Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Mendengar kata kelor, sepintas yang ada di pikiran pastilah sayur. Atau orang Bali menyebut Jukut Kelor. Rasanya enak. Apalagi dicampur santan dan kacang merah. Ditemani sambal terasi. Disajikan dengan nasi hangat. Waahhh,,,surga!
Tanaman kelor biasanya banyak dijumpai di kebun-kebun. Bisa juga ditemukan di pinggir jalan. Karena memang tanaman kelor bisa tumbuh di mana saja. Mandiri sekali ya si kelor ini. Hehehe.
Selain hanya sebagai bahan makanan dan bisa dikonsumsi, konon tanaman kelor juga berkhasiat sebagai alat penangkal ilmu hitam atau roh-roh jahat. Mungkin dari kita pernah mendengar ada makhluk gaib yang disebut Buto Ijo/Kolor Ijo atau apalah itu sebutannya. Nah, untuk menangkal roh tersebut masuk ke dalam rumah kita, kelor-lah alatnya.

Kelor dipercaya dapat mencegah atau mengusir roh itu mendekati rumah kita. Tanaman kelor cukup disematkan di atas pintu masuk dengan diberi mantra-mantra tertentu. Di sebagian kalangan masyarakat Jawa, kelor sering digunakan sebagai campuran air untuk memandikan jenazah.
Kelor juga dapat digunakan sebagai penangkal guna-guna dan ilmu hitam lainnya. Caranya cukup dengan mengibas-ngibaskan setangkai daun kelor ke bagian muka korban. Atau air rendaman kelor disiramkan ke sekujur tubuhnya.
Percaya atau tidak, periksa sendiri. Boleh juga dicoba.
Tapi, jangan bantah, tanaman kelor adalah tanaman yang banyak khasiatnya. Tanaman dengan nama latin Moringa Oleifera ini merupakan tanaman tahunan yang biasa disebut sebagai Miracle Tree atau Pohon Ajaib, karena kandungan gizi dan khasiatnya yang sangat luar biasa.
Dulu tanaman ini dipercaya untuk pengobatan penyakit atau sesuatu yang berhubungan dengan hal mistis, tapi sekarang sudah mulai banyak masyarakat yang mengkonsumsinya dalam kehidupan sehari-hari. Sebenarnya sudah dari dulu, tapi sekarang lebih sering.
Tanaman ini sangat bermanfaat bagi kesehatan, mulai dari akarnya, batang, bunga, buah hingga daunnya. Nutrisi terbanyak terdapat pada daun kelor.
Berbicara mengenai bisnis, Pohon kelor yang sering dijumpai diperkebunan atau di beberapa tempat kini bisa dikembangkan menjadi objek agribisnis oleh masyarakat. Selain pembibitannya mudah, tanaman kelor juga mudah dibudidayakan, tidak diperlukan masukan sarana produksi kimia, tidak boros air, cepat panen, bisa dipanen harian/mingguan, pasar terjamin, harga yang menguntungkan, ramah lingkungan serta produknya dapat digunakan sebagai bahan baku untuk diolah menjadi produk lain yang dibutuhkan pasar.
Laklak Kelor
Selain dikembangkan menjadi agribisnis bagi petani, kelor juga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan yang tak kalah nikmat. Contohnya seperti Jaja Laklak yang terbuat dari kelor. Jaja Laklak ini dapat dijumpai di Banjar Dinas Bajangan, Desa Dencarik Kecamatan Banjar. Enak dan murah. Cukup Rp. 5.000,- saja, sudah dapat 6 buah laklak dalam satu porsi.

Lokasinya sangat gampang untuk dicari. Jika sudah menjumpai perempatan Desa Dencarik, ambil haluan menuju ke utara. Lurus saja pasti ketemu. Lokasinya di pinggir jalan dengan nama Angkringan Moringa.
Oke, mari kita membahas Jaja Laklak dulu.
Jaja Laklak dari kelor ini warnanya hujai. Karena terbuat dari kelor dan dicampur sedikit dengan ekstrak daun suji (don kayu sugih). Bahan-bahannya sangat mudah. Ada tepung kelor, tepung beras, air hangat, air kapur, ekstrak daun suji, garam, daun pandan harum.
Semua bahan dicampur rata dengan cara diuleni dengan mencampurkan 500 gram tepung beras dan 100 gram tepung kelor. Masukkan air sedikit demi sedikit sampai membentuk adonan sedikit padat, lalu campukan ektrak daun suji sedikit demi sedikit kemudian kembali diuleni sampai membentuk adonan kental. Jangan lupa campurkan garam dan air kapur agar Jaja Laklak lebih gurih (nyangluh).

Setelah selesai, adonan lalu dimasukkan kedalam cetakan yang sudah dipanaskan dan diolesi minyak. Cukup pakai api kecil saja supaya Jaja Laklak matang sempurna. Untuk mendapatkan hasilyang enak, jaja laklak sebaiknya dimasak menggunakan tungku dan kayu bakar. Boleh saja menggunakan kompor bila tidak ada kayu bakar, tapi hasilnya tidak senikmat menggunakan kayu bakar.
Perlahan adonan dimasukkan ke dalam cetakan yang berbentuk bulat-bulat lalu ditutup. Tunggu sekitar 5 menit, jaja laklak langsung diangkat dari cetakan tanpa terlalu puun atau gosong. Karena apapun yang berlebihan pasti tidak enak. Setelah itu, jaja laklak siap dinikmati dengan dicampur gula merah dan arutan kelapa. Sungguh nikmat. Apalagi ditemani kopi tubruk panas (bagi yang suka ngopi), sambil membaca koran. Lengkap sudah.
Manfaat Kelor
Selain sebagai lahan bisnis dan penangkal ilmu magis, tanaman kelor juga bermanfaat bagi kesehatan. Beberapa manfaat daun kelor untuk kulit antara lain mempercepat proses penyembuhan luka, mencegah infeksi, mengurangi radang jerawat, melembabkan kulit, memperlambat proses penuaan dini.

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan di Asia Pacific Journal Of Cancer Prevention, kelor mengandung campuran asam amino, fitonutrien karotenoid, antioksidan dan senyawa antibakterial yang saling bekerja sama dalam mencegah pertumbuhan sel abnormal penyebab kanker. Penyakit-penyakit seperti sariawan panas dalam, kesehatan otak, tiroid dan saraf dapat diatasi dengan daun kelor.
BACA JUGA:
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari DKBM (Daftar Komponen Bahan Makanan) Indonesia, daun Kelor atau Merunggai mengandung 82-92 kalori energi, 6,7 gram protein, 1,7 gram lemak, 14,3 gram karbohidrat, 440 mg kalsium, 70 mg fosfor, 7 mg zat besi, 11.300 IU vitamin A, 0,21 vitamin B dan 220 mg vitamin C serta 0,9 gram serat.
Bagaimana? Mau sehat, kaya dan terhindar dari hal-hal mistis? Mulailah menanam kelor. Sehat iya, kaya bisa, ilmu hitam lenyap (tapi tidak dijamin ya). Hehehe. [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...