Pasien terakhir sore itu cukup lama menyita
waktu praktek saya. Dia adik teman SMP saya. Kami berbincang lama, tentang
kabar si kakak, kesehatan bapak ibunya di rumah dan teman teman sepermainan masa kecil saya yang lain.
Saat pamit, dia menyalami saya, “Selamat
berlibur, Pak
Dokter, Lebaran kan dapat libur panjang? Pak dokter pulang kampung? Oya, Pak Dokter kampungnya di mana ?”
Saya
terhenyak sesaat. Dan saya lupa apa jawaban saya waktu itu. Ingatan saya
terlempar ke beberapa puluh tahun yang lalu. Saat saya pulang ke Tabanan
mengisi waktu liburan bersama keluarga.
Bersama sepupu di Tabanan kami
bermain ke sawah, sensasi yang
memang tak kami temui di gunung. Kami bercengkerama dengan ceria sepanjang
pematang.
Saat melewati seorang bapak petani, beliau
bertanya dengan nada serius, “ Kenapa lain sekali bicaranya, Gus dari Buleleng, ya?”
Tabanan, Buleleng, dari manakah asal saya yang
sebenarnya?
Teringat tulisan Seno Gumiro Ajidarma dalam
sebuah cerpennya. “Darimanakah asalnya kenangan? terbuat dari bahan apakah dia?”
Kenangan masa lalu saya terserak di banyak
tempat. Kedua orang tua dari Desa Pandak Gede, Tabanan, yang sejak masa kakek
dan nenek saya dulu sudah mulai merantau ke gunung di pelosok Buleleng ini.
Saya sendiri lahir dan dibesarkan di Dapdap putih. Menghabiskan masa kanak
kanak dan remaja di desa ini, menikmati masa masa sekolah di sini.
Dan saat sudah mulai membina sebuah keluarga,
karena istri yang orang Jembrana dan bekerja di kantor Pemda Jembrana,
‘terpaksa’ memilih berdomisili di kota Negara atau dengan slengean bisa disebut
kota Negaroa.
Jadi, kalau ada yang bertanya, Pak Dokter aslinya orang
apa? Mungkin dengan sedikit sigug,
saya akan jawab tegas. “Saya orang Bali, susah nyari orang seperti saya, orang tua Tabanan,
lahir besar di Buleleng, keluarga tinggal di Jembrana.“ Terserah bagaimana reaksi yang bertanya.
Untuk perpindahan masyarakat ke tempat yang
lain, kita mengenal beberapa istilah. Migrasi untuk yang pindah negara,
transmigrasi untuk yang berbeda pulau, dan urbanisasi untuk yang pindah dari
desa ke kota. Jadi untuk keluarga saya yang pindahnya dari satu desa ke
desa lain berbeda kabupaten tapi masih satu pulau, barangkali belum ada istilah
khusus yang diberikan.
Khusus untuk perantau dari daerah saya, dari Pandak, ada satu
adagium khas yang sepertinya sampai sekarang masih terngiang sayup-sayup di
ingatan masyarakat Bali sebagian. “Dasar orang
Pandak, Cine Bali”
Saya sendiri entah mengapa, merasakan situasi
kami sepertinya gambaran yang lebih sederhana dari saudara-saudara
kita etnis Tionghoa tersebut. Biasanya tetua kami akan memilih lokasi di pusat
keramaian, mencari nafkah di bidang perdagangan. Dan yang membedakan adalah
warna kulit kami, keyakinan masih sama dengan orang Bali kebanyakan, dan ada
nama ketut kadek di depan nama kami.
Dan karena merasa senasib itu, tak salah
sampai saat ini saya tetap menjalin kontak dengan sahabat sahabat Tionghoa saya
sejak SMA di Singaraja dulu. Dan kalau sesuatu yang kejam terjadi pada mereka,
seperti pada saat peristiwa 98 itu. Saya merasakan kepedihan yang mendalam
sebagai sesama anak bangsa, dengan takdir yang berbeda tipis di antara kami.
Keluarga saya sendiri mendiami sebuah kompleks
pasar baru yang dibangun saat mulai berdirinya rezim orde baru. Sepetak lahan
datar yang dibuatkan beberapa loss yang menyambung jadi satu di atas punggung
bukit di daerah atas Busungbiu.
Tanpa menafikan kenangan yang lain dalam babakan kehidupan
saya yang hampir mencapai setengah abad ini. Saya mengingat saat kanak-kanak saya di sini sebagai kenangan
terindah yang tak terlupakan seumur hidup saya. Saya sekolah di sebuah SD
Inpres yang baru dibangun, kami berjalan sejauh 4 kilometer pulang pergi setiap
hari selama 6 tahun.
Dan saya ingat kami anak-anak kompleks pasar
pasti jadi yang pertama sampai di sekolah. Saya begitu menikmati masa
masa SD tersebut. Saat jam sekolah pendek, atau di hari libur saya dan teman
teman akan pergi ke sebuah tibuan
untuk berenang sampai sore, bahkan tanpa makan siang selepas sekolah.
Kebetulan saya dan saudara-saudara mendapat
nilai bagus dan ranking yang baik di sekolah. Jadi setiap malam rumah kami
pasti penuh dengan teman teman sebaya, yang’katanya’ belajar
bersama di rumah kami. Tapi waktu lebih banyak kami habiskan dengan bercanda,
layaknya anak anak semuran kami. Dan saya tak bisa lupa, hampir tak pernah
tidur sendiri saat saat itu. Minimal ada empat sampai enam kawan sebaya yang
menginap di tempat kami. Bahkan ada satu teman yang bertahun tahun tak pernah
tidur di rumahnya sendiri, karena nginepin saya.
Dan karena saya pecinta olahraga yang cukup
fanatik, bahkan sampai saat ini. Kenangan terindah saya ada di lapangan hijau (coklat
di tempat saya karena tak ada rumputnya, bahkan becek di musim penghujan).
Setiap sore, terutama saat masa liburan dimana teman-teman yang sekolah di
kota pasti pulang kampung. Pasti ada pertandingan seru di lapangan sebelah SMA TP 45 yang
legendaris itu.
“Ayo
kompleks pasar lawan banjar kledok ! “ begitu seruan terdengar di sore yang
dingin itu. Bahkan dalam entitas terkecil pun, emosi lokalitas tak terhindarkan.
“Ayooo”, jawab yang lain tanpa gentar.
Dan sore
itu, di ketinggian 700 meter diatas permukaan laut, di lapangan yang tak
berumput, kami seperti tak kenal lelah mengejar si kulit bundar, sampai tetes
keringat terakhir demi membela nama kompleks pasar, tempat tinggal kami. Semangatnya
bisa saya rasakan sampai detik ini, sebuah fanatisme tak berujung, yang tak
rela tempat kelahiran ternistakan.
Benar benar
kenangan yang sulit terlupakan, bagi saya pasti. Juga bagi teman-teman yang
terlibat dalam permainan itu. Sering ada celetukan di media sosial. “Kapan kita
main di lapangan Parikesit lagi? “ Yang sayangnya sekarang sudah berubah
menjadi tempat parkir kendaraan siswa SMP.
Tapi tetap
ada setitik retak, dalam sebuah bangunan yang seindah apapupun. Ada yang terasa
hilang atau kurang dalam kenangan tersebut. Lokasi perantauan yang tanggung (tempat
asal saya bisa ditempuh dalam waktu yang kurang lebih sama dengan ke kota
kabupaten) membuat keluarga kami tak bisa berbaur seutuhnya dengan tempat dan
masyarakat tempat kami merantau.
Dalam
konteks kegiatan adat, kami menjalaninya setengah hati, dalam artian kami masuk
menjadi warga desa adat di gunung, tetapi status kami d tempat asal juga tak
lepas seluruhnya. Ada istilah ngampel
untuk perantau seperti kami. Itu secara status, secara praktek pun, kami cukup
berbeda dengan perantau-perantau dari daerah lain di Bali.
Untuk
diketahui, desa saya temasuk daerah baru, sebuah hutan yang dibuka penjajah
Belanda di awal abad ke 20 ini. Masyarakatnya berasal dari berbagai daerah di Bali.
Bahkan ada banjar tetangga yang penduduknya berasal dari seluruh kabupaten di
Bali. Mereka karena jumlahnya banyak kepala keluarga, dan tempat asalnya lebih
jauh dibandingkan kami. Memutuskan bergabung secara utuh dengan masyarakat
disana, baik secara kedinasan maupun adat.
Jadi masa
kecil sampai remaja kami, tak diisi dengan kegiatan metulungan saat ada tetangga nelubulanin,
nikah ataupun sekedar melaspas rumah
atau tempat suci. Karena kami sendiri melaksanakan semua kegiatan itu di tempat
asal. Jadi sesuai hukum timbal balik (selisihan
dalam bahasa Bali), kurang begitu banyak kami terlibat dalam kegiatan adat
di tempat rantauan kami tersebut. Walaupun secara nyata saya sendiri kelahiran
disana.
Akhirnya
mungkin kita perlu mendengar kembali ucapan bijak presiden John F Kennedy,
presiden Amerika yang termasyur itu : ” Jangan tanya apa yang diberikan negara
kepadamu, tapi tanyalah apa yg bisa kau berikan kepada negaramu?” Dalam konteks
ini saya menemukan pembelaan untuk situasi yang saya alami.
Terlepas
dari saya yang cuma lahir disini, tapi berasal dari tempat lain. Saya ingin
memberikan sesuatu yang berguna, berperan serta untuk kemajuan desa tempat saya
lahir dan dibesarkan, tempat teman teman masa kecil saya, tempat keluarga kami
mendapatkan rejeki selama tiga generasi. Dan dengan saya berpraktek disini, saya merasa sedikit bisa
membayar hutang kami tersebut.
Bahkan
biasanya saya tak keberatan kalau diminta memeriksa pasien yang tak bisa datang
ke tempat praktek, di rumahnya sendiri
Tapi itupun sebenarnya masih bisa diperdebatkan, karena saya juga
menarik jasa dari mereka untuk pelayanan saya. Sehingga saya punya satu impian
yang saya pendam dari dulu, dan saya rasa mampu untuk mewujudkannnya. Meningkatkan
kegemaran membaca generasi penerus kita, di zaman digital ini. Terutama anak
anak dan remaja di desa saya dan sekitarnya.
Dan obsesi saya
itu saya coba rintis dengan program Buleleng
Berbagi Buku, yang mungkin nanti akan saya bahas dalam tulisan menyendiri.
Setelah
merenung cukup lama, mengenang kembali dan terutama setelah menulis cerita ini.
Kalau nanti siapapun yang bertanya : ”Bapak kampungnya di mana”? Maka jawaban
saya sudah pasti, seperti sebuah status saya di akun FB yang disukai lebih dari
seratus orang. Dengan bangga akan saya jawab: “Saya dari Dapdap Putih “. [T]