- Judul : Kereta Tidur
- Penulis : Avianti Armand
- Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
- Tebal : 152 halaman
- Tahun : Juni 2018
***
Sebagian manusia memiliki
keterbatasan dalam memahami apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Tak sedikit
yang menjadi korban dari ketidakmampuan mengatasi konflik batin dan pada
akhirnya memicu melakukan tindakan-tindakan di luar nalar.
Hidup itu haruslah ideal,
baik-baik saja, tak perlu ada kegagalan, tak boleh ada kecewa. Siapa yang tak
ingin semua ini? Tapi pada kenyataannya hidup itu dinamis. Beberapa hal
tersebut penyebab manusia selalu memelihara rasa takut. Terlebih hal ini akan
terjadi pada orang yang dalam hidupnya selalu ada pada zona nyaman.
Avianti Armand mencoba
mengusik pembaca dengan hal-hal unik seperti konflik cinta; ketidakharmonisan
keluarga; beberapa pertanyaan atas eksistensi manusia. Dalam bukunya, ia
menyajikan kumpulan cerpen dengan alur cerita yang tak terduga-duga.
Judul buku kumpulan cerita “Kereta Tidur” diangkat dari salah satu cerpen dari lima
belas cerita di dalamnya. Saya
mencoba lebih awal menebak sejumlah cerpen di dalam buku ini pasti berkisah
tentang sebuah petualangan atau mungkin saja perjalanan hidup seseorang. Dan
ternyata di luar ekspektasi, pada cerpen “Kereta Tidur”,
Avianti Armand—sebagai penulis buku ini—jauh menceritakan tentang petualangan
batin dua manusia, bagaimana mereka menjaga rasa pada sebuah relationship yang tak wajar.
“Kita
akan lupa,” Naomi mengeluh, sedikit sedih sedikit khawatir, meski tak bisa
berbuat lagi. Mereka memang harus cukup puas dengan memori yang melekat pada
benda-benda kecil.
“Kelak,”
ujar lelaki itu yakin, “kita akan punya tempat untuk memajangnya. Ketika bulan
lega dan segaris oranye di kaki langit.” (Kereta Tidur: 101)
Manusia—mungkin saja
diantaranya saya, kamu, atau kalian—terlalu sibuk menciptakan kenangan-kenangan
dalam setiap tipak perjalanan hidup, tetapi kita sering lupa menjaganya. Dalam
cerpen ini, Avianti begitu jelas memotret tentang cerita yang bertolak belakang
dengan kehidupan ideal atau kisah cinta yang wajar. Tentang sebuah perasaan
sayang pada orang dan waktu yang tidak tepat, namun tak pernah ada kata korban
atau dikorbankan.
Avianti berusaha menegaskan
pada cerita ini bahwa bahagia itu begitu sederhana, sesederhana Naomi
(tokoh dalam cerita) menamai diri mereka: pengumpul
“souvenir”- hal-hal kecil yang mampir sejenak, mengikat dia, lelaki itu, dan
tempat-tempat. Seperti subuh ini, kamar ini, surat kabar
kemarin, genggaman tangan di bawah bantal, remah keringat pada selimut, rambut
kusut, senyum mengantuk, kopi asam yang tak pernah habis, dan cangkir biru laut
yang menyisakan asap.
Namun, saya sangat yakin,
jika salah satu dari kita membaca cerpen ini lalu menarik pada pemahaman agama,
tentu kita akan memicingkan mata berusaha mencari di mana letak kebenaran dalam
hubungan terlarang antara Naomi dan lelakinya.
Tidak jarang antara agama dan sastra memunculkan
pertentangan esensial, namun sering pula keduanya menunjukkan satu kesamaan
perspektif. Begitu pula beberapa cerita pada buku ini. Kita lihat saja
bagaimana tokoh dalam cerpen berjudul Matahari begitu sibuk mempertanyakan
tentang Tuhan pada kekasihnya: ”Bagaimana kita tahu bahwa Tuhan bukanlah
matahari?”
Atau pada cerita berjudul Ayah yang mengisahkan lelaki
tua yang selalu memberikan ciuman pada malaikat kecilnya dengan meninggalkan
perih dan bekas yang semakin membuat ia meringis kesakitan,” Kamu seorang
perempuan sekarang, ujarmu, dulu kamu adalah malaikat. Aku lebih suka disebut
bejat. Sebab kini kita telah bercinta, di batas antara tanah dan air, di bawah
ribuan bintang dan sapuan ombak, walau aku tahu itu tabu.” (Kereta Tidur:
110).
Inilah kenapa kita tidak selamanya bisa memperdebatkan
karya sastra dengan dalil agama yang hakikatnya selalu mempunyai
batasan-batasan yang mengikat, sedangkan jelas sekali berbeda
dengan hakikat sastra sebagai sesuatu yang lentur dan tidak terikat. Istilah chatarsis yang dikemukakan oleh Aristoteles menandakan
bahwa sastra adalah pembebasan atas jiwa, pembebasan atas apa yang terikat,
karena itu pula, dalam dunia sastra dikenal istilah licensia
poetica, yakni kebebasan atau hak dan wewenang seorang sastrawan
dalam berkarya. Pada tataran itulah sastra dan agama menjadi dua entitas yang
kontradiktif.
Dalam buku ini, kalian juga
akan temui sebuah cerpen yang paling pendek diantara cerpen lainnya: Pelajaran Terbang, cerita sebuah pertentangan batin
manusia, antara mimpi dan realita, juga segala konsekuensinya. Avianti mengawali
cerita dengan membenturkan manusia pada ketakutan-ketakutan yang seringkali
menghentikan kita pada perbatasan. Antara rasa takut dan berani, waras dan
gila.
“Kamu
takut, tapi juga bergairah. Kamu akan sedih karena keterbatasanmu, tapi juga
sadar, bahwa ini hanyalah soal pilihan. Pulang – tanpa pernah mencoba – dengan
utuh dan selamat, atau sekali saja, hanya sekali saja sebelum mati, kamu
merasakan terbang. Kamu mungkin mati, mungkin juga tidak.” (Kereta
Tidur: 121)
Manusia tidak bisa
menghindari perasaan takut, bahkan pada titik tertentu manusia berusaha
menyelamatkan dirinya dari rasa takut dengan cara yang terkadang diluar dari
prediksi kita. Misalkan saja sebuah kasus, seorang manusia yang ingin menangis,
berteriak tapi takut dianggap gila, atau manusia
yang ingin mati tapi takut bunuh diri, atau
manusia petualang yang setelah melampiaskan birahinya, menghilang karena takut akan kehancuran karir dan nama baiknya.
Memutuskan memilih zona aman adalah salah satu reaksi yang bisa dilakukan untuk
merespon kasus-kasus tersebut.
Dalam cerpen ini, Avianti
berhasil menarasikan dengan baik bagaimana manusia harus melawan dirinya sendiri. Ia memberi sebuah gambaran
bahwa hidup bukan hanya sekedar bagaimana kita
merangkul rasa sakit dan takut, melainkan bagaimana sebuah keberanian
menentukan pilihan mengakhiri rasa sakit dan takut dengan segala konsekuensi.
Hal ini nampak pada ending
cerita, di mana “aku” telah berhasil
menyelesaikan pemberontakan dalam batinnya,”jika aku bisa
terbang, maka aku akan melayang di udara seperti elang. Jika Tidak, aku cukup
bahagia untuk jatuh.” (Kereta Tidur: 122)
Buku
tentang sebuah perjuangan
Buku kumpulan cerita Kereta Tidur adalah sebuah gambaran realita
hidup di sekitar kita yang bisa dialami oleh siapa saja. Kisah tentang
perjuangan baik dalam kewajaran maupun ketidakwajaran. Perjuangan bagaimana
mencintai, mendapatkan cinta, menunggu, meninggalkan, menjaga kenangan, melawan
rasa takut, bahkan perjuangan meyakini sesuatu yang tidak semua orang mampu
paham.
Apakah perlu membaca semua
cerpen dalam buku ini setelah apa yang saya tulis?
Tentu, setidaknya kita akan tahu betapa hidup itu tak hanya putih atau hitam, dan sedikit belajar bertanggung jawab atas rasa yang sudah kita bangun. Lebih dari itu, yang sangat menarik dari buku Kereta Tidur, sebuah cerita penutup yang mengajarkan betapa sebuah keyakinan itu dibutuhkan dalam setiap relasi.
Pembaca bisa melihat begitu kuat keyakinan tokoh pada cerpen: “Tak Ada yang Lebih Tepat Berada di Sini Selain Kamu.” dalam mencari cintanya. Ia menulis sebuah pesan dalam botol: “Aku akan mencarimu, sampai kau hilang lagi.” [T]