Setahun sudah tidak menulis di Tatkala.co sehingga
saat bertemu dengan sang CEO di Festival Tepi Sawah saya ditodong langsung
untuk menulis lagi. Tulisan saya sebelumnya juga sama yakni terkait
tentang Festival Tepi Sawah tertanggal 19 September 2018.
Nah ini juga sama seperti tahun
sebelumnya sebuah catatan yang telat karena saya lebian gae hahahaha....
nah jangan close dulu, ikuti sampai akhir karena menulis ini
penuh perjuangan, saya menulis sambil edit vlog, wawancara narasumber dan
sembari menunggu jadwal siaran diradio dagang ubad.
Ok, jadi begini, Festival Tepi
Sawah (mih dawe gati), singkat saja ya pakai FTS heee..... FTS
ini berlangsung sudah tiga kali (2017, 2018 dan 2019 semoga terus berlanjut)
dan dua ini merupakan kali kedua saya mengikuti acara ini. Ini acara yang bagus
dan konsisten. Sejak awal saya mengetahui acara ini sebenarnya cukup antusias
dan saya amati bukan saja dari konsep namun pemilihan tallent juga sing
maen-mae cae..... di sini, anda bisa belajar, menambah relasi hingga
makan sepuasnya.
Ok! Kita persempit pembahasan ya...
dari dua hari penyelenggaraan, hari pertama adalah yang paling seru dimana
siang hari sekitar pukul 14.00 wita ada pementasan wayang lemah dan
malamnya sekitar pukul 22.00 wita ada tribute to Koesplus.
Ini bukan wayang sekedar wayang,
dalangnya bernama Narend atau lengkapnya bernama Putu Adhyaksa Narendra Krishna
ia tampil di area Batan kayu. Dia ini baru berusia 7 tahun dan mulai kenal sama
seni khususnya pedalangan sejak usianya 1,5 tahun. Tampil hampir 30 menit
kurang lebih, Narend cukup lihai tampaknya membawakan cerita Palguna
Wana Kerthi yang artinya menjaga dan melestarikan lingkungan.
Meski terbata-bata dan tampak sedikit
gerogi, anak pertama dari dua bersaudara ini mampu menyelesaikan cerita
tersebut dengan lancar. Penonton tersenyum dan memberikan tepuk tangan usai
pementasan.
Narend anak yang keren menurut saya,
dia bisa hafal dengan bahasa sansekerta dan menerjemahkannya kedalam bahasa
Bali serta Indonesia (video nyusul ya masih edit dan cari internet dulu
hahahahaha... ) cerita yang dibawakan snagat sederhana tapi tidak semua anak
terlebih orang dewasa mampu seperti Narend, kata sang ayah, Gygox, anaknya itu
sih ada keturunan dari sang leluhur yang memang seorang dalang. “Ya! Saya coba
tanya orang yang mengerti terkait hal itu, katanya sih leluhurnya,”jawab
vocalis band Parau ini.
Narend sudah tampil diberbagai acara
dan dia pun cukup sering diundang untuk tampil di televisi lokal atau pun
nasional terkait kelihaiyannya dalam memainkan wayang Bali. Narend mengaku
senang menjadi dalang, bahkan ia bercita-cinta menjadi seorang dalang.
Narend sejatinya sama selayaknya anak kecil seumurannya yang suka main hp atau menangis sat keinginannya tidak dipenuhi (orang dewasa juga ada kok kek gini hahaha) ia hanya menerima tawaran memainkan wayang yang ia sukai. “jadi pernah saya terima saja dan dia tak mau main atau dia mau main tapi tak maksimal. Akhirnya setelah kejadian itu saya lakukan pendekatan sebelum menerima tawaran untuknya,”ucap sang ibu Dani Melisa.
Teruslah berkesenian khususnya traditional ya Narend agar tidak punah kesenian Bali khususnya seni pedalangan.
Tonton aksi Narend di link ini:
Nah setelah mebalih wayang, malamnya lanjut nonton musik yakni tribute to Koesplus yang dilakukan oleh all artis. Ini keren! Mereka membawakan dengan penuh penghayatan meski tampak jeas dibeberapa lagu terdengar sumbang dan seperti tak nyambung antara pemain dan penyanyi, tak tau apakah ini perasan saya karena minuman atau memang begitu adanya.
Mereka ini membawakan sekitar sembilan lagu seperti 1. Bunga Di Tepi Jalan, 2. Kembali Ke Jakarta, 3. Kolam Susu, 4. Ku Jemu, 5. Oh Kasihku, 6. Tul Jaenak Jaeji, 7. Bujangan, 8. Cubit Cubitan dan 9. Kapan Kapa. Ini tampak apik dan saya sendiri seperti bernostalgia ke era masih kecil dimana bpk saya selalu memutarkan lagu ini setiap pagi dan sepulang kerja dari sawah.
BACA JUGA:
Seharusnya dalam setiap penampilan musik apalagi festival penyelenggara tak usah menyediakan kursi terlalu banyak karena lebih asik lesehan dan/atau joget ini lebih seru kecuali acara musik resmi semacam intimite concert atau sejenisnya. Lah... ini lho musik Koesplus yang musiknya paling enak untuk joget masak penontonnya duduk manis dikursi ? hahahahahaha......
Tapi, banyak juga penonton yang
berjoget dan larut dalam irama musik Koesplus yang berlangsung di Uma Stage.
Secara keseluruhan FTS ini mengajarkan kita bagaimana manusia seharusnya
menyadari dan mulai bertindak ramah terhadap lingkungan. Festival ini
mendekatkan kita kepada lingkungan yang saat ini menurut data dan risert
lingkungan mulai rusak karena sampah dan polusi.
Uma Satage sebagai panggung utama
tampil berbeda jika dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun ini panggung utama
tidak lagi berlatar indahnya sawah hikzz.....
Okelah, demikian dulu tulisan saya
sebab saatnya saya siaran semoga next bisa saya nulis lagi ya, hahahaha....
semoga bermanfaat dan berfaedah. [T]