik sekitar 30-40 tahun. Umur tersebut adalah hal yang normal
mengingat penyu mampu hidup hingga 100 tahun. Pada masa dewasa inilah penyu akan
kembali datang ke pantai dan bertelur. Umumnya penyu akan bertelur pada malam
hari atau dini hari.
Hal yang cukup mengejutkan saya
adalah sebuah pernyataan tentang tingkat keberhasilan hidup seekor penyu.
Selain dari teman-teman di reiSPIRASI, beberapa artikel juga mengatakan hal
yang sama, bahwa dari 1000 tukik yang dilepaskan, hanya akan ada 1 tukik yang
mampu bertahan hidup hingga dewasa.
Bayangkan saja, saya baru melepaskan
tiga tukik dengan kedua tangan saya. Ini sungguh sebuah angka keberhasilan yang
sangat rendah jika harus berpedoman pada perbandingan 1:1000. Bahkan hampir
mustahil! Namun sebaik-baiknya hidup adalah merawat harapan; semua makhluk
hidup (manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan) memiliki kesempatan yang sama
untuk hidup.
Pertanyaan apa yang saya dapat setelah melepas tukik ke laut sepertinya mampu
mewakili beberapa orang seperti saya. Katakanlah saya, seorang perantau yang
menghuni rumah kontrakan dengan jarak 40km dari pantai Samas. Tentu penanaman
pandan laut dan pelepasan tukik tidak akan saya rasakan dari rumah saya.
Dengan pertanyaan semacam itu,
tentulah saya terlalu naif jika mengharapkan keuntungan yang instan usai
melepaskan tukik ke laut. Egosentris semacam ini harus saya singkirkan untuk
menemukan jawabannya.
Saya coba mengingat dan merangkai
beberapa hal. Pertama, terkait penanaman pandan laut. Pandan laut tidak hanya
berfungsi sebagai tempat penyu bertelur, tapi juga sebagai pemecah ombak dan
pencegah abrasi laut. Mungkin saja,
pandan laut yang baru saja ditanam ini kelak mampu membawa dampak positif bagi
masyarakat pantai Samas dan ekosistem penyu.
Kedua, kehadiran penyu mampu
menjadi predator dalam mengatasi melunjaknya populasi ubur-ubur yang
berlebihan. Ubur-ubur adalah makan favorit dari penyu. Mungkin saja, jika populasi ubur-ubur menurun, maka bisa jadi kasus
musiman pengunjung pantai tersengat akan ubur-ubur berkurang.
Ketiga, terlibat dalam setiap
kegiatan yang diadakan reiSPIRASI adalah bentuk lain dari wujud mendukung keberlangsungan
komunitas ini untuk tetap bertahan secara moral maupun moril. Sebuah apresiasi
yang tidak bernilai atas tenaga dan waktu yang mereka korbankan bolak-balik
dari kota menuju pantai Samas. Mungkin
saja, jika reiSPIRASI berumur panjang, edukasi tentang tukik dan penyu akan
tetap tersampaikan.
Mungkin masih banyak manfaat yang
seharusnya bisa saya sadari atau temukan kelak. Jika saya boleh menaruh mimpi
di cangkang penyu, maka saya akan bermimpi tentang tukik yang saya lepas
kemarin akan menyelamatkan anak-cucu, masyarakat pantai, para pengunjung, dan
makhluk hidup yang lain, sekalipun saya tidak berumur panjang. Hehehe
Masih dalam perjalanan pulang ke rumah dengan sedikit terkantuk, saya tutup segala khayalan ini dengan teriakan amin dalam hati. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...